Feature

Dari Balongpanggang ke Panggung FFU: Tari Rancangkapti Jadi Simbol Keanggunan Islami

60
×

Dari Balongpanggang ke Panggung FFU: Tari Rancangkapti Jadi Simbol Keanggunan Islami

Sebarkan artikel ini
Dari panggung kecil di Balongpanggang, tiga siswi SD Muhammadiyah 1 tampil menawan di ajang Festival Faqih Usman ke-9. Lewat Tari Rancangkapti, mereka menghadirkan kisah putri Sunan Giri dalam gerak yang anggun, penuh nilai Islami, dan memikat hati penonton di Hall Sang Pencerah UMG.
Tari Rancangkapti oleh siswi SD Muhammadiyah 1 Balongpanggang, Gresik, Jawa Timur, di acara pembukaan final FFU ke-9, Hall Sang Pencerah, UMG, Sabtu, 1 November 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah).

Dari panggung kecil di Balongpanggang, tiga siswi SD Muhammadiyah 1 tampil menawan di ajang Festival Faqih Usman ke-9. Lewat Tari Rancangkapti, mereka menghadirkan kisah putri Sunan Giri dalam gerak yang anggun, penuh nilai Islami, dan memikat hati penonton di Hall Sang Pencerah UMG.

Tagar.co — Tiga putri kecil dari SD Muhammadiyah 1 Balongpanggang sukses menghibur peserta pembukaan final Festival Faqih Usman (FFU) Ke-9.

Dengan gerak yang lincah dan ekspresi penuh penjiwaan, mereka membawakan Tari Rancangkapti yang berhasil memukau penonton di Hall Sang Pencerah, Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), Sabtu (1/11/2025).

Mereka adalah Queen Aurora Azzahra Larasati, Khoirina Nur Azaila Almira, dan Ashinta Laily Shidqia — tiga siswi yang tampil anggun sekaligus energik. Setiap hentakan kaki dan kibasan tangan mereka seolah menuturkan kisah klasik Rancangkapti, putri ketiga Sunan Giri, yang dalam perjalanannya menimba ilmu tentang wudu dan salat. Gerak dan alur tari berpadu apik dengan nilai-nilai Islam yang menjadi rohnya.

Baca juga: Kompak, 7 Siswa SMPM 7 Cerme Sajikan Tari Banjang Susuk di Final FFU 2025

Busana yang mereka kenakan menambah pesona pertunjukan. Kain tile, sumping, dan hijab berpadu serasi dalam dominasi warna cokelat dan kuning keemasan, memberi kesan elegan sekaligus khas tradisional Gresik.

“Tari ini bagian dari ekstrakurikuler di sekolah,” ujar Kepala SD Muhammadiyah 1 Balongpanggang, Liza Rahmawati. Ia menambahkan, tak ada latihan khusus menjelang tampil di FFU. “Mereka sudah terbiasa tampil di berbagai even, baik tingkat kecamatan maupun kabupaten,” imbuhnya.

Menurut Liza, ketiga siswinya memang aktif di dunia seni tari. Selain Tari Rancangkapti, mereka juga menguasai tari Remo, Damar Kurung, Sorote Lintang, hingga Jalubi.

“Jadi tidak heran kalau gerakan mereka sangat luwes, karena sudah terbiasa,” tuturnya. Meski masih duduk di kelas V dan VI, mereka tampil penuh percaya diri layaknya penari profesional.

Suasana acara pembukaan final FFU Ke-9, Hall Sang Pencerah, UMG, Sabtu, 1 November 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah).

Tak hanya di FFU, ketiganya juga pernah dipercaya tampil pada kegiatan Pendidikan Khusus Kepala Sekolah/Madrasah (Diksuspala) Batch 3 Region Jawa Timur tahun 2024. Untuk penampilan di UMG kali ini, latihan hanya difokuskan pada pemantapan gerak dan kekompakan.

“Mereka bahkan rela bangun lebih pagi dan mulai berhias sejak pukul 04.30 WIB agar bisa tampil maksimal,” kata Liza sambil tersenyum bangga.

Ia berharap, pengalaman ini menjadi kenangan berharga bagi anak-anak didiknya. “Kami ingin mereka bangga dengan masa kecilnya, berani bermimpi, dan berani mewujudkannya,” ujarnya.

Liza menutup dengan harapan sederhana namun dalam maknanya: “Kebahagiaan kami adalah ketika kelak mereka sukses di bidang masing-masing dan tetap ingat, di balik keberhasilan itu ada doa orang tua serta gurunya.”

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Sayyidah Nuriyah