Rileks

Catatan Perjalanan ke Negeri Paman Trump: Ketatnya Imigrasi, Pesona San Francisco, dan Ironi di Baliknya

674
×

Catatan Perjalanan ke Negeri Paman Trump: Ketatnya Imigrasi, Pesona San Francisco, dan Ironi di Baliknya

Sebarkan artikel ini
Penulis di Beverly Hills, tempat pemukiman selebreti Amerika.

Mulai dari pemeriksaan imigrasi yang tegas, keindahan Golden Gate dan teluk San Francisco, hingga kehidupan tunawisma yang memprihatinkan—inilah potret Amerika dari dekat, tanpa lapisan gemerlap.

Catatan Perjalanan ke Negeri Paman Trump (Seri 1): Ketatnya Imigrasi, Pesona San Francisco, dan Ironi di Baliknya

Oleh dr. Mohamad Isa

Tagar.co – Kunjungan saya ke Amerika Serikat ini sebenarnya sudah berlangsung dua tahun lalu. Namun, ketika Presiden Donald Trump kembali jadi sorotan dunia karena kebijakan Tarif Resiprokal-nya yang menghebohkan, saya tergerak untuk berbagi catatan lama ini.

Bukan soal politiknya, tapi tentang pengalaman pribadi menyusuri sisi lain kehidupan di negeri adidaya itu—yang, seperti negara mana pun, punya dua wajah: baik dan buruknya.

Proses Imigrasi: Ketat tapi Tertib

Setelah menempuh penerbangan panjang dari Jakarta lewat Narita, Jepang, kami mendarat di Bandara Internasional San Francisco. Proses imigrasi di sini cukup ketat. Petugas dengan ekspresi serius memeriksa dokumen perjalanan satu per satu. Mereka menanyakan tujuan kami datang, serta alasan masuk ke Amerika Serikat. Setelah sekitar 15 menit interogasi, barulah kami bisa lolos.

Bagasi: Mandiri dan Bayar Troli

Tempat pengambilan bagasi cukup luas dan tertata. Prosesnya cepat dan rapi. Namun, jangan berharap ada porter membantu. Semua dilakukan secara mandiri, termasuk mengangkut koper. Bila butuh troli, tersedia banyak—tapi dengan biaya sewa 10 dolar per troli. Ya, di negeri ini, bantuan berarti pengeluaran ekstra.

Baca Juga:  Waspada terhadap Kemunculan Superflu di Indonesia

Kepabeanan: Serius dan tanpa Kompromi

Pemeriksaan bea cukai tak kalah ketat. Semua tas dibuka dan diperiksa. Barang-barang yang dilarang, seperti makanan basah atau bahan berbahaya, akan langsung disita. Anjing pelacak dikerahkan untuk mengendus barang mencurigakan. Semua proses dilakukan tanpa basa-basi, penuh ketelitian.

Menikmati San Francisco: Angin Pasifik dan Es Krim

Keluar dari bandara, tujuan pertama kami adalah Fisherman’s Wharf, pelabuhan indah di tepi Samudra Pasifik. Kami duduk santai di plaza pelabuhan, ditemani hembusan angin laut yang cukup kencang. Lalu kami ikut tur kapal pesiar mengelilingi Teluk San Francisco, melintasi Jembatan Golden Gate yang terkenal itu dan mengitari Pulau Alcatraz, bekas penjara legendaris yang kini jadi destinasi wisata. Tur ini berlangsung 45 menit, biayanya 20 dolar per orang.

Baca juga: Dari Hollywood hingga Masjid At-Thohir: Mengenang Perjalanan ke Los Angeles sebelum Dilanda Kebakaran

Di sekitar pelabuhan, para turis tampak berseliweran—ada yang berjalan kaki, ada pula yang menyewa sepeda. Restoran dan kios es krim berjajar. Parkir mobil? Siap-siap merogoh kocek: 75 dolar untuk 3 jam. Di taman pelabuhan, kami makan ayam goreng halal yang gurih sambil mengamati para tunawisma yang tinggal di sudut taman.

Kami juga mengunjungi berbagai ikon wisata kota ini: Lombard Street, Twin Peaks, Ghirardelli Square, Painted Ladies, dan San Francisco City Hall. Pada hari Iduladha, kami sempat salat dan bersilaturahim di Konsulat RI—yang saat itu dipimpin oleh putra Jember, dengan istri asal Surabaya.

Baca Juga:  Petrodolar Goyah, Senjata Bicara
Penulis bersama keluarga dengan latar belakang Jembatan Golden Gate yang diselimuti awan.

Golden Gate: Simbol Superioritas Amerika

Melintasi Jembatan Golden Gate adalah pengalaman tersendiri. Kami sempat mengitari taman di tepiannya yang tertata rapi. Banyak turis mengabadikan momen dengan latar jembatan merah itu. Dibangun pada 1937, jembatan gantung sepanjang 1.280 meter dan tinggi 227 meter ini pernah jadi yang terpanjang di dunia—simbol kecanggihan teknik sipil Amerika. Di dalam mobil, kami memutar lagu klasik San Francisco yang dinyanyikan Scott McKenzie—sangat pas mengiringi perjalanan.

Homeless di Negeri Adidaya

Di balik gemerlap kota, ada sisi lain yang kontras: komunitas tunawisma. Di beberapa ruas jalan, kami melihat tenda-tenda kumuh berdiri tanpa fasilitas sanitasi memadai. Sebuah ironi di tengah negara maju, mencerminkan masalah struktural seperti pengangguran dan keterbatasan layanan sosial.

Jalan-Jalan dan Kendaraan

Jalan-jalan di AS lebar dan lancar. Ada jalan bebas hambatan (highway) enam lajur, jalan besar empat lajur (road), dan jalan kota dua lajur (street). Sebagian besar gratis, hanya beberapa yang berbayar (tol). Mobil mendominasi; mulai dari buatan Jepang, Korea, Eropa, hingga Amerika. Mobil Jepang paling banyak. Mobil listrik Tesla juga terlihat mencolok dengan warna mencolok dan desain futuristik.

Harga bensin saat itu sekitar 4 dolar per galon (setara 3,785 liter), atau sekitar Rp 17.500 per liter dengan kurs saat itu Rp 16.500 per dolar.

Pusat Belanja: Premium dan Pasar Kaki Lima

Kami berkunjung ke San Francisco Premium Outlets di Livermore, sekitar 45 menit dari pusat kota. Di sini berjajar merek-merek ternama dunia seperti Gucci, Coach, Michael Kors, dan banyak lagi. Diskon besar kerap ditawarkan, sangat menggoda para pemburu belanja.

Baca Juga:  Trump, Ikhwanul Muslimin, dan Kriminalisasi Perjuangan Palestina

Di sisi lain, ada juga pasar kaki lima yang menjual barang bekas. Pasar ini biasanya digelar di lapangan luas, dan penjualnya kebanyakan imigran dari Meksiko. Aneka barang ditawarkan, dari pakaian hingga peralatan rumah tangga.

Supermarket: Serbuan Produk Global

Supermarket di Amerika beragam. Mulai dari yang menjual kebutuhan harian, perlengkapan bangunan, sampai tanaman. Produk made in China membanjiri rak. Ada juga produk dari Eropa, Asia, termasuk Indonesia. Saya sempat menemukan mi instan, sepatu, dan pakaian buatan Indonesia—bangga juga melihatnya.

Penutup: Amerika, Negeri Banyak Wajah

Amerika adalah negeri besar yang dihuni oleh berbagai etnis dan latar budaya. Semangat keragaman tampak dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kebijakan “America First” dari Presiden Trump menimbulkan dampak ke dalam dan luar negeri. Seperti Tarif Resiprokal yang menuai kontroversi itu—simbol bagaimana satu kebijakan bisa mengguncang panggung global.

Tapi satu hal yang pasti: di tengah gegap gempita kekuatan ekonomi dan militer, kehidupan sosial di AS tetaplah kompleks. Dunia memang saling terhubung. Kita adalah bagian dari komunitas global—tak bisa hidup sendiri, tak bisa dipisahkan satu sama lain.

Banjarmasin, 20 April 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni