Telaah

Ikhlas di Zaman Suka dan Sorak

×

Ikhlas di Zaman Suka dan Sorak

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Ketika kebaikan mudah berubah menjadi tontonan dan pujian terasa lebih cepat datang daripada ketenangan, di situlah ikhlas diuji. Bagaimana menjaga hati agar tetap lurus di tengah hiruk-pikuk validasi?

Oleh Ansorul Hakim, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur

Tagar.co – Zaman ini bukan hanya dipenuhi suara, tetapi juga penilaian. Hampir setiap tindakan bermuara pada angka: jumlah suka, komentar, tayangan, dan reaksi. Validasi sosial menjelma mata uang baru—menentukan rasa percaya diri, harga diri, bahkan makna keberhasilan seseorang. Dalam keramaian itulah keikhlasan diuji paling serius.

Dalam Islam, ikhlas bukan sekadar niat baik, melainkan orientasi batin yang jernih dan lurus. Ikhlas berarti memurnikan tujuan hanya karena Allah, bukan karena ingin dilihat, dipuji, atau diakui manusia.

Baca juga: Ketika Hidup Bekerja seperti Algoritma

Al-Qur’an menegaskan, “Padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya” (Al-Bayyinah: 5). Ayat ini terdengar sederhana, tetapi berat untuk diamalkan—terutama di era ketika eksistensi sering diukur dari sorotan publik.

Baca Juga:  Beasiswa Mentari Berbuah Prestasi, Pelajar Bojonegoro Juara 2 Tahfiz Se-Jawa Timur

Fenomena ini tidak berhenti pada media sosial. Di dunia kerja, aktivitas sosial, bahkan di ruang ibadah, dorongan untuk “terlihat” kerap menyusup tanpa disadari. Amal perlahan bergeser menjadi ajang pencitraan. Kebaikan tetap dilakukan, tetapi disertai harapan pengakuan. Di titik inilah keikhlasan menjadi rapuh: hadir di lisan, tetapi goyah di dalam hati.

Rasulullah Saw. telah mengingatkan bahaya ini sejak awal Islam. Dalam hadis riwayat Muslim, disebutkan bahwa orang pertama yang diadili pada hari kiamat termasuk orang berilmu dan dermawan yang amalnya gugur karena tidak ikhlas—semua dilakukan agar disebut alim dan dermawan. Hadis ini bukan sekadar kisah akhirat, melainkan cermin tajam bagi kehidupan modern yang akrab dengan tepuk tangan dan pujian.

Secara psikologis, manusia memang membutuhkan pengakuan. Islam tidak menafikan sisi kemanusiaan ini. Namun Islam mengajarkan keseimbangan: kebutuhan akan apresiasi tidak boleh menjadi pusat orientasi hidup. Ketika validasi manusia dijadikan tujuan utama, batin justru mudah lelah. Standar manusia selalu berubah, selera publik cepat bergeser, dan kepuasan tak pernah benar-benar final. Inilah paradoks zaman: semakin banyak pengakuan, semakin kosong perasaan.

Baca Juga:  RSA Bojonegoro Salurkan Donasi Rp53 Juta untuk Korban Bencana di Aceh dan Sumatra

Keikhlasan bekerja dengan cara yang berbeda. Ia tidak gaduh, tidak tergesa ingin dilihat. Amal yang ikhlas sering kali sunyi, bahkan sepi apresiasi. Namun justru di situlah letak ketenangannya. Orang yang ikhlas tidak terlalu sibuk mengukur respons manusia, karena ia yakin Allah Maha Melihat—bahkan ketika tak seorang pun memperhatikan.

Menemukan keikhlasan di tengah ramainya validasi bukan berarti menolak teknologi atau menutup diri dari ruang publik. Islam tidak melarang amal diketahui orang lain. Yang menjadi masalah adalah ketika pujian dijadikan bahan bakar utama. Umar bin Khattab pernah berdoa, “Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku saleh, jadikanlah ia ikhlas karena-Mu, dan jangan Engkau jadikan bagi siapa pun bagian di dalamnya.”

Doa ini terasa sangat relevan hari ini. Ia mengajarkan bahwa ikhlas bukan kondisi statis, melainkan perjuangan batin yang harus terus diperbarui. Hati perlu diajak jujur, berkali-kali: untuk siapa sebenarnya semua ini dilakukan?

Di tengah budaya pamer kebaikan dan kompetisi citra, ikhlas adalah bentuk perlawanan yang sunyi. Ia tidak viral, tetapi menenangkan. Ia tidak selalu diapresiasi, tetapi menyelamatkan. Dan barangkali, di zaman yang bising oleh validasi, keikhlasan adalah cara paling hening untuk tetap waras—dan tetap bernilai di hadapan Tuhan. (#)

Baca Juga:  Puasa sebagai Perisai Diri

Penyunting Mohammad Nurfatoni