
Saat senja tiba, kami meninggalkan museum dengan hati yang bergetar. Langit memerah, lampu-lampu di sepanjang danau mulai menyala, dan suara azan Magrib berpadu dengan kicauan burung. Semua berpadu menciptakan suasana syahdu yang menyentuh kalbu. Air mata saya tumpah.
Danau Maninjau, Hamka, dan Tangis Haru di Tanah Minang Oleh: Nur Hidajati, alumnus Universitas Airlangga dan pendidik
Tagar.co – Pada tahun 2014, takdir membawa saya ke Bukittinggi, Sumatera Barat. Sebuah undangan Workshop Penyusunan Buku Pembinaan Kesiswaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah menjadi awal perjumpaan saya dengan keindahan dan kekayaan budaya Minangkabau.
Bersama tiga rekan dari Jawa Timur, kami berangkat dari Bandara Juanda, menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di luar Pulau Jawa dalam sebuah perjalanan dinas.
Lukisan Alam dari Jendela Pesawat
Bahkan sebelum mendarat, keindahan tanah Minang sudah menyapa. Dari balik jendela pesawat, terhampar laut biru dengan ombak yang berkejaran, deretan pohon kelapa yang melambai di sepanjang pantai berpasir putih berkilauan. Sebuah lukisan alam yang memesona, anugerah Tuhan yang tak ternilai.
Sekitar pukul 13.00, kami tiba di Bandara Internasional Minangkabau. Nuansa etnik langsung terasa. Alunan musik Minang mengiringi langkah kami, disambut arsitektur bandara yang kental dengan atap khas rumah Gadang, layaknya tanduk kerbau yang menjulang. Ornamen kain songket turut mempercantik setiap sudut bandara, seolah menyambut tamu dengan kehangatan budaya lokal.
Perjalanan dua jam menuju Bukittinggi dengan taksi bandara menjadi awal kekaguman saya. Bukan hanya karena keindahan alamnya, tapi juga karena daerah ini melahirkan banyak tokoh nasional dan negarawan. Bukittinggi, bagi saya, memiliki tempat istimewa di hati.
Baca juga: Pesona Keindahan Alam dan Legenda Bukit Batu Kembar
Kota ini terletak di dataran tinggi, diapit jajaran pegunungan Bukit Barisan yang memanjang di Pulau Sumatera. Suasana alam yang indah dan tenang ini memang tepat dipilih sebagai lokasi workshop. Harapannya, di tengah kesegaran alam, pikiran pun jernih, sehingga menghasilkan buku pedoman pembinaan akhlak dan budi pekerti siswa yang berkualitas.
Menginap di Pusako, Menyelami Sejarah
Hotel Pusako, tempat kami menginap, menyimpan sejarahnya sendiri. Dibangun pada masa Orde Baru, tepatnya tahun 1990-an, ketika pariwisata sedang berkembang pesat, hotel ini menjadi persinggahan favorit wisatawan domestik dan mancanegara.
Bangunannya megah, memadukan arsitektur modern dengan sentuhan adat Minang. Terletak di atas bukit, dikelilingi taman yang tertata rapi, dan berhawa sejuk, hotel ini hanya berjarak tiga kilometer dari ikon Bukittinggi: Jam Gadang dan Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta.
Kontur tanah di sekitar hotel yang berbukit, dipadu dengan rindangnya pepohonan dan warna-warni bunga, membuat suasana dinas terasa seperti rekreasi. Alhamdulillah!

Berkah Pertemanan, Menjelajahi Budaya
Keberuntungan saya bertambah dengan kehadiran Bu Evayanti, rekan sekamar yang berasal dari Sumatera Barat. Keramahan dan logat Melayunya yang khas langsung mencairkan suasana. Takdir mempertemukan kami, empat perwakilan Jawa Timur, dengan seorang warga lokal yang berdomisili di Bukittinggi.
Dari Bu Evayanti lah, kami diperkenalkan dengan budaya Minang yang terkenal ulet dan teguh memegang adat yang bersumber dari nilai-nilai syariat Islam. Kami diajak mencicipi kuliner khas seperti rendang dan keripik balado yang pedas, bahkan mengunjungi pasar tradisional dan pusat kerajinan kain songket dan sulam di kampung halamannya. Semua ini kami lakukan di luar agenda resmi, sebuah bonus perjalanan yang tak terlupakan.
