Sejarah

Tulisan Terakhir Buya Hamka sebelum Wafat

×

Tulisan Terakhir Buya Hamka sebelum Wafat

Sebarkan artikel ini
Hanya tiga hari sebelum wafat, Buya Hamka masih menulis. Bukan sembarang tulisan, tapi pesan abadi tentang membaca dan menulis yang lahir di momentum 17 Ramadan.
Buya Hamka (Foto internet)

Hanya tiga hari sebelum wafat, Buya Hamka masih menulis. Bukan sembarang tulisan, tapi pesan abadi yang lahir di momentum 17 Ramadan. Apa yang dia tulis?

Tagar.co – Tulisan terakhir Hamka menarik untuk ditelisik. Sebab, Hamka bukan hanya ulama besar, tetapi juga pengarang terkemuka. Menjelang wafatnya pada Jumat, 22 Ramadan 1981, beliau masih sempat menulis sebuah karangan berjudul 17 Ramadan.

Naskah itu menjadi “abadi”. Sebab, yang semula dimuat di majalah Panji Masyarakat, kemudian menjadi bagian dari buku berjudul Iman dan Amal Saleh (1982: 139–144). Tentu, dari sisi masa pakai, buku lebih bisa bertahan jika dibandingkan dengan majalah.

Baca juga: Hamka dan Amanat Berat sang Pengarang

Karangan itu, 17 Ramadan, berharga. Hal ini karena: Pertama, terlihat sampai di dekat hari wafatnya, Hamka masih aktif mengarang. Sementara, mengarang adalah satu hal yang telah puluhan tahun menjadi kebiasaannya.

Kedua, tampak temanya aktual. Bukankah 17 Ramadan adalah salah satu dari berbagai kemuliaan di bulan suci? Sementara, Buya Hamka wafat pada 22 Ramadan.

Ketiga, materi karangan—yaitu umat Islam harus aktif membaca dan menulis—sangat pokok dan penting. Ini berdasarkan Surah Al-Alaq ayat 1–5, lima ayat pertama yang Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad saw. pada 17 Ramadan.

Hingga Akhir

Sampai di dekat hari wafatnya, Hamka masih aktif mengarang. Aktivitas ini sudah puluhan tahun menjadi kebiasaannya. Dalam hal ini, kita lalu ingat ungkapan masyhur: “Siapa saja yang hidup di atas suatu kebiasaan tertentu, dia pun akan diwafatkan di atas kebiasaan tersebut.”

Asal ungkapan di atas ada di Tafsir Ibnu Katsir. Saat menjelaskan Ali Imran: 102, Ibnu Katsir menulis :“Barang siapa yang hidup menjalani suatu hal, maka dia pasti mati dalam keadaan berpegang kepada hal itu. Barang siapa yang mati dalam keadaan berpegang kepada suatu hal, maka kelak dia dibangkitkan dalam keadaan tersebut. Kami berlindung kepada Allah dari kebalikan hal tersebut.”

Baca Juga:  Gurindam Dua Belas: Warisan Hikmah Raja Ali Haji sebagai Gizi Rohani

Sekadar menguatkan, berikut ini kata Ustaz Adi Hidayat di salah satu ceramahnya, bahwa setiap orang akan wafat sesuai kebiasaannya. Terkait hal itu, beliau menyampaikan kisah mengharukan yang baru saja terjadi kala itu.

Ketika itu, Ustaz Adi Hidayat baru tiba di sebuah masjid (tempat dia akan berceramah) untuk menunaikan salat subuh. Di pintu masjid, ada yang menyampaikan bahwa seorang yang istikamah menunaikan salat lima waktu di masjid itu terkena serangan jantung.

Orang yang dimaksud tergeletak di masjid. Lalu diusahakan pertolongan pertama. Namun, Allah lebih sayang kepadanya, dia wafat. Innalillahi wainnailaihi raji‘un.

Masyaallah, lanjut Adi Hidayat, wafat seperti itu sangat tidak mudah untuk mendapatkannya: wafat di rumah Allah dalam keadaan terbaik, yaitu saat akan menunaikan salat subuh. Sementara, salat subuh langsung disaksikan oleh Allah dan seluruh malaikat.

Hamka hingga menjelang wafat masih bisa menghasilkan karangan. Mengarang, bagi Hamka, telah menjadi kebiasaan puluhan tahun. Dan mengarang, seperti yang dilakukan Hamka, sangat bermanfaat untuk dakwah.

Dengan demikian, kita perlu memiliki kebiasaan yang baik. Kita harus punya keseharian yang Allah suka. Semoga dengan cara itu, kelak Allah wafatkan kita dalam keadaan yang Allah rida.

Aktual!

