
Melestarikan alam bukan hanya isu lingkungan global, melainkan panggilan iman. Setiap pohon yang kita tanam dan setiap tetes air yang kita hemat adalah bentuk ketaatan kepada Sang Pencipta.
Oleh Suharto Fauzan, pegiat literasi.
Tagar.co – Alam semesta bukan sekadar latar belakang kehidupan manusia, melainkan ayatullah, tanda-tanda kebesaran Allah, yang diciptakan dalam keseimbangan yang sempurna.
Manusia diberi amanah besar sebagai khalifah atau pengelola bumi.
Islam memandang manusia sebagai penanggung jawab atas kelestarian alam, bukan pemilik yang bebas merusak.
Allah Swt berfirman mengenai peran ini: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’…” (Al-Baqarah: 30)
Menjadi khalifah berarti menjalankan tugas pemeliharaan, pemanfaatan yang bijak, dan perlindungan terhadap ekosistem agar tetap seimbang.
Larangan Berbuat Kerusakan
Al-Qur’an melarang segala bentuk perusakan alam, baik itu penggundulan hutan, polusi air, maupun eksploitasi berlebihan yang mengancam keberlangsungan hidup makhluk lain.
Hal ini sesuai dengan bunyi ayat berikut. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya… (Al-A’raf: 56)
Kerusakan lingkungan yang terjadi di darat dan di laut saat ini, seperti pemanasan global dan hilangnya keanekaragaman hayati, sering kali akibat langsung dari keserakahan manusia.
Hal ini diingatkan dalam surah Ar-Rum: 41 yang menyatakan bahwa kerusakan itu muncul karena perbuatan tangan manusia agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatannya dan kembali ke jalan yang benar.
Akibat perusakan alam sudah nyata di depan mata mendatangkan musibah yang menyengsarakan rakyat seperti bencana Sumatra yang terjadi November 2025.
Menanam Pohon Sedekah Jariyah
Islam sangat mendorong penghijauan. Menanam pohon dianggap sebagai bentuk sedekah karena manfaatnya yang terus mengalir bagi manusia dan hewan.
Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tanaman, lalu tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan ternak, melainkan ibadah itu bernilai sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bahkan Islam mengajarkan semangat pelestarian yang luar biasa melalui hadis berikut: “Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit pohon, maka apabila ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya.” (HR. Ahmad)
Kebiasaan Sederhana
Melestarikan alam dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang sesuai dengan tuntunan syariat, antara lain:
- Hemat air saat berwudu dan mandi.
- Ihsaan (kebaikan). Tidak menyakiti hewan dan menjaga habitatnya.
- Tazkiyah (kesucian). Tidak membuang sampah sembarangan yang mengotori bumi.
- Qana’ah (cukup). Mengurangi konsumsi plastik dan gaya hidup boros (tabzir).
Melestarikan alam bukan hanya isu lingkungan global, melainkan panggilan iman. Setiap pohon yang kita tanam dan setiap tetes air yang kita hemat adalah bentuk ketaatan kepada Sang Pencipta.
Dengan menjaga alam, kita sebenarnya sedang menjaga masa depan generasi mendatang, menghindari bencana, dan memastikan bumi tetap menjadi tempat yang layak untuk beribadah.
Menjaga alam adalah cara manusia mencintai penciptanya. Alam yang terjaga adalah warisan terbaik untuk anak cucu kita. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












