
Tak semua yang rajin ibadah mampu bersikap lembut. Agama bukan hanya tentang hubungan dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan manusia lain.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang.
Tagar.co – Belajar agama memang mulia, tetapi kemuliaan itu tidak akan sempurna tanpa kemanusiaan yang melekat di dalamnya.
Banyak orang mengira bahwa kesalehan cukup diukur dari seberapa khusyuk ibadahnya, seberapa banyak hafalan ayat atau hadisnya, atau seberapa sering ia hadir di majelis ilmu. Padahal, agama bukan sekadar ritual, melainkan juga cermin akhlak dan budi pekerti.
Baca juga: Maaf, Tuhan… Ibadahku Belum Sempurna
Seseorang yang benar-benar memahami agama semestinya juga menjadi pribadi yang lembut, penuh empati, dan mampu menjaga perasaan orang lain. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. menegaskan bahwa misi utama Nabi Muhammad Saw. adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (Al-Ahzab: 21)
Keteladanan Rasulullah Saw. tidak hanya tampak dalam ibadah mahdah seperti salat atau puasa, tetapi juga dalam akhlak terhadap sesama. Beliau selalu mengedepankan keramahan, memaafkan, dan menghargai perasaan orang lain. Rasulullah Saw. bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (H.R. Ahmad)
Kesalehan sosial merupakan bukti nyata dari kesalehan spiritual. Kita sering menyaksikan orang yang rajin salat tetapi mudah meremehkan orang lain, mencela, atau bersikap kasar. Padahal, salat seharusnya menjadi benteng yang menghalangi dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Al-Ankabut: 45)
Ilmu agama yang dipelajari tanpa diiringi rasa kemanusiaan bisa berubah menjadi kesombongan rohani. Seseorang merasa paling benar, paling suci, bahkan menghakimi orang lain. Inilah yang membuat agama menjadi kering dan kaku, jauh dari makna rahmatan lil ‘alamin. Nabi Saw. bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Agama Islam tidak diturunkan untuk menjadikan manusia saling bermusuhan, melainkan untuk mempererat tali persaudaraan. Menghormati orang lain, merawat hubungan, menebar salam, dan tersenyum adalah ibadah yang tidak kalah penting dari ibadah ritual. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Dan ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia.” (Al-Baqarah: 83)
Menjadi pandai beribadah saja belum cukup. Ukuran keberhasilan dalam belajar agama juga tercermin dari bagaimana kita memperlakukan orang lain—baik keluarga, tetangga, maupun orang yang tidak kita kenal. Semakin tinggi ilmu, semestinya semakin rendah hati. Semakin banyak ibadah, semestinya semakin luas kasih sayang.
Sikap yang manusiawi adalah cerminan dari iman yang matang. Tak sedikit orang yang rajin mengikuti pengajian, tetapi masih mudah marah di jalan, suka mencela di media sosial, atau enggan menolong sesama. Ini adalah bentuk kontradiksi yang seharusnya kita hindari.
Kelembutan hati dan kebaikan tutur kata lebih sulit dipraktikkan dibandingkan sekadar menghafal ayat atau hadis. Tetapi justru inilah yang membuat ajaran Islam terasa indah. Nabi Saw. pernah bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (H.R. Ahmad)
Agar kita tidak hanya menjadi orang yang rajin ibadah, tetapi juga manusia yang memuliakan sesama, mari selalu ingat dua hal: luruskan niat dan lembutkan akhlak. Selama hidup, ilmu agama harus menjadi cahaya yang membimbing langkah, bukan pedang yang melukai orang lain.
Inilah makna mendalam dari belajar agama: bukan hanya untuk mendekat kepada Tuhan, tetapi juga untuk mendekatkan hati kepada sesama manusia. Dengan begitu, kita dapat menjalani kehidupan yang lebih damai, penuh makna, dan diridai Allah Swt. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












