
Kemajuan teknologi membuka jalan prestasi bagi remaja, tetapi juga menyimpan risiko serius bagi kesehatan mental mereka jika tanpa pendampingan nilai, iman, dan literasi digital.
Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah(PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.
Tagar.co – Di era digital, lahirlah satu generasi baru: remaja digital—anak-anak muda yang tumbuh bersama gawai, internet, dan media sosial sebagai bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka. Dunia mereka adalah dunia tanpa batas: informasi tersedia dalam hitungan detik, komunikasi berlangsung instan, dan ruang berekspresi terbuka sangat luas.
Baca juga: Dari Tauhid ke Kedaulatan Energi: Amanah Besar Peradaban
Namun, di balik peluang besar itu, tersembunyi pula risiko yang tak kecil. Teknologi dapat menjadi jalan menuju prestasi, tetapi juga berpotensi menyeret remaja pada kehancuran mental bila tak dikelola dengan bijak.
Prestasi: Wajah Terang Dunia Digital
Media digital menyediakan sumber belajar yang nyaris tak terbatas: kursus daring, jurnal ilmiah, video edukatif, hingga forum diskusi global. Remaja kini dapat belajar secara mandiri, mengembangkan nalar, dan memperluas wawasan tanpa menunggu ruang kelas formal.
Fenomena ini sejatinya sejalan dengan perintah Al-Qur’an untuk mengamati dan merenungkan alam semesta. Allah Swt berfirman:
قُلِ ٱنظُرُوا۟ مَاذَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ…
“Katakanlah: Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi…” (Yunus: 101)
Ayat ini menegaskan bahwa observasi dan perenungan merupakan jalan menuju keimanan dan kematangan berpikir—dua hal yang kini justru dipermudah oleh teknologi.
Kecerdasan Digital dan Literasi Data
Remaja digital cenderung adaptif terhadap teknologi baru, mampu melakukan banyak tugas sekaligus, dan berpikir kritis—asal dibekali literasi digital yang memadai. Dalam konteks ini, pesan Abdullah bin Mas’ud r.a. menjadi sangat relevan:
“Tidaklah engkau berbicara kepada suatu kaum dengan sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh akal mereka, kecuali akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka.” (HR. Muslim)
Maknanya, di era banjir informasi ini, setiap konten, data, dan narasi harus disampaikan secara rasional, terukur, dan bertanggung jawab agar tidak menyesatkan generasi muda.
Pengembangan Kreativitas dan Karier Masa Depan
Media digital juga menjadi panggung ekspresi kreativitas: menulis, desain grafis, video, musik, hingga kewirausahaan digital. Banyak remaja yang membangun karier dari ruang-ruang maya—sebuah peluang ekonomi yang sebelumnya tak pernah terbayangkan.
Allah Swt mengingatkan:
فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ
“Apabila salat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah…” (Al-Jumuah: 10)
Artinya, Islam tidak memisahkan spiritualitas dan produktivitas. Dunia digital pun dapat menjadi ladang ikhtiar jika dijalani dengan nilai dan etika.
Risiko Kehancuran Mental
Penggunaan gawai tanpa kendali dapat mengganggu pola tidur, konsentrasi, dan kestabilan emosi. Rasulullah Saw mengingatkan pentingnya menjaga ritme hidup:
“Nabi tidak menyukai tidur sebelum salat Isya dan tidak menyukai berbincang-bincang setelahnya.” (Bukhari dan Muslim)
Pesan ini menunjukkan bahwa keseimbangan waktu adalah kunci kesehatan jasmani dan rohani—sesuatu yang kini sering terganggu oleh layar ponsel.
Kecemasan, Depresi, dan Keletihan Psikologis
Paparan konten negatif, perbandingan sosial di media, dan tekanan eksistensi virtual meningkatkan risiko kecemasan dan depresi pada remaja. Allah Swt memberikan penawar spiritualnya:
هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ
“Dialah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin…” (Al-Fath: 4)
Ketenangan ini tumbuh dari iman, pengaturan waktu, dan kemampuan membagi perhatian antara dunia digital, dunia nyata, dan kehidupan spiritual.
Kesimpulan
Teknologi bukanlah musuh remaja—ia adalah alat. Yang menentukan hasilnya adalah bimbingan. Peran keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi sangat krusial dalam menanamkan literasi digital, etika bermedia, serta keseimbangan hidup.
Dengan pendampingan yang tepat, dunia digital dapat melahirkan generasi berprestasi, kreatif, dan berkarakter. Tanpa itu, ia dapat menjadi jalan sunyi menuju kelelahan mental dan kehampaan jiwa. Wallāhualam. (#)
Penyuning Mohammad Nurfatoni