Menapaki Jejak Sejarah
Bersama Bu Evayanti sebagai pemandu, kami mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Dimulai dari Museum Bung Hatta, monumen dedikasi untuk sang proklamator. Kemudian, kami beranjak ke Jam Gadang, hadiah dari Ratu Yuliana dari Belanda, dan Lobang Jepang, sebuah bunker peninggalan masa penjajahan.
Di ujung terowongan Lobang Jepang yang gelap dan pengap, terdapat sebuah lubang yang langsung menghadap jurang curam. Konon, tempat ini menjadi saksi bisu kekejaman penjajah Jepang terhadap para pejuang. Sisa-sisa sel tahanan berjeruji masih terlihat di sana, menyisakan kepedihan sejarah.
Sayangnya, kami melewatkan Istana Pagaruyung, simbol kebesaran Minangkabau, yang saat itu sedang direnovasi pasca kebakaran.
Danau Maninjau: Keindahan yang Mengharukan
Perjalanan ke Danau Maninjau menjadi puncak pengalaman kami. Melewati hutan, jurang, dan jalan berkelok yang menantang, hati kami berdebar antara takjub dan cemas. Di perjalanan, kami disuguhi pemandangan Ngarai Sianok yang disebut sebagai Grand Canyon-nya Indonesia, lembah curam dengan dinding tegak lurus dan aliran sungai jernih di dasarnya.
Tiba di Kelok Empat Puluh Empat, untungnya cuaca cerah. Matahari bersinar terang, menghilangkan keraguan saat mobil melaju di tikungan tajam. Doa dan kalimat tayibah tak henti kami panjatkan.
Bayangkan jika saat itu hujan, mungkin kami akan mengurungkan niat. Melewati Kelok Empat Puluh Empat memang butuh perjuangan, terutama bagi pengemudi. Namun, semua terbayar lunas. Dari atas bukit, Danau Maninjau terhampar luas, bagai permadani biru yang dikelilingi perbukitan hijau. Ketenangan dan keindahannya sungguh menyejukkan jiwa.

Hamka dan Air Mata yang Tumpah
Kesempatan mengunjungi rumah kelahiran Buya Hamka di tepi Danau Maninjau menjadi perjalanan spiritual yang memperkaya jiwa. Kenangan itu kembali terngiang ketika saya menonton film biopik tentang beliau, sang ulama besar yang berdakwah di tengah perjuangan kemerdekaan.
Museum Buya Hamka berdiri kokoh, menghadap langsung ke Danau Maninjau. Bangunannya khas rumah Gadang, dengan atap bergonjong dan ukiran Minang yang memukau. Di dalamnya, tersimpan barang-barang pribadi Buya Hamka, seperti tongkat, jubah, dan buku-buku karyanya. Kami juga bertemu dengan kerabat dekat beliau yang bercerita banyak tentang kehidupan sang ulama besar.
Saat senja tiba, kami meninggalkan museum dengan hati yang bergetar. Langit memerah, lampu-lampu di sepanjang danau mulai menyala, dan suara azan Magrib berpadu dengan kicauan burung. Semua berpadu menciptakan suasana syahdu yang menyentuh kalbu.
Air mata saya tumpah, menyaksikan keagungan Tuhan yang terhampar di depan mata. Dari kampung di pinggir Danau Maninjau inilah, seorang putra bangsa yang luar biasa dilahirkan. Buya Hamka, dengan segala predikat kebaikannya: ulama, negarawan, pemikir, penulis, jurnalis, sastrawan, musafir, pembelajar sejati, dan Pahlawan Nasional, akan terus dikenang sebagai teladan sepanjang masa. Alhamdulillah.
Perjalanan ke Bukittinggi, Danau Maninjau, dan rumah Buya Hamka bukan sekadar perjalanan dinas, tapi sebuah perjalanan jiwa yang meninggalkan jejak mendalam. Jejak keindahan alam, kekayaan budaya, dan keteladanan seorang anak bangsa yang mengharumkan nama Indonesia. (#)
Gresik, 27 Desember 2024
Penyunting Mohammad Nurfatoni












