Telaah

Menjelang Idulfitri, Mengapa Ibadah Justru Harus Ditingkatkan?

138
×

Menjelang Idulfitri, Mengapa Ibadah Justru Harus Ditingkatkan?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi freepik.com premium

Di saat banyak orang mulai lengah, teladan Nabi dan ulama menunjukkan bahwa akhir Ramadan adalah momentum puncak kesungguhan spiritual.

Oleh Ansorul Hakim, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur

Tagar.co — Menjelang akhir Ramadan, sebagian umat Islam mulai mengendurkan intensitas ibadah. Energi yang menurun, disertai kesibukan menyiapkan hari raya, kerap membuat suasana spiritual perlahan tergeser oleh urusan duniawi. Namun, kondisi ini justru berbanding terbalik dengan teladan orang-orang saleh.

Alih-alih mengendur, mereka semakin meningkatkan kesungguhan ibadah saat memasuki fase akhir Ramadan, terutama pada sepuluh malam terakhir.

Baca juga: Menang di Akhir Ramadan

Dalam perspektif Islam, penutup amal memiliki nilai yang sangat menentukan. Amal yang dijalani dengan baik akan terasa lebih sempurna jika diakhiri dengan kesungguhan. Karena itu, orang-orang saleh tidak ingin perjalanan spiritual selama hampir sebulan berakhir dengan kelalaian.

Teladan ini tampak jelas dalam praktik ibadah Nabi Muhammad Saw. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, beliau meningkatkan intensitas ibadah secara luar biasa. Malam-malam dihidupkan dengan salat, doa diperbanyak, dan keluarga dibangunkan agar turut meraih keberkahan.

Baca Juga:  Puasa dan Godaan Meja Berbuka: Belajar Berkata “Cukup”

Sikap tersebut menegaskan bahwa akhir Ramadan bukanlah waktu untuk beristirahat dari ibadah, melainkan momentum untuk mencapai puncak kesungguhan spiritual.

Ulama generasi awal pun mencontohkan hal serupa. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif menyebutkan bahwa para salafus saleh sangat memuliakan sepuluh malam terakhir Ramadan. Mereka memperbanyak qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, bersedekah, serta melangitkan doa-doa terbaik.

Tiga Alasan

Ada sejumlah alasan mengapa mereka tidak pernah bersantai di fase krusial ini.

Pertama, pada sepuluh malam terakhir terdapat Lailatulqadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Kesempatan meraih pahala luar biasa ini membuat mereka tidak ingin melewatkan satu malam pun.

Kedua, kesadaran bahwa Ramadan adalah kesempatan yang belum tentu terulang. Tidak ada jaminan seseorang akan bertemu kembali dengan Ramadan tahun berikutnya. Karena itu, setiap waktu dimanfaatkan secara maksimal.

Ketiga, dorongan untuk menutup Ramadan dengan amal terbaik. Dalam tradisi spiritual Islam, penutup yang baik sering kali menjadi penentu kualitas keseluruhan amal.

Sebaliknya, mereka yang justru menurun semangatnya di penghujung Ramadan berisiko kehilangan momentum spiritual yang sangat berharga. Padahal, fase akhir inilah puncak dari seluruh rangkaian ibadah selama sebulan penuh.

Baca Juga:  Refleksi Nuzululquran: Lima Ikhtiar Menghidupkan Nilai-Nilai Al-Qur’an

Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah di hari-hari terakhir Ramadan, seperti memperbanyak salat malam, tilawah Al-Qur’an, berdoa, serta memperkuat kepedulian sosial melalui sedekah.

Kesungguhan orang-orang saleh di akhir Ramadan memberikan pelajaran penting: keberhasilan spiritual tidak hanya ditentukan oleh bagaimana seseorang memulai, tetapi juga oleh bagaimana ia menutupnya.

Jika Ramadan diibaratkan sebuah perjalanan, maka sepuluh hari terakhir adalah garis akhir yang menentukan. Pada titik inilah, mereka yang bersungguh-sungguh justru akan berlari lebih cepat, bukan melambat—karena kemenangan spiritual kerap ditentukan oleh langkah terakhir yang penuh kesungguhan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni