
Saat gelap tiba, kejutan mewarnai petualangan di Sungai Sekonyer. Rombongan berinisiatif menyaksikan gemintang dari rooftop kelotok. Milky Way (Galaksi Bimasakti) menampakkan diri.
Tagar.co — Saat langit makin gelap, keajaiban bertualang naik kelotok di Sungai Sekonyer Taman Nasional Tanjung Puting, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, belum usai. Justru pertunjukan di angkasa baru dimulai.
Jumat (27/6/2025) malam, saya dan rombongan open trip baru saja mengisi perut usai penjelajahan malam di Camp 2, Pondok Tanggui. Perasaan kenyang bercampur letih menghinggapi, tapi waktu yang menunjukkan pukul 21.00 WIB terasa masih terlalu sore untuk langsung tidur.
Liburan memang aneh. Beristirahat lebih awal rasanya berdosa, sebab melewatkan kesempatan menikmati indahnya semesta. Maka saya kembali naik ke rooftop kelotok, tempat ternyaman mengedarkan pandangan yang luas dan bebas ke alam sekitar. Beberapa teman mengikuti.
Usai menapaki tiga anak tangga yang terpasang renggang, tibalah di rooftop yang hanya ada kursi kayu dan panel surya. Menatap ke langit, saya tak menyangka akan mendapat suguhan luar biasa: langit penuh gemintang. Keajaiban ini terjadi pada malam pertama mengapung di sungai sepanjang 45 kilometer tersebut.
Di tengah hutan hujan tropis yang gelap pekat, dengan Sungai Sekonyer membentang senyap bernuansa senada, plus lampu kelotok kompak temaram, langit malam pun tampak menonjol. Malam yang cerah didukung kegelapan tanpa polusi cahaya ini sangat sempurna mewujudkan terlihatnya Galaksi Bimasakti. Masih terang dalam ingatan, indahnya susunan kabut putih melintasi angkasa yang berseling alur hitam di tengahnya.

Milky Way Perdana
Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya bersyukur bisa menyaksikan langsung Milky Way dengan mata kepala sendiri. Saya akhirnya rebahan di salah satu sisi kursi kayu berbentuk U.
Sungguh berharap bisa menghentikan waktu agar kumpulan bintang-bintang itu tetap bisa saya amati sepanjang malam. Ribuan gemintang itu mencerminkan keagungan-Nya. Betapa mungil diri ini di semesta ciptaan-Nya.
Saat itu, saya hampir menyerah mengabadikan momen berharga dengan kamera ponsel saya yang fiturnya terbatas. Pasrah mengingatnya dalam memori saja berdasarkan yang terindera oleh mata saya.
Namun, melihat kesabaran rekan open trip Dinda Indira mengajari sang kakak, dr. Ayu Sasmita Rany, Sp.A., CIMI memotret pakai kamera ponselnya, saya pun tertarik berguru. Lagi-lagi, Dinda gigih mencoba mengajari pengaturan fitur kamera Pro yang ada di ponsel saya. Bagaimana pengaturan ISO, fokus, White Balance, maupun exposure timenya.
Saya mencoba beberapa kali, namun hasilnya gemintang tetap terpotret goyang. Dinda pun meminjamkan tripodnya. “Pakai tripod aja Kak, biar nggak goyang gambarnya,” ujar Dinda.
Peserta open trip lainnya, Dion Tantoni, menyarankan agar meletakkan ponsel di atas meja untuk meminimalkan goyang. “Stabil kok, goyangan mejanya ikut kapal (kelotok),” imbuh Dion sambil menunjukkan hasil foto di ponselnya.
Hingga satu jam berlalu, tak peduli betapa dingin angin malam berembus, saya masih memutuskan tinggal di rooftop. Bertahan mengamati bintang-bintang yang sebagian mulai tertutup awan. Rasanya tetap magis, dengan hiasan siluet pucuk pepohonan di bawahnya.
Sementara peserta open trip lain, mulai banyak yang memutuskan turun. Lanjut beristirahat di lantai 2 usai puas mendapatkan foto yang apik.
Sebelumnya, saya tidak pernah membayangkan bisa tidur di bawah langit kaya gemintang dalam perjalanan ini. Ternyata, malam pertama tidur di kelotok bukan sekadar perjalanan. Ini akan jadi pengingat betapa semesta menyimpan kejutan indah untuk siapa pun yang bersedia memandang lebih lama. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












