Telaah

Dalam Rida Ada Bahagia: Menyambut Takdir dengan Lapang Hati

53
×

Dalam Rida Ada Bahagia: Menyambut Takdir dengan Lapang Hati

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Rida bukan berarti menyerah tanpa usaha. Ia adalah ketenangan jiwa saat menghadapi takdir Allah, keyakinan bahwa setiap ujian mengandung kasih sayang dan hikmah dari-Nya.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tagar.co – Dalam menjalani kehidupan, seorang mukmin tidak akan lepas dari ujian dan cobaan. Namun, Islam mengajarkan agar setiap musibah yang datang disikapi dengan sabar dan rida, sebab semua itu terjadi atas izin dan ketetapan Allah Swt.

Allah Swt. berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. At-Taghabun: 11)

Alqomah bin Qais rahimahullah menafsirkan ayat ini:

“(Yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah) seseorang yang ketika ditimpa musibah, ia menyadari bahwa semua itu berasal dari Allah Swt., sehingga ia pun rida dan pasrah kepada-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 28/123)

Rida atas ketetapan Allah merupakan akhlak terpuji yang seharusnya dimiliki oleh setiap mukmin. Rasulullah Saw. bersabda:

Baca Juga:  Hijab atau Kafan: Aurat dan Pilihan Waktu

“Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa rida, maka baginya keridaan Allah. Dan barang siapa murka, maka baginya kemurkaan Allah.” (H.R. At-Tirmizi No. 2396, Ibnu Majah No. 4031, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Musibah yang menimpa seorang hamba bukanlah tanda bahwa Allah membencinya, melainkan bentuk kasih sayang-Nya. Melalui musibah, seorang mukmin dapat lebih dekat kepada Allah, menyadari kelemahan dirinya, dan memahami bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman-Nya.

Baca juga: Manusia yang Paling Dimurkai Allah

Dalam hadis lain, Rasulullah Saw. bersabda:

“Tidaklah seorang muslim tertimpa gangguan, meskipun hanya tertusuk duri, melainkan Allah akan menghapus kesalahannya karena hal itu, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (H.R. Bukhari No. 5641, Muslim No. 2573)

Karena itu, seorang mukmin harus senantiasa bersabar dan rida atas segala ketetapan Allah. Allah Swt. berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Baca Juga:  Drama Semalam di IGD

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).’ Mereka itulah yang memperoleh keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Baqarah: 156–157)

Rida kepada Allah bukan berarti pasrah tanpa usaha. Seorang mukmin tetap berikhtiar, tetapi hatinya tidak gelisah terhadap hasil. Ia yakin bahwa semua yang terjadi adalah ketetapan Allah yang mengandung hikmah.

Rasulullah Saw. bersabda:

“Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika engkau tertimpa sesuatu, jangan berkata, ‘Seandainya aku melakukan ini dan itu, pasti hasilnya akan lain.’ Tetapi katakanlah, ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi,’ karena ucapan ‘seandainya’ akan membuka pintu tipu daya setan.” (H.R. Muslim No. 2664)

Maka, jadilah hamba yang senantiasa rida atas segala ketetapan Allah. Dalam rida terdapat ketenangan jiwa, kebahagiaan sejati, dan keberkahan hidup. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang sabar dan rida dalam setiap takdir-Nya. Āmīn yā rabbal-‘ālamīn. (#)

Baca Juga:  Kerugian Terbesar Ramadan: Tidak Peduli pada Lailatulqadar

Penyunting Mohammad Nurfatoni