Feature

Mabit Dai VI: Dakwah Tak Kenal Pensiun, Jangan Takut Dicela

549
×

Mabit Dai VI: Dakwah Tak Kenal Pensiun, Jangan Takut Dicela

Sebarkan artikel ini
Pembukaan Mabit Dai VI, diisi oleh Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Jawa Timur Dr. K.H. Fathur Rohman (kiri) (Tagar.co/Sadidatul Azka)

Mabit Dai VI menjadi ruang penuh makna. Para kiai memberi pesan menggetarkan: dakwah adalah panggilan Allah, tak mengenal pensiun, dan para dai harus siap menghadapi segala hinaan manusia demi menyampaikan kebenaran.

Tagar.co – Sabtu (23/8/2025) sore, Masjid Al-Falah Darmo, Wonokromo, Surabaya, dipenuhi wajah-wajah penuh semangat. Tepat pukul 15.20 WIB, kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) Dai VI resmi dimulai.

Acara yang diadakan oleh DDII Jatim ini bukan sekadar agenda rutin yang biasa digelar setiap tahun, kali ini ada nuansa berbeda. Mabit ini bertepatan dengan wisuda sekaligus pelepasan mahasantri Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Jawa Timur yang siap mengabdi setahun penuh di medan dakwah.

Dakwah: Jalan yang Tak Mengenal Pensiun

Dalam pembukaan, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Timur, Dr. K.H. Fathur Rohman, M.Pd.I., menyampaikan pesan yang langsung menyentuh hati. Mengutip Ali Imran 104, ia menegaskan bahwa dakwah adalah panggilan Allah, bukan pilihan yang bisa ditawar.

“Ketika kita mengazamkan diri menjadi dai, jangan ragu-ragu lagi. Kita adalah yang dipilih oleh Allah untuk mengambil peran ini,” tuturnya penuh keyakinan.

Baca Juga:  Pengajian Embun Pagi Jetis Ponorogo, Ruang Teduh Menjaga Iman di Akhir Zaman

Baginya, keberanian mengambil peran dai adalah puncak keberhasilan seorang muslim. “Tidak ada dai pensiun atau dipensiunkan. Baru dikatakan pensiun ketika kita bertemu dengan kematian,” tambahnya.

Kata-kata itu membuat banyak peserta terdiam, merenung, sekaligus bersemangat.

Siapkah Kamu Jadi Dai?

Suasana kemudian mencair ketika Fathur Rohman menunjuk seorang calon mahasantri baru, Sekar Yasin asal Alor, Nusa Tenggara Timur.

Dengan nada menggugah, ia bertanya, “Siapkah kamu mengemban dakwah dan menjadi seorang dai? Kalau tidak siap, pulanglah saja.”

Sontak hadirin tertawa. Sekar Yasin pun menjawab mantap, “Siap.”

Jawaban singkat itu memantik tepuk tangan sekaligus menyalakan kembali semangat seluruh peserta.

Jangan Takut Dicela

Wejangan berikutnya datang dari K.H. Subhan. Ia mengingatkan bahwa jalan dakwah penuh risiko, termasuk celaan dan hinaan manusia.

“Nabi Muhammad saja, manusia paling mulia, dicela, dihina, bahkan hendak dibunuh. Lalu kita ini siapa? Jangan takut diomongin orang,” katanya tegas.

Sebelum mengakhiri pesannya, ia menyampaikan doa agar semua yang hadir, bahkan yang tidak hadir, kelak dipertemukan kembali di surga Allah.

Baca Juga:  Bupati Dilaporkan Wakilnya, Rakyat Jember yang Jadi Korban
Wakil Ketua DDII Jatim Bidang Komunikasi Ainur Rofiq Shopiaan (kiri) (Tagar.co/Sadidatul Azka)

Belajar Komunikasi Dakwah ala Jurnalis

Sesi selanjutnya terasa berbeda. Ustaz Ainur Rofiq Shopiaan, jurnalis senior sekaligus Wakil Ketua Bidang Komunikasi DDII Jawa Timur, membagikan pengalamannya di dunia media. Ia menekankan bahwa dai harus piawai berkomunikasi.

“Pesan dakwah harus ringkas, jelas, dan tidak bertele-tele. Disampaikan dengan kata yang tepat, di waktu yang tepat,” katanya.

Ia lalu bercerita tentang pengalamannya mewawancarai presiden, menteri, hingga orang sederhana yang tak lulus SD.

Dari situ, ia menyimpulkan, seorang dai harus pandai membaca karakter lawan bicara agar dakwah tidak salah sasaran.

Apalagi, tambahnya, masyarakat Indonesia begitu majemuk. “Dai harus ekstra hati-hati saat berbicara soal suku, agama, dan ras,” ujarnya mengingatkan.

Doa dan Harapan

Menjelang pukul 17.00 WIB, doa kafaratul majelis menutup sesi pembukaan. Suasana khidmat menyelimuti jamaah.

Bagi peserta, Mabit Dai VI bukan hanya agenda tahunan, melainkan momentum yang menyatukan tawa, haru, dan semangat baru.

Para wisudawan siap berangkat ke medan dakwah, sementara calon mahasantri makin teguh melangkah. Semua menyatu dalam tekad yang sama: melanjutkan estafet dakwah para nabi. (#)

Baca Juga:  Bukan Hijabnya yang Salah, tapi Cara Kita Menilai

Jurnalis Sadidatul Azka Penyunting Mohammad Nurfatoni