Feature

Sujud Syukur Seorang Guru: Naimah dan Kemenangan Andro di FFU 2025

37
×

Sujud Syukur Seorang Guru: Naimah dan Kemenangan Andro di FFU 2025

Sebarkan artikel ini
Naimah, S.Pd.I, melakukan sujud syukur saat mendengar anak didiknya, Grady Andromeda Arifin, menjadi juara lomba pidato bahasa Arab Festival Faqih Usman (FFU) Ke-9 di Hall Sang Pencerah, Universitas Muhammadiyah Gresik, Sabtu, 1 November 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah).

Sujud syukur Naimah di Hall Sang Pencerah menjadi simbol ketulusan seorang guru. Di tengah tepuk tangan peserta FFU Ke-9, ia menenggelamkan wajah dalam syukur ketika nama muridnya diumumkan juara.

Tagar.co – Lantai Hall Sang Pencerah, Universitas Muhammadiyah Gresik, tiba-tiba menjadi saksi bisu sujud syukur seorang guru. Di tengah riuh tepuk tangan dan seruan bahagia peserta Festival Faqih Usman (FFU) ke-9, Sabtu (1/11/2025), Naimah, S.Pd.I, menenggelamkan wajahnya di lantai, bersujud dalam tangis syukur.

Ia tak sedang mencari perhatian. Ia hanya ingin berterima kasih—pada Tuhan, pada perjalanan panjangnya, dan pada keyakinan yang tak pernah pudar bahwa usaha tulus tak akan mengkhianati hasil.

Beberapa detik sebelumnya, pembawa acara awarding Nurul Wafiyah, yang juga Ketua Panitia FFU Ke-9, baru saja menyebut nama Grady Andromeda Arifin sebagai juara pertama lomba pidato bahasa Arab.

Baca juga: Juara Pidato Bahasa Arab FFU Ke-9 Resmi Diumumkan

Namun sebelum nama itu diumumkan, Naimah sudah lebih dulu meyakini bahwa anak didiknya akan menjadi juara. “Mendengar nama juara kedua bukan anak didik saya, berarti anak didik sayalah juaranya,” kenangnya dengan mata yang masih basah. Dalam sujud syukur itu, seluruh lelahnya seolah luruh.

Baca Juga:  Haedar Nashir Ingatkan Bahaya Ego dan Polarisasi, Dorong Persatuan Substantif Berbasis Gagasan dan Amal

Para juara memang diumumkan dari urutan terbawah—mulai dari harapan tiga hingga juara pertama. Dari enam finalis, nama Grady Andromeda Arifin belum juga disebut hingga posisi kelima. Saat itulah keyakinan Naimah semakin kuat: murid yang ia bimbing dengan penuh kesabaran itu pasti menjadi yang terbaik.

Dari Amanah Menjadi Ibadah

Naimah tidak menyangka amanah kecil yang diberikan kepala sekolah beberapa bulan lalu akan mengantarkannya pada momen spiritual sedalam ini. “Begitu mendapat mandat dari bapak kepala sekolah, saya langsung teringat Andro karena bacaan Al-Qur’annya bagus,” ujarnya.

Ia pun menulis sendiri naskah pidato berjudul “Bahaya Narkoba bagi Kelangsungan Hidup Bangsa dan Negara”. Setiap sore, selepas jam pelajaran, ia duduk bersama Andro, sapaan sang murid, di ruang kelas kecil untuk melatih lafal, makhraj, dan intonasi. Tak hanya menghafal, sang murid juga harus memahami makna setiap kata.

“Saya ingin Andro tahu, pidato bukan sekadar kata-kata, tapi amanah untuk menyampaikan pesan kebaikan,” kata Naimah pelan.

Naimah, S.Pd.I, bersama dengan Grady Andromeda Arifin, Juara Lomba Pidato Bahasa Arab FFU Ke-9 di Hall Sang Pencerah, UMG, Sabtu, 1 November 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah).

Ketika Ujian Datang

Dua hari menjelang final, Andro jatuh sakit. Naimah mengaku hampir kehilangan harapan. “Dia tetap minta latihan, tapi saya suruh istirahat,” katanya. Di sela-sela kekhawatiran itu, ia terus berdoa agar muridnya diberi kekuatan.

Baca Juga:  Bintang untuk Akasha

Doa itu terkabul. Di hari lomba, Andro tampil sempurna. Ketika nama pemenang diumumkan, ruangan seketika riuh. Namun Naimah justru diam. Tubuhnya pelan-pelan merunduk, kemudian bersujud lama. “Itu bukan kemenangan saya, tapi jawaban dari semua doa dan keyakinan,” ujarnya haru.

Guru yang Bersyukur

Bagi Naimah, sujud syukur itu bukan hanya ekspresi bahagia, melainkan bentuk ibadah. “Saya tak bisa berkata apa-apa lagi, hanya bisa sujud,” ucapnya.
Ia menganggap keberhasilan Andro sebagai anugerah yang meneguhkan keyakinannya: bahwa mendidik bukan sekadar mengajar, tapi membimbing dengan hati.

Kepala SD Muhammadiyah 1 Wringinanom, Kholiq Idris, turut terharu menyaksikan momen itu. “Sangat bangga dan terharu sekali. Baru kali ini kami juara I di FFU untuk pidato bahasa Arab,” ujarnya. “Sujud Bu Naimah menjadi simbol ketulusan seorang guru yang mengabdi sepenuh hati.” (#)

Jurnalis: Nadhirotul Mawaddah

Penyunting: Mohammad Nurfatoni