Feature

Memfoto Peristiwa Bencana, Perhatikan Aturan Ini

×

Memfoto Peristiwa Bencana, Perhatikan Aturan Ini

Sebarkan artikel ini
Memfoto peristiwa bencana yang baik bukanlah yang paling mengerikan, melainkan yang paling bermakna, bertanggung jawab, beretika, dan mengundang simpati.
Mohammad Nurfatoni menjelaskan materi foto jurnalistik di pelatihan relawan MDMC Lumajang. (Tagar.co/Agus Hilda)

Memfoto peristiwa bencana yang baik bukanlah yang paling mengerikan atau jadi tontonan, melainkan yang paling bermakna, bertanggung jawab, beretika, dan mengundang simpati.

Tagar.co – Memfoto situasi bencana bukan sekadar persoalan teknis kamera, melainkan tanggung jawab moral yang besar terhadap korban dan publik.

Hal ini menjadi penekanan penyampaian sesi materi Foto Jurnalistik Kebencanaan yang disampaikan oleh Mohammad Nurfatoni, Redaktur Pelaksana Tagar.co dalam Pelatihan Tim Media Kebencanaan Relawan MDMC Lumajang  di Kebun Teh Kertowono Gucialit, Sabtu (31/1/2026).

Pembicara M. Nurfatoni, mengajak peserta pelatihan jurnalistik memahami bahwa foto kebencanaan yang baik bukanlah yang paling mengerikan, melainkan yang paling bermakna, bertanggung jawab, beretika, dan mengundang simpati pembaca.

Di ruang aula homestay kebun teh yang dipenuhi cahaya pagi dan deru kipas angin, puluhan relawan MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) Lumajang menyimak paparan visual liputan bencana yang ditampilkan .

Tatapan mata peserta tertuju pada layar LCD yang menampilkan foto-foto bencana nasional seperti rumah-rumah rusak, jembatan darurat, hingga aktivitas warga yang berjuang bertahan.

Baca Juga:  MDMC Jatim Kirim Tiga Tim Bantu Bencana Sumatra

Suasana hening sesekali pecah oleh suara klik slide dan penjelasan pemateri menarasikan foto yang ditampilkan.

Menurut Nurfatoni, foto kebencanaan memiliki nilai berita tinggi apabila diambil dekat dengan waktu kejadian, karena mengandung unsur aktualitas (timeliness) yang kuat dan mampu merekam dampak nyata bencana terhadap kehidupan manusia.

Ia menjelaskan, secara jurnalistik, teknik pengambilan gambar harus mampu menampilkan dampak bencana (impact) secara jelas, seperti kerusakan fasilitas umum, terhentinya aktivitas warga, serta perubahan drastis lingkungan.

Namun demikian, fokus utama tetap terletak pada aspek kemanusiaan (human interest). Ekspresi wajah, gestur tubuh, dan relasi manusia dengan musibah—seperti ketabahan, kepanikan, atau solidaritas—menjadi jantung foto kebencanaan.

”Di sinilah kepekaan fotografer diuji. Jangan sampai penderitaan dijadikan tontonan,” katanya.

Nurfatoni juga menekankan pentingnya storytelling visual, yakni kemampuan foto untuk bercerita tanpa perlu banyak kata.

”Satu foto yang kuat dapat menjadi lead berita jika mampu merepresentasikan peristiwa secara utuh, misalnya melalui perbandingan kondisi sebelum dan sesudah bencana, proses evakuasi, atau upaya warga bangkit dari keterpurukan,” tuturnya.

Baca Juga:  TK Theobroma, Tempat Anak Gunung Belajar Membaca

Lalu peserta diajak menganalisis bagaimana sudut pengambilan gambar, jarak dengan subjek, serta momen yang dipilih dapat memengaruhi pesan yang sampai kepada pembaca.

Aspek etika jurnalistik juga menjadi perhatian dalam bahasan ini. Nurfatoni menegaskan, foto kebencanaan tidak boleh menampilkan jenazah secara vulgar, tidak mempermalukan korban, tidak merekayasa situasi, serta wajib menghormati privasi dan martabat manusia.

”Dramatisasi diperbolehkan sepanjang tidak menjurus pada kesadisan. Kamera boleh merekam luka, tetapi nurani harus tetap memfilter,” katanya disambut anggukan peserta yang merasakan langsung beratnya dilema di lapangan.

Kualitas Foto

Dari sisi kualitas teknis, dia mengulas pentingnya ketajaman fokus, komposisi yang seimbang, pencahayaan yang memadai, serta pemilihan sudut pandang yang bermakna—baik sudut rendah maupun tinggi—untuk memperkuat pesan visual.

Meski teknologi kamera terus berkembang, ia menekankan bahwa kualitas foto kebencanaan tidak semata ditentukan oleh alat, melainkan oleh kepekaan mata dan empati fotografer.

Melalui materi ini, pelatihan media kebencanaan tidak hanya membekali relawan dengan keterampilan teknis pengambilan gambar, tetapi juga membangun kesadaran etis bahwa setiap foto yang dipublikasikan membawa dampak sosial.

Baca Juga:  MDMC Lumajang Terima Penghargaan Bupati

Memfoto kebencanaan, kata dia, bukan sekadar dokumentasi, melainkan medium empati, pengingat kolektif, dan jembatan antara korban dan publik.

Dengan pendekatan tersebut, relawan media diharapkan mampu menghasilkan karya jurnalistik yang informatif, manusiawi, dan tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Mengabadikan duka, tanpa melukai. (#)

Jurnalis Dinar Yulien Candra Rin Penyunting Sugeng Purwanto