
Menyambut mentari di Sungai Martapura, rombongan PCM GKB Gresik susuri denyut nadi Kota Seribu Sungai. Di antaranya menikmati kehangatan Soto Banjar di Pasar Terapung Lok Baintan.
Tagar.co – Pukul 05.30 WITA, menjelang pagi pada Sabtu (15/11/2025), suasana di tepi Sungai Martapura terasa begitu hidup. Pendar lampu jalan memantul di permukaan air, menciptakan garis-garis cahaya yang bergoyang lembut mengikuti arus.
Di kejauhan, jembatan berpagar kuning membentang tenang. Belum ada kendaraan yang melintas. Jembatan itu seolah menjadi batas antara kota yang masih tidur dan derap langkah perahu kelotok yang memecah keheningan sungai.
Di bibir dermaga sederhana, sekitar lima meter dari lobi Hotel Swiss-Bel, gerbang khusus menuju dermaga terbuka. Beberapa orang bersiap menaiki perahu kayu yang bercat warna-warni. Mereka mengenakan rompi pelampung oranye. Sebagian menata pijakan, memastikan setiap langkah stabil di geladak selebar sekitar 1,5 meter.
Tiga belas orang naik perahu pertama. Lainnya naik tiga perahu yang berdekatan. Walaupun langit masih gelap, aura kesibukan justru baru bermula. Perahu itu menjadi penghubung penting. Perjalanan menyambut mentari pagi ini mengantar rombongan menuju Pasar Terapung Lok Baintan, Banjarmasin.
Dari atas kelotok, bayangan bangunan, papan reklame, dan rumah warga menegaskan kesan sungai ini adalah denyut nadi kota. Di Kota Seribu Sungai, sungai menjadi pusat aktivitas manusia yang terus mengalir.
Di antara ketiga belas orang di perahu itu, ada delapan orang dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik. Mereka terdiri dari 4 peserta dan 4 penggembira Cabang Ranting Masjid (CRM) Award 2025. Di tengah padatnya agenda di Masjid Al-Jihad Banjarmasin, pagi itu mereka menyempatkan diri berwisata susur sungai sebelum bertolak ke Kota Pudak Gresik esok pagi.
Perahu kelotok itu membawa mereka melintasi satu per satu ikon Banjarmasin yang tampak gagah berdiri di tepi sungai. Mulai dari Menara Pandang, Tugu Titik Nol Kilometer, hingga kampung warna-warni.
Di bawah langit yang cerah, perahu kelotok terus melesat, melintasi beragam jembatan yang membentang di atas sungai. Di dalam kelotok, para peserta bercengkerama akrab. Ada pula yang mengedarkan pandangan, menikmati bentang sungai yang wajahnya mulai tampak seiring langit kian cerah.
Sebagian peserta, seperti Sekretaris PCM GKB Gresik Ir. Sugeng, M.M. dan Anggota Majelis Pustaka Informasi Media Sosial dan Pengembangan Ranting PCM GKB Gresik Ichwan Arif, M.Hum. beranjak duduk di atap kelotok saat langit sudah sepenuhnya terang.

Dapur Terapung Soto Banjar
Setelah menempuh perjalanan satu jam 20 menit, pada pukul 06.50 WITA, mereka tiba di pasar terapung. Para penjual dari perahu mereka masing-masing langsung mendekat dari segala arah. Mereka menawarkan berbagai macam produk kuliner maupun kaos bersablon.
Di atas perahu kayu bercat kuning-hijau yang mulai pudar tergerus waktu, seorang perempuan paruh baya beserta suaminya meracik kehangatan. Pagi itu, sungai menjadi dapurnya. Arus air menjadi tempat ia menambatkan usaha. Spanduk merah bertuliskan “Soto Banjar” terbentang di atasnya, melindungi ia dan dagangannya dari paparan sinar mentari yang kian hangat.
Di atas papan kayu yang menjadi meja, tersusun aneka hidangan yang mengundang selera. Tusuk-tusuk sate ayam yang baru saja dia angkat dari panggangan, dia letakkan rapi di atas piring biru. Asap tipis masih keluar dari panci enamel bermotif bunga—panci khas dapur Banjar—menandakan kuah soto sedang ia jaga hangatnya. Di sampingnya, semangkuk telur rebus dan jajanan hijau berbentuk bulat sukses menambah nuansa manis yang menemani gurihnya soto.
