Feature

Ceria dan Penuh Warna: Saat Ilmuwan Cilik TK Aisyiyah 41 Gresik Beraksi!

48
×

Ceria dan Penuh Warna: Saat Ilmuwan Cilik TK Aisyiyah 41 Gresik Beraksi!

Sebarkan artikel ini
Ceria dan Penuh Warna: Saat Ilmuwan Cilik TK Aisyiyah 41 Gresik Beraksi! Bagi anak-anak TK Aisyiyah 41 Menganti, dunia mereka adalah dunia bermain. Melalui kegiatan eksperimen sederhana ini, mereka tidak hanya belajar tentang warna, tetapi juga belajar tentang proses, sebab-akibat, dan yang terpenting, belajar untuk berani mencoba dan berkreasi.
Dian Kurniawati memberikan contoh eksperimen pencampuran warna kepada anak didik Kelas A Strawberry di halaman sekolah TK Aisyiyah Bustanul Athfal 41 Menganti Gresik, Jawa Timur, Kamis (16/1/25)(Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah)

Bagi anak-anak TK Aisyiyah 41 Menganti, dunia mereka adalah dunia bermain. Melalui kegiatan eksperimen sederhana ini, mereka tidak hanya belajar tentang warna, tetapi juga belajar tentang proses, sebab-akibat, dan yang terpenting, belajar untuk berani mencoba dan berkreasi.

Tagar.co – Teriakan ‘Wah!’ atau ‘Hore!’ membahana di halaman TK Aisyiyah atau Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 41 Menganti, Gresik, Kamis (16/1/25). Bukan karena ada badut atau pertunjukan sulap, melainkan karena sekumpulan ‘ilmuwan cilik’ sedang asyik bereksperimen dengan warna.

Hari ini adalah Kamis, saatnya belajar “Sate Reni” (Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Seni) di TK yang berada di bawah naungan organisasi Aisyiyah tersebut. Program ini merupakan pelaksanaan salah satu dari tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, yaitu gemar belajar.

Kali ini, para peserta didik diajak untuk melakukan eksperimen warna. Sejak pagi, Dian Kurniawati, atau yang akrab disapa Bu Dini, guru Kelas A Strawberry, sudah sibuk menyiapkan peralatan eksperimen.

Baca juga: Menempa Karakter sejak Dini: Tapak Suci di TK Aisyiyah 41 Menganti Gresik

Gelas-gelas plastik bening berjejer rapi, botol-botol air mineral diisi air, dan tiga wadah kecil berisi pewarna makanan merah, kuning, dan biru tampak mencolok di atas meja. Dia akan mengajak anak-anak didiknya untuk menjadi ilmuwan cilik dengan melakukan eksperimen sederhana di halaman sekolah.

Baca Juga:  Jalan Pulang

Selain gelas, botol, dan pewarna, Bu Dini juga menyiapkan timba-timba kecil. Sengaja dia pilih tiga warna dasar tersebut untuk mengenalkan konsep warna primer kepada anak didiknya. Tidak lupa, dua lembar banner bekas dibentangkan sebagai alas tempat duduk, menciptakan suasana laboratorium mini di ruang terbuka.

“Sebelum kita bereksperimen, kita buat kesepakatan dulu ya anak-anak,” pinta Bu Dini dengan lembut. “Anak-anak harus duduk di atas alas yang sudah disediakan, mendengarkan ibu guru saat ibu guru menerangkan, dan sabar menunggu giliran,” tuturnya. Suasana kelas yang awalnya ramai, seketika hening. Semua mata tertuju pada Bu Dini, menunggu instruksi selanjutnya.

Ibu dari seorang putri ini kemudian memberikan contoh. Tangannya yang cekatan menuangkan air ke dalam gelas plastik, lalu meneteskan pewarna merah. Seketika, air bening itu berubah menjadi merah menyala. Kemudian, diteteskannya pewarna kuning ke gelas lain. Mata anak-anak membulat takjub. Mulut-mulut mungil menganga, menyaksikan air bening di dalam gelas plastik berubah warna seperti sulap.

“Wah, Bu Dini bisa bermain sulap,” teriak Shakira Kenasti Nareswari dengan mata berbinar, disusul dengan celoteh teman-teman lainnya.

Baca Juga:  Haedar Nashir Kritik Gaya Pemimpin Panggung

“Selanjutnya anak-anak yang melakukan eksperimennya ya,” pinta Bu Dini. Mendengar ajakan ibu guru, semua berebut ingin menjadi yang pertama.

“Sesuai kesepakatan kelas yang kita buat bersama tadi, hanya anak yang melaksanakan kesepakatan saja yang akan bu Dini panggil,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi anak-anak TK Aisyiyah 41 Menganti, dunia mereka adalah dunia bermain. Melalui kegiatan eksperimen sederhana ini, mereka tidak hanya belajar tentang warna, tetapi juga belajar tentang proses, sebab-akibat, dan yang terpenting, belajar untuk berani mencoba dan berkreasi.
Anindya Fajrina Rahma (kanan) mencoba mencampur warna didepan guru dan teman-temannya dalam kegiatan Kamis Reni di halaman TK Aisyiyah 41 Menganti Gresik, Jawa Timur, Kamis (16/1/25)(Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah)

Praktik Siswa

Kesempatan emas itu jatuh ke tangan Anindya Fajrina Rahma. Dengan wajah sumringah, dia melangkah ke depan, siap menjadi ‘ilmuwan’ pertama hari itu. Yang pertama dia mencoba untuk mencampur warna merah dengan warna kuning. Dengan hati-hati, diteteskannya pewarna merah dan kuning ke dalam gelas berisi air. Tangannya yang mungil menggenggam erat sendok plastik, mengaduk-aduk cairan di dalam gelas.

“Lihat, jadi warna apa anak-anak?” tanya Bu Dini kepada anak-anak. Dengan serempak mereka menjawab, “Oranye!”

Kemudian Anin, panggilan akrab Anindya, kembali mencoba membuat warna yang berbeda. Dicampurnya warna biru dengan merah. Dan voila! Melihat air berubah menjadi ungu, anak-anak kembali berteriak antusias.

“Satu lagi Anin, coba buat warna satu lagi,” pinta Dini. Dengan senyum ceria, Anin mencampur warna kuning dan biru.

“Jadi warna hijau,” kata Anin penuh semangat, bangga dengan hasil eksperimennya.

Baca Juga:  Lebaran tanpa Kursi di Ujung Meja

Selanjutnya, anak-anak yang lain tak sabar untuk mencoba bereksperimen. Satu persatu mereka mencoba membuat warna yang mereka suka. Ada yang mencampur merah dan biru, menghasilkan warna ungu yang lebih gelap. Ada pula yang bereksperimen dengan mencampur ketiga warna dasar, menghasilkan warna coklat yang unik. Tawa dan teriakan kegembiraan terus terdengar, mewarnai suasana belajar yang menyenangkan.

Bagi anak-anak TK Aisyiyah 41 Menganti, dunia mereka memang dunia bermain. Melalui kegiatan eksperimen sederhana ini, mereka tidak hanya belajar tentang warna, tetapi juga belajar tentang proses, sebab-akibat, dan yang terpenting, belajar untuk berani mencoba dan berkreasi.

Mereka juga belajar antre, sabar menunggu giliran dan bertanggung jawab dengan apa yang sudah menjadi kesepakatan bersama, nilai-nilai penting yang akan membentuk karakter mereka di masa depan.

Eksperimen warna di TK Aisyiyah 41 Menganti hari itu mungkin sederhana. Namun, bagi para ‘ilmuwan cilik’ itu, ia adalah sebuah petualangan seru yang membuka gerbang menuju dunia sains yang penuh keajaiban. Dan siapa tahu, dari antara mereka kelak akan lahir ilmuwan-ilmuwan hebat yang membawa perubahan bagi bangsa.

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni