Feature

ADI Jawa Timur Kukuhkan 16 Dai Muda: Siap Terjun ke Medan Dakwah

742
×

ADI Jawa Timur Kukuhkan 16 Dai Muda: Siap Terjun ke Medan Dakwah

Sebarkan artikel ini
Wisudawati bersama musyrif danpara tokoh (Tagar.co/Sadidatul Azka)

Dari hafalan Qur’an hingga keterampilan jurnalistik, para dai muda ADI Jawa Timur ditempa dengan sembilan kompetensi kehidupan. Kini, mereka siap menjadi penerang di tengah kegelapan zaman.

Tagar.co — Malam itu, Sabtu (23/8/25) langkah kaki para mahasantri Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Jawa Timur terasa lebih ringan. Senyum sumringah, balutan busana rapi, dan cahaya harapan terpancar dari wajah mereka.

Saat itu bukan malam biasa, melainkan momen yang telah lama dinanti: wisuda dan pelepasan mahasantri tahun ajaran 2024/2025, sebuah gerbang baru menuju jalan dakwah yang lebih luas.

Baca juga: Mastama ADI Jatim Berakhir, Gelora Dakwah Terus Menyala

Acara bertema “Membangun Peradaban Islam melalui Dakwah” dimulai tepat pukul 19.00 WIB. Di bawah langit Surabaya yang syahdu, suasana sakral kian terasa ketika 16 mahasantri—tiga laki-laki dan tiga belas perempuan—resmi dikukuhkan.

Mereka siap mengemban amanah sebagai penerus dakwah. Enam di antaranya akan melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir Jakarta, sementara lainnya akan terjun ke masyarakat selama setahun penuh, menyatu dengan umat dan menyalakan cahaya dakwah di pelosok Jawa Timur.

Baca Juga:  Bupati Dilaporkan Wakilnya, Rakyat Jember yang Jadi Korban
Wisudawati bersama musyrifah (Tagar.co/Sadidatul Azka)

Lulus dari 9 Kompetensi Kehidupan

Menjadi seorang dai bukan sekadar bermodal semangat. Para wisudawan dan wisudawati ADI Jawa Timur telah melalui sembilan kompetensi penting: mulai dari tahfiz Al-Qur’an, tahfiz hadis, pelatihan tibun nabawi, bela diri, hingga kepengurusan jenazah dan ilmu faraid.

Mereka juga dibekali keterampilan jurnalistik, pelatihan mengajar Al-Qur’an, serta kemampuan menjadi imam dan khatib.

“Ini bukan sekadar sekolah,” tutur Ustaz Hairul Warizin, Direktur ADI Jatim dengan bangga. “ADI adalah kawah candradimuka yang mencetak dai tangguh, siap menghadapi tantangan zaman.”

Ayat Dakwah yang Menggema

Momen khidmat terasa ketika M. Najib Ali Azizi maju melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Suaranya yang merdu membacakan Surah An-Nahl 125 menggema di ruangan, seakan mengingatkan bahwa berdakwah bukan sekadar pilihan, melainkan panggilan hidup.

Ayat itu merasuk ke hati jemaah, menegaskan kembali misi para dai muda: menyeru kepada jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang indah.

Wisuda kali ini semakin istimewa karena bertepatan dengan Mabit Dai VI yang digelar Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Timur. Jemaah, keluarga, hingga para kader dakwah turut menyaksikan penyematan medali satu per satu.

Baca Juga:  Belajar Ikhlas, Belajar Berdamai dengan Takdir

Haru memuncak ketika ibu-ibu Muslimat berebut kesempatan berfoto bersama para wisudawati. Dengan mata berbinar, mereka menitipkan doa dan nasihat sederhana, “Mbak, kebagian tugas di mana? Semangat ya, semoga istiqomah di jalan dakwah.”

Dengan rendah hati, para wisudawati menjawab lirih, “Amin… mohon doanya, Bu.”

Jemaah (Tagar.co/Sadidatul Azka)

Jalan Dakwah Bagi yang Kuat

Tidak semua yang memulai perjalanan di ADI Jawa Timur mampu bertahan hingga akhir. Banyak yang gugur di tengah jalan, tak kuat menanggung beban amanah.

“Mengapa hanya yang kuat yang bisa bertahan?” Karena jalan dakwah bukan jalan penuh kemewahan. Ia menuntut pengorbanan, keikhlasan, dan ketabahan.

Kini, setelah resmi dilepas, para dai dan daiah muda ini akan melangkah ke medan dakwah sesungguhnya. Mereka akan menyatu dengan masyarakat, menjadi penerang di tengah kegelapan zaman, menyalakan lentera harapan bagi umat dan negeri.

Semoga mereka tetap teguh, istikamah, dan menjaga amanah besar ini—sebab dakwah bukan hanya tugas, melainkan napas kehidupan. (#)

Jurnalis Sadidatul Azka Penyunting Mohammad Nurfatoni