Perempuan itu bekerja cekatan. Dengan tangan yang terlatih oleh waktu, ia mengambil bahan, menata piring, lalu menoleh sesekali ke arah pelanggan yang sedang menunggu di atas sampan. Wajahnya sesekali tertutup bayang kain spanduk. Namun kehangatan gerakannya tampak jelas.
Berdagang di Sungai
Suasana ini bukan sekadar tentang kuliner khas Banjar. Inilah potret kehidupan masyarakat sungai yang masih memegang tradisi berdagang di atas air. Soto Banjar yang mereka jajakan bukan hanya hidangan, melainkan bukti budaya dan ekonomi dapat hidup berdampingan, bergerak mengikuti riak air yang terus mengalir.
Penggembira dari PCM GKB Gresik Waviq Amiqoh, M.Pd.I. dan rekannya langsung memesan. Mereka memegang mangkuk soto Banjar yang masih mengepul, lengkap dengan sate ayam yang ditusukkan rapi di pinggir mangkuk. Hangatnya kebersamaan tercipta. Ini bukan sekadar sarapan, tapi pengalaman berharga khas Banjarmasin. Semilir angin sungai menjadi bagian dari hidangan.
Mereka menikmati setiap sendok dengan antusias hingga dingin perjalanan terbayar tuntas oleh cita rasa pagi itu. Di tengah kesibukan agenda dan perjalanan jauh, momen sederhana seperti ini menjadi jeda yang menyegarkan: obrolan ringan, semangkuk soto hangat, dan sungai yang senantiasa mengalir.

Pengalaman Perdana
Setelah puas berbelanja dari atas perahu kelotok, perahu kembali melaju pukul 07.15 WITA. Mereka menempuh jalur pulang yang sama dengan jalur keberangkatan.
Dalam perjalanan pulang, obrolan hangat kembali mengalir. Waviq mengaku ini pertama kalinya naik perahu kelotok di sungai. Terlebih dengan durasi lama. Di Tuban (daerah asalnya), ia pernah naik perahu sebentar. “Di laut enggak bisa lama karena ombaknya besar. Paling cuma lima menit,” katanya.
Menurut Waviq, sensasi naik perahu sampai satu jam di sini terasa berbeda. “Sensasinya kayak di atas air. Sungai yang cuma dilihat dari jauh, sekarang ada di depan mata banget,” tuturnya riang.
“Pemandangan sepanjang sungai bagus juga. Ada sensasi berbeda waktu lewat di bawah jembatan. Takjub juga bisa melihat berbagai aktivitas warga,” imbuhnya.
Nikmati Keindahan Alam
Berbeda dengan Waviq, Ketua PCM GKB Gresik dr. Umar Nur Rahman, Sp.PD. yang memilih duduk di kursi belakang bersama Wakil Ketua Majelis Pustaka Informasi Media Digital dan Pengembangan Ranting Yudo Broto, S.E. mengakui ini bukan pengalaman pertama menyusuri sungai naik kelotok. “Sebelumnya pernah, tapi bukan di sungai ini,” kata keduanya kompak.
Pasalnya, dr. Umar pernah tinggal di Kalimantan selama tiga tahun. “Di Derawan lebih bagus, bening. Masyarakat bisa menjaga kebersihan,” kenangnya. Ia juga menyoroti penggunaan bahan bakar kelotok terhadap lingkungan.
Yudo menimpali, kondisinya seperti Pantai Utara dan Selatan Jawa. Utara kotor karena lebih dekat permukiman penduduk. Terlepas dari kondisi sungai di sana, Yudo bersyukur bisa menikmati beragam pemandangan selama susur sungai. “Alhamdulillah bergembira, bisa melepas penat setelah dua hari berjuang di stan,” ujar Yudo.
Dokter Umar sepakat. Sambil menikmati semilir angin yang berembus, ingatannya terbawa pada 13 November hingga hari itu. Ia senang PCM GKB bisa belajar dari cabang lain yang juga berhasil mengembangkan dakwah Muhammadiyah di daerahnya. “Kami bisa menggali inspirasi. Jadi lebih semangat kembangkan Muhammadiyah,” tegasnya.
Ia lantas kembali menikmati keindahan alam di sekitar sungai. “Perjalanan ini bagian dari wujud mensyukuri nikmat Allah. Sesuai imbauan bertebaranlah di muka bumi untuk melihat bagaimana di tempat lain,” tambahnya.
Setelahnya, mereka bergegas bersih diri dan kembali mensyiarkan kiprah dakwahnya di Expo dan Penjurian Best of the Best CRM Award 2025. Lokasinya di Masjid Al-Jihad Banjarmasin. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












