Feature

Santri eLKISI Uji Karya Buku dan Video sebagai Syarat Kelulusan

152
×

Santri eLKISI Uji Karya Buku dan Video sebagai Syarat Kelulusan

Sebarkan artikel ini
Salah satu santri kelas XII SMA eLKISI mempresentasikan karya tulisnya dalam kegiatan Bedah Buku Ujian Akhir di Auditorium Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI (PPIC), Mojokerto, Kamis (7/5/26). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari syarat kelulusan sekaligus wadah penguatan budaya literasi, dakwah, dan tradisi akademik di lingkungan pesantren. (Tagar.co/Istimewa)

Santri SMA eLKISI mempresentasikan karya tulis dan video edukatif dalam Bedah Buku Ujian Akhir sebagai bagian dari syarat kelulusan. Melalui karya bertema pendidikan, dakwah, dan refleksi keislaman, para santri menunjukkan tradisi literasi dan budaya intelektual yang terus tumbuh di lingkungan pesantren.

Tagar.co – Santri kelas XII SMA eLKISI mempresentasikan karya buku dan multimedia dalam kegiatan Bedah Buku Ujian Akhir Santri yang digelar di auditorium Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI (PPIC), Kamis (7/5/26).

Kegiatan yang menjadi bagian dari syarat kelulusan itu menghadirkan karya bertema pendidikan, dakwah, hingga refleksi keislaman yang dipaparkan langsung di hadapan para penguji.

Kegiatan tersebut menghadirkan dua penguji, yakni Ahmad Basuni, S.Pd., M.M. dari Radar Mojokerto dan Ustadz Muhammad Hidayatulloh selaku Kepala Pesantren Kader Ulama dan Markaz Al-Qur’an PPIC eLKISI.

Baca juga: Ikhtiar Ilmiah Santri eLKISI: Bedah Buku 10 Karya Menuju Khotbatul Wada bersama Wamendikdasmen

Dalam forum akademik itu, para santri mempresentasikan gagasan, pengalaman, hingga refleksi dakwah yang dituangkan dalam karya tulis maupun video edukatif. Tema yang diangkat pun beragam dan dekat dengan kehidupan masyarakat serta dunia pendidikan pesantren.

Baca Juga:  Doa Terpenting di Sepuluh Malam Terakhir

Itsar Luthf Subiyantoro Putra dan Izza Awif Ardio dari kelas multimedia membuka presentasi melalui karya video berjudul “Takdhim”. Video tersebut mengangkat nilai penghormatan dan adab di lingkungan pesantren.

Sementara itu, Muhammad Iqbal Abqori membedah buku berjudul “Pengaruh Pesantren terhadap Kemandirian Santri”. Dalam karyanya, ia mengulas bagaimana kehidupan pesantren membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian santri dalam kehidupan sehari-hari.

Nuansa reflektif hadir melalui karya Dimas Kevin Al Mudzaky berjudul “Tetap Islam Sampai Akhir” dengan tagline “Karena Islam Itu Perjalanan, Bukan Sekadar Pengakuan”. Buku tersebut mengajak generasi muda untuk tetap istiqamah menjaga identitas dan keimanan di tengah tantangan zaman.

Selain menulis buku, Dimas juga menampilkan video edukatif bertajuk “Takdzim” yang sarat pesan moral tentang penghormatan dan adab di lingkungan pesantren.

Pengalaman dakwah internasional dibawakan Muhammad Abiyyu Dias Nabil melalui karya “Racikan Strategi Dakwah Timor Leste”. Karya tersebut lahir dari pengalaman langsungnya saat menjalani praktik dakwah Ramadhan selama kurang lebih satu bulan di Timor Leste. Dari pengalaman itu, ia merumuskan strategi dakwah yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap masyarakat lintas budaya.

Baca Juga:  Iktikaf: Mengasingkan Diri untuk Menemukan Jati Diri

Selanjutnya, Bagas Salman Al Farzi mempresentasikan buku “Jalan Menuju Rida Allah” yang membahas perjalanan spiritual dan pentingnya membangun hubungan yang benar dengan Allah dalam kehidupan modern.

Sedangkan Muflih Husein Ahmad menghadirkan karya “Sedikit tentang Pendidikan Nasional”, sebuah refleksi kritis mengenai kondisi pendidikan Indonesia sekaligus tawaran pemikiran dari perspektif santri pesantren.

Santri kelas XII SMA eLKISI berfoto bersama penguji usai kegiatan Bedah Buku Ujian Akhir di Auditorium Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI (PPIC), Mojokerto, Kamis (7/5/26) (Tagar.co/Istimewa)

Menariknya, beberapa karya tersebut merupakan hasil tulisan santri kader ulama di bawah pembinaan langsung Pesantren Kader Ulama dan Markaz Al-Qur’an PPIC eLKISI.

Dalam sesi penilaian, Ahmad Basuni menyampaikan apresiasi atas keberanian para santri menulis buku dan mengangkat tema-tema yang relevan dengan realitas masyarakat saat ini. Menurutnya, karya-karya tersebut memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan hingga layak diterbitkan secara luas.

Ia juga memberikan arahan agar para santri terus menyempurnakan isi dan teknis penulisan supaya kualitas karya semakin matang. Dengan nada santai disertai kelakar, ia menyebut tidak banyak SMA yang berani menjadikan karya tulis sebagai syarat kelulusan santri. Bahkan menurutnya, bisa jadi hanya Pondok Pesantren eLKISI yang memiliki tradisi akademik seperti ini.

Baca Juga:  Mengapa Bau Mulut Orang Berpuasa Lebih Harum di Sisi Allah?

Khusus untuk karya video “Takzim”, Ahmad Basuni mengaku terharu karena pesan yang disampaikan dinilai memiliki kekuatan edukatif, terutama bagi anak-anak yang ingin mondok maupun para orang tua yang hendak memondokkan putra-putrinya di pesantren.

Sementara itu, Ustaz Muhammad Hidayatulloh menegaskan bahwa budaya menulis dan berkarya merupakan bagian penting dalam proses pembentukan kader ulama. Menurutnya, santri hari ini tidak cukup hanya mampu membaca kitab, tetapi juga harus mampu menghadirkan gagasan, pengalaman, dan solusi melalui karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni