
Air adalah napas Banjarmasin. Dari sungai lahir peradaban, dari sungai pula tumbuh harapan. Tepat di usia ke-499, kota ini menatap ke arah Amsterdam, kota kanal yang berhasil menjadikan sungainya sebagai wajah dunia.
Oleh dr. Mohamad Isa
Tagar.co – Banjarmasin bukan sekadar kota di tepian sungai. Sejak 24 September 1526, ketika Pangeran Samudera dinobatkan sebagai Sultan Suriansyah dengan dukungan Kesultanan Demak, denyut nadi peradaban mulai berpusat di sini.
Kini, hampir lima abad kemudian, kota yang dijuluki Kota Seribu Sungai itu merayakan usia ke-499 dengan cerita panjang tentang air, budaya, dan kehidupan.
Tanggal 24 September 2025, Kota Banjarmasin genap berusia 499 tahun. Usia yang tergolong tua dalam perjalanan panjang peradaban kota ini.
Penetapan hari ulang tahun merujuk pada peristiwa penobatan Pangeran Samudera (Sultan Suriansyah) sebagai Raja Banjar sekaligus berdirinya Kesultanan Banjar.
Geografis Kota Banjarmasin
Secara geografis, Banjarmasin terletak di tepian Sungai Barito dan dilintasi oleh Sungai Martapura. Kota ini memiliki luas wilayah 98,46 km² dengan kontur tanah yang sebagian besar berupa rawa-rawa. Jumlah penduduk pada tahun 2024 tercatat 679.637 jiwa, dengan kepadatan 6.900 jiwa per km².
Kehidupan masyarakat sangat erat dengan sungai. Banyak bangunan berdiri di tepian aliran air, seakan mengukuhkan bahwa urat nadi kehidupan di kota ini berawal dan bertumpu pada sungai.
Tinggal di Banjarmasin
Tahun 1998, penulis mendapat surat penempatan di RSUD Ulin Banjarmasin sebagai dokter spesialis paru kedua di wilayah Kalsel–Teng. Dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, penulis menumpang Kapal Kumala dan setelah 20 jam perjalanan laut, tibalah di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
Kini, sudah 27 tahun penulis tinggal di kota ini—bekerja, berkarya, dan mengabdi sebagai dokter spesialis paru sekaligus pengajar di Fakultas Kedokteran ULM. Penulis juga pernah mengajar di UMB dan STIE.
Selama itu pula, penulis merasakan langsung segarnya air Sungai Martapura, menikmati aneka kuliner dan wadai khas Banjar, serta meresapi relung kehidupan masyarakat yang ramah hingga menjadikan Banjarmasin terasa indah dan nyaman.

Dinamika Kota Banjarmasin
Julukan Kota Seribu Sungai menggambarkan betapa sungai bukan sekadar bentang alam, melainkan pusat kehidupan, jalur transportasi, hingga sarana rekreasi. Namun, keberadaan sungai sekaligus membawa rahmat dan tantangan.
Beberapa tahun lalu, pemerintah mulai membangun siring di tepian Sungai Martapura. Lampu-lampu yang terpasang menambah semarak suasana malam, membuat sungai tampak rapi dan indah.
Sayangnya, masih ada masyarakat yang membuang sampah sembarangan ke sungai sehingga menimbulkan bau dan merusak pemandangan. Perlu kesadaran kolektif agar sungai tetap bersih dan berfungsi sebagaimana mestinya.
Kotaku
Kata kotaku mencerminkan rasa memiliki. Banjarmasin adalah milik setiap individu yang tinggal di dalamnya. Konsekuensinya, setiap warga memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkan kota ini.
Kebersihan, ketertiban, kenyamanan, keindahan, keamanan, kebersamaan, serta kepedulian harus dijaga bersama agar Banjarmasin menjadi kota yang membanggakan.

Banjarmasin dan Amsterdam
Secara geografis, Banjarmasin sering disamakan dengan Amsterdam, Belanda, karena keduanya terletak di bawah permukaan laut dan dilintasi oleh sungai serta kanal.
Bedanya, Amsterdam sudah lama berhasil mengelola sungai dengan baik: bersih, indah, dan menjadi daya tarik wisata dunia.
Penulis pernah merasakan pengalaman berperahu menyusuri kanal-kanal Amsterdam yang dipenuhi wisatawan mancanegara.
Banjarmasin pun punya potensi serupa. Wisata susur sungai dan Tanglong/Jukung Hias dalam even Kemilau Banjarmasin Bungas adalah contoh atraksi yang bisa terus dikembangkan. Dengan menjaga kebersihan, kerapian, dan estetika sungai, Banjarmasin berpeluang menjadi destinasi wisata air kelas dunia.
Tata Kota dan Taman
Tata kota yang baik dan keberadaan ruang hijau akan membuat sebuah kota nyaman ditinggali. Taman-taman kota bukan hanya ruang rekreasi murah meriah, tetapi juga wahana kegiatan positif yang dapat mengurangi potensi kriminalitas.
Penulis kerap berkunjung ke Taman Kamboja, taman luas yang berada di jantung kota. Kini, hadir air mancur warna-warni yang bergerak mengikuti alunan musik, menambah daya tarik taman ini.
Namun, beberapa fasilitas masih memerlukan perbaikan. Bata dan paving yang rusak berisiko mencelakakan pengunjung, lampu taman ada yang padam, serta tempat sampah masih kurang memadai. Pemeliharaan rutin, pengawasan, dan inovasi menjadi kunci agar taman ini tetap diminati masyarakat.
Selamat ulang tahun ke-499, Banjarmasin kotaku. Gawi Sabumi Menuju Banjarmasin Maju Sejahtera.S emoga kota ini semakin maju, jaya, dan tetap menjadi kebanggaan warganya. (#)
Banjarmasin, 24 September 2025
Penyunting Mohammad Nurfatoni