Hamka meninggal pada Jumat pukul 10.30 WIB, 24 Juli 1981, bertepatan dengan 22 Ramadan 1401 Hijriah. Beberapa hari sebelumnya, Hamka menulis karangan berjudul 17 Ramadan untuk dimuat di majalah Panji Masyarakat. Majalah yang terakhir disebut itu telah dipimpin Hamka selama 24 tahun. Tak ada lagi karangan Buya Hamka setelah yang berjudul 17 Ramadan itu.

Baca Juga:  Titik Temu Jazir, Isa Anshary, dan Natsir

Apa yang ditulis Hamka dengan judul 17 Ramadan mengajarkan kepada kita bahwa tema karangan hendaknya aktual. Dengan begitu, tulisan kita akan lebih menarik perhatian dan terasa lebih diperlukan.

Lihatlah rubrik opini di koran (atau media pada umumnya). Pasti yang dimuat adalah tema-tema aktual. Menjelang Ramadan, misalnya, akan muncul opini seperti “Selamat Datang Ramadan”. Ketika di sekitar 17 Agustus, muncul opini “Sudah Sejatikah Kemerdekaan Kita?” Saat di sekitar 10 November, hadir opini “Makna Takbir Bung Tomo di Keseharian Kita”.

Materi Penting

Selain aktual, karangan kita juga harus memuat hal penting. Hamka, dalam karangan terakhirnya, menulis sesuatu yang bukan hanya penting, melainkan sangat penting. Sangat relevan dengan judul 17 Ramadan, Hamka mengingatkan kita pada keutamaan Al-‘Alaq:1–5.

Mari baca terjemahnya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahapemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (tulis-baca). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Inilah, kata Hamka, permulaan petunjuk atau hidayah kepada Muhammad saw. dan kepada seluruh manusia. Pertama, menyuruh membaca.

Kedua, menyuruh mempergunakan kalam atau pena untuk menulis ilmu pengetahuan. Dengan menulis, masalah yang sebelumnya tidak diketahui kemudian menjadi diketahui. Selanjutnya, ilmu pengetahuan terus berkembang.

Hanya Sedikit

Adakah lagi yang Hamka ungkap di karangan terakhirnya? Rupanya, untuk lebih meyakinkan keutamaan aktivitas membaca dan menulis, Hamka memberikan ilustrasi: semakin banyak ilmu yang kita peroleh, justru semakin terasa bahwa sejatinya “kita tidak tahu”.

Hamka memulai dengan ilustrasi ringan. Masuklah ke salah satu perpustakaan besar di Washington DC, Amerika Serikat. Di sana ada tidak kurang dari satu juta buku.

Baca Juga:  Energi Bacaan Hasbunallah

Masuklah ke perpustakaan itu, mintalah izin hanya untuk melihat buku-buku itu tanpa memegangnya. Maka, diperlukan tidak kurang dari tiga jam hanya untuk melihat.

Kalau hendak melihat judul dan daftar isi dari satu per satu buku, mungkin butuh waktu sepekan penuh. Apalagi jika harus membaca dan mempelajari seluruhnya. Itu baru satu perpustakaan. Bagaimana dengan seluruh perpustakaan di dunia?

Jangan lupa, gambaran Hamka di atas ditulis tahun 1981. Sekarang, puluhan tahun kemudian, jumlah buku tentu berlipat-lipat.

Tak Tahu

Hamka juga menegaskan bahwa makin hari, kita makin sering harus berkata: “Saya tidak tahu.”

Ketika ditanya, apa kesan setelah belajar berbagai ilmu pengetahuan, Socrates menjawab tegas: “Suatu hal yang saya ketahui karena membaca buku-buku, yaitu saya tidak tahu.”
Hal senada pernah dikatakan Imam Syafi‘i: “Tiap-tiap bertambah ilmuku, bertambah pula aku insaf bahwa aku tidak tahu.”

Energi Dahsyat

Hamka pun menuntaskan pikirannya. Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad saw. pada 17 Ramadan menunjukkan betapa pentingnya aktivitas membaca dan menulis. Dengan itu, dimulailah perubahan besar dalam sejarah Nabi saw. dan sejarah umat manusia.

“Mari, perkuat jiwa kita. Jadilah orang bertakwa yang menjadikan Al-Qur’an (termasuk dan terutama lima ayat pertamanya) sebagai petunjuk utama. Yakinilah, wal-‘āqibatu lil-muttaqīn (kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa),” tulis Hamka.

Paragraf di atas menjadi penutup karangan Hamka yang terakhir. Sebuah tulisan dengan tema aktual, berharga kapan pun, dan bisa menggerakkan siapa pun untuk aktif membaca serta menulis. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni