
Tak sekadar ulama fikih, Abu Hanifah juga pedagang sukses, pendidik cemerlang, dan tokoh yang berani menolak jabatan penguasa. Inilah sosok lengkap Imam Hanafi yang warisannya melintasi abad dan benua.
Oleh M. Anwar Djaelani, peminat biografi ulama dan penulis 13 buku
Tagar.co – Abu Hanifah (80–150 H / 699–757 M) adalah seorang ulama besar. Ilmunya dalam bidang fikih bagaikan lautan luas. Selain itu, ia juga dikenal sebagai pemikir pendidikan yang cemerlang.
Umat Islam secara umum mengenal nama Abu Hanifah. Nama lengkapnya adalah Imam Abu Hanifah An-Nu‘man bin Tsabit Al-Kufiy. Ia merupakan salah satu dari empat imam mazhab dan dikenal luas sebagai pendiri mazhab Hanafi.
Abu Hanifah lahir pada tahun 80 H di Kufah, pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Ia hidup dalam dua masa kekuasaan: Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah.
Menurut riwayat yang dimuat di www.muslim.or.id, ayah Abu Hanifah, Tsabit, pernah bersilaturahmi kepada Ali bin Abi Thalib Ra. Saat itu, Ali Ra. mendoakan keberkahan atas Tsabit dan keluarganya.
Sejak kecil, Abu Hanifah telah menghafal Al-Qur’an. Ia tekun mempelajari hadis dan giat melakukan rihlah untuk menuntut ilmu.
Sekilas Profil
Abu Hanifah dikenal berpenampilan rapi, fasih berbicara, dan berwajah rupawan. Ia tidak terlalu tinggi, juga tidak pendek. Ia selalu memakai pakaian bagus dan wangi-wangian, sehingga orang bisa mengenali kehadirannya dari aromanya sebelum melihat sosoknya.
Baca juga: A. Hassan dan Seni Mendidik: Panduan untuk Guru dan Orang Tua
Ia merupakan pedagang kain dan pakaian yang sukses. Meski memiliki toko terkenal di Kufah berkat kejujurannya, ia juga berdagang ke kota lain. Ia dikenal sebagai sosok dermawan.
Diriwayatkan bahwa Abu Hanifah menunaikan salat subuh dengan wudu dari salat isya selama 40 tahun. Ia juga dikabarkan mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 7.000 kali di tempat ia wafat (Abdurrahman Ra’fat Al-Basya, 2019: 326).
Sang Pembela
Abu Hanifah dikenal sangat cakap dalam membela agama Allah. Ia sering menggunakan kemampuan debat dan logikanya untuk menegakkan kebenaran.
Suatu hari, ia menghadapi sekelompok ateis yang mengingkari adanya Sang Pencipta. Abu Hanifah berkata:
“Apa pendapat kalian jika ada sebuah kapal penuh muatan melaju di tengah lautan. Dikelilingi ombak besar dan angin kencang, kapal itu tetap bisa berlayar aman sampai tujuan, padahal tidak ada seorang nakhoda pun yang mengemudikannya. Apakah itu masuk akal?”
Mereka menjawab, “Tidak. Itu sama sekali tidak masuk akal.”
Abu Hanifah lalu berkata, “Subhanallah! Kalian menolak adanya kapal tanpa nakhoda, tapi percaya bahwa alam semesta yang luas, dengan bintang-bintang, burung-burung, dan binatang-binatang, bisa ada dengan sendirinya tanpa Sang Pencipta? Celakalah kalian! Bagaimana bisa kalian mengingkari Tuhan?”
Ulama Fikih
Abu Hanifah adalah pionir dalam pengembangan ilmu fikih. Ia dikenal sebagai ulama pertama yang menyingkap keutamaan dan keistimewaan fikih, serta cermat dalam menetapkan pendapat. Imam Malik menyebut Abu Hanifah sebagai pemilik hujjah yang kuat, cepat dalam mengambil keputusan, dan tajam berpikir (Al-Basya, 2019: 327).
Ia sempat berguru kepada tujuh sahabat Nabi Saw., seperti Abdullah bin Az-Zubair, Amru bin Haris, dan Anas bin Malik Ra. Ia juga belajar dari banyak ulama, seperti Asy-Sya‘bi, Qotadah bin Di‘amah, dan Atha’ bin Abi Rabbah.
Murid-muridnya yang terkenal antara lain: Abdullah ibnul Mubarak, Dawud Ath-Thai, Hafsh bin Abdurrahman Al-Qadhi, dan Al-Qadhi Abu Yusuf.
Para tokoh besar memujinya:
-
Abdullah ibnul Mubarak: “Kalaulah Allah tidak menolongku melalui Abu Hanifah dan Sufyan Ats-Tsauri, niscaya aku hanya menjadi orang biasa.”
-
Imam Syafi’i: “Barang siapa ingin memiliki ilmu seluas lautan dalam masalah fikih, hendaklah belajar kepada Abu Hanifah.”
-
Fudhail bin Iyadh: “Abu Hanifah adalah seorang yang faqih, wara‘, hartawan, sabar dalam belajar, sedikit bicara, dan menjauh dari harta penguasa.”
Abu Hanifah juga menjadi imam pertama yang menegaskan kewajiban mengikuti sunnah Nabi dan meninggalkan pendapat siapa pun yang bertentangan dengannya.
Nasihat-Nasihat Emas
Beberapa nasihat penting Abu Hanifah:
-
“Apabila telah sahih sebuah hadis, maka itulah mazhabku.”
Syaikh Nashiruddin Al-Albani menyebut ini sebagai tanda kesempurnaan ilmu dan takwa para imam. -
“Tidak halal bagi seseorang mengikuti pendapatku jika tidak mengetahui dalilnya.”
-
“Jika pendapatku bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadis Nabi Saw., tinggalkanlah pendapatku.”
Ulama-Penulis
Karya Abu Hanifah antara lain:
-
Al-Fiqhu Al-Akbar
-
Al-Musnad
-
Al-Kharaj
Biografinya dibahas dalam Khabar Abu Hanifah karya Asy-Syaibani dan Abu Hanifah: Hayatuhu, wa ‘Asruhu, wa Ara’uhu wa Fiqhuhu karya Muhammad Abu Zahrah.
Ia dikenal pula sebagai ulama pertama yang mengodifikasi hukum Islam berbasis qiyas.
Pemikir Pendidikan
Abu Hanifah bukan hanya ahli fikih, tapi juga pemikir pendidikan. Ia dikenal melalui kitab Al-‘Alim wal Muta‘allim yang membahas etika guru dan murid. Kitab ini ditulis oleh murid-muridnya dan dianggap sebagai karya pionir dalam pendidikan Islam (Yanuar Arifin, 2018: 22).
Ujian Hidup
Abu Hanifah mengalami tekanan berat pada masa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Saat Khalifah Marwan bin Muhammad memerintah, Gubernur Irak Yazid bin Hubairah menawarkan jabatan hakim, namun Abu Hanifah menolaknya dan akhirnya disiksa.
Pada masa Bani Abbasiyah, di bawah pemerintahan Abu Ja‘far Al-Manshur, ia kembali ditawari jabatan hakim dan lagi-lagi menolaknya. Ia dipenjara dan wafat dalam tahanan pada tahun 150 H dalam usia 70 tahun. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni











