Cerpen

Lebaran tanpa Kursi di Ujung Meja

576
×

Lebaran tanpa Kursi di Ujung Meja

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi cerpen Lebaran Tanpa Kursi di Ujung Meja
Ilustrasi cerpen Lebaran Tanpa Kursi di Ujung Meja (Al)

Ketika satu persatu buah hatinya pergi meninggalkan rumah untuk melanjutkan studi, bapak dan ibu tetap setia menanti kehadiran kami, sambil duduk di kursi di ujung meja.

Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah; guru TK IT Handayani Menganti, Gresik, Jawa Timur

Tagar.co – Takbir berkumandang sejak malam, menggema dari Masjid At-Taqwa di ujung jalan desa hingga ke sela-sela dinding rumah yang kini terasa lebih sunyi.

Dinding yang terbuat dari bambu, dinding yang bisa memberikan rasa sejuk di kala musim kemarau, dan bertambah dingin saat musim penghujan datang.

Aku duduk di ruang tamu, memandangi dua kursi kosong di ujung meja makan. Kursi itu tidak pernah pindah, seolah ada harapan yang enggan benar-benar kulepaskan.

Dua puluh lima tahun yang lalu, di kursi kayu itu, bapak selalu duduk sambil tersenyum lebar, menyendok opor ayam buatan Ibu dengan penuh semangat.

Tidak ada satupun dari anaknya yang boleh duduk dikursi itu selain bapak. Kami, tujuh bersaudara selalu mengosongkan kursi itu untuk bapak seorang. Sementara itu, di sebelahnya adalah kursi tempat ibuku, ratu di keluarga kami yang selalu menemani hari-hari kami tanpa keluh kesah.

Baca Juga:  Tiket Terakhir Menuju Pulang

Sehari sebelumnya, ibu rela menyembelih ayam peliharaannya agar bisa menyuguhkan hidangan istimewa untuk kami di hari yang tak kalah istimewa.

Perjuangan ibu tidak hanya membuat masakan terasa lezat saja, ibu juga harus mengeluarkan segenap energinya untuk bermain kejar-kejaran dengan ayam yang akan dia sembelih.

Jajanan khas lebaran juga selalu penuh di meja. Semua adalah hasil karya ibuku sendiri, walau kadang kami, para anaknya diberi tugas sederhana, entah itu mengoleskan margarin di atas loyang atau hanya sekadar memasang mata pada salah satu kue favorit kami, kue pan panan.

Tepat di hari lebaran, kue-kue itu berjajar rapi di atas meja. Ada kue kacang, kue semprong, kue semprit, kue pan panan, rengginang, madu mongso, kacang- jagung.

Saat proses pembuatan, biasanya, kami para anak-anaknya boleh icip-icip kue yang gosong, sedangkan yang sempurna tidak boleh kami makan sebelum hari raya.

“Kenapa mesti yang gosong sih, Bu?” tanyaku meski tahu jawabannya akan selalu sama dari tahun ke tahun. Mengingat itu semua rasanya seperti kembali ke masa lalu.

Baca Juga:  Tiga Saf Tersisa

Ada tawa kecil, teguran lembut, suara sendok beradu dengan piring menjadi musik khas setiap pagi di hari lebaran.

Bapak adalah sesepuh di kampung, sehingga menjadikan kami anak-anaknya hampir tidak pernah bersilaturahmi ke tetangga di hari lebaran karena rumah kami akan selalu penuh dengan hadirnya para tetangga dan handai taulan.

Bagaimana dengan baju baru? Ibu selalu menjadi garda terdepan bagi kami demi mewujudkan itu semua. Dia rela begadang hanya untuk menjahit baju untuk kami gunakan di hari lebaran.

Setiap benang yang menyatu dengan kain adalah bukti ketulusan hatinya untuk kebahagiaan putra putrinya.

Ketika satu persatu buah hatinya pergi meninggalkan rumah untuk melanjutkan studi, bapak dan ibu tetap setia menanti kehadiran kami, sambil duduk di kursi di ujung meja.

Kini, dua puluh lima tahun berlalu, kursi itu sudah tidak lagi bertuan. Setiap lebaran datang, menyisakan kenangan indah akan hari itu, hari dimana ada suara canda tawa bapak dan ibu. Hari ketika rasa penat seolah sirna oleh kalimat penyejuk dari bapak dan ibu.

Baca Juga:  Gagal Menikah Dua Kali

“Jangan pernah malu menjadi orang miskin, karena miskin itu bukan aib. Malulah jika berpura-pura kaya, tidak jujur pada keadaan. Banggalah saat kamu berjuang secara halal, bersyukur, dan bekerja keras daripada memaksakan gaya hidup,” pesan bapak yang selalu terngiang dalam hatiku.

Senyum itu, senyum yang paling indah. Senyum bapak dan ibu saat menyambutku di kursi yang selalu sama. Kini, dua puluh lima tahun berlalu, lebaran berlalu tanpa kursi di ujung meja. (#)

Penyunting Ichwan Arif