Opini

Pemimpin Zalim Cerminan Rakyat? Pelajaran dari Surah Al-An’am 65

554
×

Pemimpin Zalim Cerminan Rakyat? Pelajaran dari Surah Al-An’am 65

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI/Mohammad Nurfatoni

Surah Al-An’am 65 menyampaikan pesan keras: pemimpin zalim seringkali cerminan dari kondisi rakyatnya. Renungan ini mengingatkan, perbaikan bangsa harus dimulai dari perbaikan moral kolektif masyarakat, bukan sekadar pergantian pemimpin.

Oleh Sadidatul Azka, Mahasantri ADI Jawa Timur

Tagar.co – Dalam sebuah kajian tafsir Al-Qur’an, pembahasan Al-An‘ām 63–65 menghadirkan renungan yang terasa dekat dengan keadaan kita hari ini.

Ayat ini mengingatkan bahwa azab Allah tidak selalu berupa bencana alam, melainkan juga bisa hadir dalam wujud pemimpin yang zalim—pemimpin yang menekan rakyat, mengkhianati amanah, dan menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk kepentingan diri maupun kelompoknya.

Tafsir Ulama: Azab dalam Wujud Pemimpin Zalim

Para ulama klasik seperti Mujahid dan Al-Hasan Al-Bashri menafsirkan “azab dari atas” tidak hanya sebatas malapetaka fisik, tetapi juga hadir dalam bentuk penguasa yang menindas rakyatnya.

Baca juga: ADI Jawa Timur Kukuhkan 16 Dai Muda: Siap Terjun ke Medan Dakwah

Imam Al-Qurthubi menegaskan, kepemimpinan semacam ini justru merupakan azab paling nyata karena membuat kehidupan masyarakat serba sulit dan penuh keterpaksaan.

Baca Juga:  Kafilah Dakwah Ramadan ADI Jatim yang Dimulai dari Meja Jualan

Lebih jauh, tokoh-tokoh seperti Fudhail bin ‘Iyadh dan Ibnu Taimiyyah mengingatkan bahwa pemimpin zalim tidak hadir begitu saja. Mereka adalah cerminan dari rakyat yang dipimpinnya.

Cermin untuk Indonesia

Pada titik ini, sulit menutup mata dari kenyataan yang sedang kita hadapi di Indonesia. Kebijakan yang tumpang tindih, kasus korupsi yang seakan tak ada habisnya, janji politik yang mudah memudar, hingga hukum yang sering terasa berat sebelah—semua itu menimbulkan pertanyaan besar: apakah ini hanya ujian, atau teguran keras dari Allah sebagaimana dijelaskan dalam ayat tersebut?

Namun jika kita mau jujur, akar masalah itu tidak hanya lahir di ruang-ruang kekuasaan. Ia tumbuh dari mentalitas rakyat sendiri: budaya suap dianggap biasa, kebohongan dijadikan jalan aman, kecurangan dibungkus alasan “demi keluarga”, hingga perilaku menyimpang yang makin merajalela. Maka saat kita mengeluhkan pemimpin yang zalim, sesungguhnya kita sedang bercermin pada diri sendiri.

Jalan Perbaikan: Dari Rakyat untuk Pemimpin

Surah Al-An‘ām ayat 65 memberi pesan jelas: menjauhkan bangsa dari pemimpin zalim tidak cukup dengan protes, tagar, atau keluh kesah di media sosial.

Baca Juga:  Tragedi Charlie Kirk dan Luka Polarisasi yang Membayangi Muslim Amerika dan Dunia

Perubahan harus lahir dari perbaikan moral kolektif. Kita harus memutus budaya kotor, menegakkan kejujuran, serta menghidupkan kembali nilai-nilai etika yang Allah ajarkan, dimulai dari lingkup terkecil—keluarga, sekolah, komunitas.

Jika hal ini diabaikan, pergantian pemimpin hanya akan memindahkan wajah, tetapi bukan menghentikan pola kezalimannya. Pepatah salaf berkata: “Bagaimana kalian, demikianlah pemimpin kalian.”

Pada akhirnya, pemimpin zalim hanyalah cermin dari rakyat yang ia pimpin. Selama rakyat enggan memperbaiki diri, maka pemimpin yang lahir pun akan mengulang kebobrokan yang sama. Dan bila itu terus berlangsung, berarti kita tengah menjalani salah satu bentuk azab yang telah diperingatkan Allah sejak dahulu. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni