
Mahasiswa KKN Stikes Muhammadiyah Bojonegoro menggelar edukasi anti bullying, gerakan menabung, dan pohon cita-cita di tiga sekolah dasar Desa Jatiblimbing untuk membangun karakter serta empati siswa.
Tagar.co — Mentari pagi di Desa Jatiblimbing, Kecamatan Dander, Bojonegoro, terasa lebih hangat. Riuh suara anak-anak sekolah dasar menyambut kedatangan sekelompok pemuda berseragam rompi krem. Mereka adalah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Stikes Muhammadiyah Bojonegoro (Maboro) yang membawa misi penting: memutus rantai perundungan sejak dini.
Selama tiga hari, yakni Senin hingga Selasa (19–20/1/2026) dan Kamis (22/1/2026), suasana di SDN semarak. Para mahasiswa tidak sekadar datang untuk menggugurkan kewajiban pengabdian, melainkan menyemai benih karakter pada jiwa-jiwa muda. Fokus mereka jelas, memberikan edukasi anti bullying bagi siswa kelas rendah hingga kelas tinggi.
Menanam Empati lewat Simulasi Ceria
Rere Restiara, salah satu mahasiswa KKN, berdiri di depan kelas dengan semangat yang meluap. Ia tidak menggunakan metode ceramah yang membosankan. Sebaliknya, Rere memilih pendekatan interaktif agar pesan “Stop Bullying” benar-benar meresap ke sanubari anak-anak. Melalui diskusi hangat, permainan edukatif, dan simulasi sederhana, ia mengajak para siswa menyelami perasaan sesama.
“Kami ingin menanamkan pemahaman sejak dini mengenai bahaya perundungan. Kami juga ingin membangun sikap saling menghargai, empati, dan toleransi di lingkungan sekolah ini,” ujar Rere di sela-sela kegiatannya.
Para siswa mengikuti setiap sesi dengan antusiasme tinggi. Dalam salah satu simulasi, mereka belajar bagaimana sebuah kata-kata kasar dapat melukai hati teman, layaknya kertas yang diremas hingga kusut dan tidak bisa kembali mulus seperti semula. Metode visual ini membuat anak-anak terdiam sejenak, meresapi bahwa tindakan kecil mereka memiliki dampak besar bagi orang lain.
Koordinator KKN Desa Jatiblimbing, A. Abdil Thoriq, menjelaskan pendekatan ini sengaja mereka rancang agar anak-anak tidak merasa sedang digurui. “Siswa lebih mudah menangkap materi jika mereka terlibat langsung dalam permainan. Kami ingin menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah anak,” tuturnya.
Pohon Impian dan Tabungan Masa Depan
Keseruan tidak berhenti di edukasi anti bullying saja. Khusus di SDN Jatiblimbing 2, tim KKN Maboro memberikan sentuhan tambahan melalui program “Gerakan Gemar Menabung” dan “Pohon Cita-cita”. Thoriq menilai, pembentukan karakter tidak hanya soal berperilaku baik kepada orang lain, tetapi juga disiplin terhadap diri sendiri dan berani bermimpi besar.
Melalui Gerakan Gemar Menabung, mahasiswa mengajarkan siswa cara mengelola uang saku dengan bijak. Mereka menanamkan prinsip hidup hemat sejak usia dini agar kelak anak-anak ini memiliki kemandirian finansial. Sementara itu, Pohon Cita-cita menjadi pojok paling berwarna di kelas. Di sana, setiap siswa menuliskan impian mereka pada lembar kertas berbentuk daun, lalu menempelkannya di dahan-dahan “pohon” buatan tersebut.
Perwakilan mahasiswa KKN, Lucky Muhamad Annas, memandang rangkaian program ini sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan Desa Jatiblimbing. Ia melihat potensi besar pada anak-anak tersebut jika mereka mendapatkan pendampingan yang tepat.
“Kami berharap rangkaian program ini memberikan kontribusi positif dalam pembentukan karakter siswa. Kami ingin memotivasi mereka agar berani bermimpi dan merencanakan masa depan yang lebih baik melalui pohon cita-cita tersebut,” ungkap Lucky penuh harap.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa Stikes Maboro tidak hanya berkutat dengan urusan medis dan kesehatan, tetapi juga peduli pada fondasi pendidikan dan penguatan karakter generasi penerus bangsa. (#)
Jurnalis Lucky Muhamad Annas Penyunting Sayyidah Nuriyah












