Feature

Makna Kehadiran Pemimpin saat Musibah: Belajar dari Washington dan Ismet Inönü

45
×

Makna Kehadiran Pemimpin saat Musibah: Belajar dari Washington dan Ismet Inönü

Sebarkan artikel ini
Presiden Prabowo Subianto bertemu langsung para warga terdampak di posko pengungsian di Padang Pariaman, Provinsi Sumatra Barat, pada Senin, 1 Desember 2025. (Foto BPMI Setpres)

Gelombang banjir dan longsor melanda Sumatra, meninggalkan duka yang panjang. Di tengah situasi genting itu, kehadiran pemimpin menjadi kebutuhan, bukan sekadar simbol. Hamka pernah menuturkan dua kisah pemimpin yang hadir dengan hati—pelajaran yang terasa semakin relevan hari ini.

Oleh M. Anwar Djaelani

Tagar.co – “Pak Presiden, 12 Hari Banjir Aceh Tidak Ada Bantuan dari Pemerintah Indonesia….” Ini judul berita pada 7 Desember 2025 di regional.kompas.com. Intinya, para pengungsi korban banjir di Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh mengeluhkan belum adanya bantuan dari pemerintah pusat hingga 12 hari pascabencana.

Di atas hanyalah sebagian dari begitu banyak berita memprihatinkan di Sumatra. Ini terkait banyaknya daerah di Sumatra yang dilanda banjir bandang dan longsor pada 24 November 2025. Korban jiwa dan harta benda tidak sedikit. Kita patut menunduk. Innalillahi wainna ilaihiraji’un.

Dari berbagai berita yang beredar, dalam musibah ini ratusan orang wafat, ribuan luka-luka, lebih dari satu juta jiwa terdampak, dan banyak warga yang mengungsi. Juga ada ribuan rumah rusak, ratusan fasilitas pendidikan rusak, dan ratusan jembatan rusak. Ada puluhan kabupaten yang terdampak.

Baca juga: Syukur yang Tak Pernah Padam di segala Keadaan

Ini musibah besar. Musibah adalah kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa; musibah adalah malapetaka atau bencana (kbbi.web.id/musibah; akses 7/12/2025 pukul 08.54).

Kita sedih atas musibah ini. Kita doakan semoga mereka yang terdampak diberi Allah kekuatan iman dan kesabaran. Pada saat yang sama, berbagai bantuan patut diulurkan kepada saudara-saudara kita yang pasti membutuhkannya.

Baca Juga:  Melestarikan Alam Itu Panggilan Iman

Adapun hal lain yang juga mesti ada adalah perhatian dan kehadiran pemimpin. Mengapa itu penting? Mengapa itu perlu?

Dua Kisah

Kata Hamka dalam Falsafah Hidup, pandai menarik hati dan pintar membalas jasa serta cakap menata hati yang terasa renggang dengan orang lain termasuk sendi-sendi muruah (harga diri). Hal yang demikian tak dapat kita abaikan. Dengan sikap-sikap yang disebutkan tadi, kita bisa memperbanyak kawan. Kita bisa mengundang simpati banyak orang.

Sebaliknya, barang siapa tidak pandai menghargai jasa dan tidak sanggup menjalin hati yang telah renggang, niscaya dia akan hidup terpencil. Orang seperti ini tidak pandai menjalin hubungan baik dan hanya pandai membuat jarak. Ia tidak tahu kepayahan orang lain sehingga jerih payah orang tidak berharga di matanya.

Orang seperti ini hanya tuturnya saja yang mesti didengarkan orang lain, sementara tutur orang lain tidak ia dengarkan. Sesudahnya yang terjadi, hanya dia sendiri yang bicara dan orang lain diam sambil mengangguk-angguk. Bukan mengangguk tanda setuju, tetapi mengangguk sambil berharap mudah-mudahan dia lekas berhenti berbicara dan tidak usah disambung lagi.

Kalau tidak sanggup menarik hati orang dengan harta, maka tariklah hatinya dengan lisan yang manis. Dalam hal ini, lisan yang manis kadang-kadang lebih mahal daripada harta. Lisan yang bisa menyenangkan orang lain sering lebih mahal daripada benda-benda berharga (2002: 248).

Baca Juga:  Praktik Wawancara, Narasumber Dihujani Ragam Pertanyaan

Hamka lalu merujuk dua kisah: tentang dua presiden yang berperforma manis di depan rakyatnya yang sedang prihatin bahkan menderita. Kisah pertama tentang George Washington, tokoh yang kemudian menjadi presiden Amerika pertama (periode 1789–1797). Kisah kedua tentang Mustafa Ismet Inönü, presiden Turki kedua (periode 1938–1950).

Ikut Merasakan

Ini kisah pertama. Washington, yang lahir pada 1732 dan wafat pada 1799, suatu hari melihat serdadu Amerika mengangkat kayu-kayu berat di tengah rimba ketika terjadi perang kemerdekaan Amerika. Ada kayu besar yang belum selesai dipindahkan karena terlalu berat. Para serdadu terlihat malas untuk meneruskan pekerjaan itu.

Dengan diam-diam, tanpa sepatah kata pun, Washington pergi ke tengah para serdadu. Ia ikut mengangkat kayu itu bersama mereka. Semua serdadu merasa mendapat tenaga baru. Mereka bersorak gembira karena Kepala Perang sendiri turut bekerja bersama-sama. Sang pemimpin tidak hanya menyuruh-nyuruh dan menunjuk-nunjuk dari jauh saja (2002: 248).

Empati Tulus

Berikutnya kisah kedua. Ismet Inönü (1884–1973) punya performa kejujuran. Ini terlihat ketika terjadi gempa bumi di Turki. Ia pergi ke daerah yang ditimpa gempa.

Didatanginya orang-orang yang kehilangan rumah. Ia menunjukkan muka yang sedih. Ia menyapa semua anak-anak. Ia menemui perempuan-perempuan yang sedang ditimpa kesusahan.

Seorang perempuan tua berdiri menggapai Inönü sambil mengadukan hal yang dideritanya. Sikapnya seperti seorang anak yang mengadu kepada sang ayah. Inönü dengan hati terharu meminta agar perempuan tua itu bersabar.

Baca Juga:  Pandangan Isa Anshary tentang Kekuatan Lisan dan Tulisan Natsir serta Tokoh Lain

Atas pemandangan itu, para pengawal presiden termenung melihat bagaimana kejujuran hati dan air muka sang pemimpin saat berada di desa-desa yang sedang menghadapi kesulitan hidup (2002: 248).

Muka Manis

Hamka menutup uraian dua kisah di atas dengan mengutip pepatah orang tua-tua:

Tak usah kami diberi kain
Dipakai kain akan luntur
Tak usah kami diberi nasi
Dimakan nasi akan habis
Berilah kami hati yang suci, muka jernih
Budi dibawa mati (2002: 249).

Dua kisah yang disampaikan Hamka dan pepatah yang dikutipnya dalam Falsafah Hidup di atas terasa sangat relevan jika kita hayati hari-hari ini. Hari-hari ketika warga Sumatra menderita karena banjir bandang dan longsor. Juga hari-hari ketika warga di sekitar Gunung Semeru sedang menghadapi musibah akibat erupsinya yang berkali-kali.

Datanglah, Bersamalah!

Pemimpin, datangilah warga yang sedang mendapat musibah atau bencana! Sapalah warga dengan manis! Dekatilah mereka dengan muka jernih! Berilah mereka semangat bahwa insya Allah keadaan akan terus membaik. Terus membaik, bersama perhatian dan bantuan semua pihak.

Sungguh, dua kisah yang dituturkan Hamka di atas sangat berharga. Dua kisah yang bisa menginspirasi kita dalam berbuat baik kepada sesama, terutama kepada rakyat yang kita pimpin. Allahu Akbar, alhamdulillah! (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni