
Brainrot dan prokrastinasi kini menjelma dua penyakit zaman yang menggerogoti fokus, disiplin, dan produktivitas generasi muda. Di tengah derasnya arus digital, artikel ini mengajak kita memahami akar persoalan sekaligus menelusuri jalan keluar yang ditawarkan psikologi dan Islam.
Oleh Ansorul Hakim, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur
Tagar.co – Di tengah ledakan teknologi digital, semakin banyak generasi muda yang mengeluhkan kelelahan mental, sulit berkonsentrasi, dan kecenderungan kuat untuk menunda pekerjaan.
Ironisnya, semua itu terjadi bukan karena kekurangan kesempatan, melainkan karena banjir distraksi. Fenomena ini populer disebut brainrot—istilah nonmedis yang menggambarkan kemerosotan fokus dan kejernihan berpikir akibat konsumsi konten instan yang berlebihan.
Brainrot bukan sekadar tren istilah. Ia telah menjelma sebagai gejala budaya digital yang berdampak nyata terhadap perilaku sehari-hari, terutama dalam bentuk prokrastinasi—kebiasaan menunda tugas penting meski sadar akan konsekuensinya.
Baca juga: Khauf: Fondasi Etika dalam Dunia yang Serba Bebas
Dalam psikologi kognitif, perhatian (attention) dipahami sebagai sumber daya mental yang terbatas. Teori Cognitive Load yang dikemukakan John Sweller menjelaskan bahwa otak manusia hanya mampu memproses sejumlah informasi dalam satu waktu.
Ketika ruang mental itu terus-menerus dibanjiri video pendek, notifikasi tanpa henti, dan scrolling impulsif, kapasitas kognitif mengalami kelelahan. Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan fokus mendalam—membaca, belajar, merenung, dan berpikir kritis—terasa semakin berat.
Di titik inilah prokrastinasi menemukan lahannya. Temporal Motivation Theory dari Piers Steel menjelaskan bahwa seseorang cenderung menunda pekerjaan ketika tugas terasa sulit, hasilnya terasa jauh, sementara godaan instan hadir di depan mata.
Brainrot memperkuat mekanisme ini. Otak dilatih untuk mengejar kepuasan cepat (instant gratification), sehingga proses yang menuntut kesabaran dan ketekunan terasa melelahkan, bahkan menjengkelkan.
Islam dan waktu
Islam sejak awal telah memberi peringatan keras tentang bahaya menyia-nyiakan waktu dan potensi akal. Allah Swt berfirman, “Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian” (Al-‘Asr: 1–2). Para ulama menafsirkan ayat ini sebagai peringatan bahwa waktu dan akal adalah modal utama kehidupan. Ketika keduanya dibiarkan tergerus tanpa arah, kerugian menjadi keniscayaan.
Dalam pandangan Islam, akal adalah amanah. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa hati dan akal harus dilatih dengan mujahadah—kesungguhan melawan kecenderungan malas dan nafsu instan—agar tidak dikuasai kebiasaan buruk. Konsumsi konten instan yang berlebihan secara perlahan meruntuhkan mujahadah itu, karena melatih manusia untuk selalu memilih yang mudah, bukan yang bermakna.
Prokrastinasi juga berakar pada lemahnya pengelolaan niat dan tujuan hidup. Rasulullah Saw mengingatkan: “Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, waktu luangmu sebelum sibukmu…” (Al-Hakim). Hadis ini menegaskan urgensi disiplin diri dan kesadaran waktu—dua hal yang hari ini terkikis oleh budaya digital serba cepat.
Namun Islam tidak berhenti pada kritik. Ia menawarkan jalan keluar yang konkret. Pertama, tanzhim al-waqt (manajemen waktu) berbasis kesadaran ibadah. Salat lima waktu, misalnya, bukan sekadar ritual, tetapi latihan fokus dan jeda alami dari distraksi.
Kedua, tadabbur dan membaca secara mendalam sebagaimana perintah iqra’, yang melatih otak berpikir reflektif, bukan reaktif. Ketiga, muhasabah digital—mengevaluasi apa yang kita konsumsi, untuk apa, dan bagaimana dampaknya bagi jiwa dan produktivitas.
Brainrot dan prokrastinasi sejatinya adalah alarm zaman. Ia menandai bahwa manusia modern tidak kekurangan potensi, melainkan kehilangan ruang sunyi untuk berpikir dan disiplin untuk menata waktu. Generasi muda hari ini tidak miskin kemampuan, tetapi sering terjebak dalam kebisingan algoritma yang mematikan kedalaman.
Melawan brainrot bukan berarti menolak teknologi. Yang dibutuhkan adalah menempatkan teknologi sebagai alat, bukan tuan. Sebab, seperti kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, “Waktu adalah kehidupan. Jika ia berlalu tanpa makna, maka kehidupan pun hilang.”
Di titik inilah kesadaran menjadi kunci—agar kita berhenti menunda, dan mulai benar-benar hidup. (#)
Penyunring Mohammad Nurfatoni












