Feature

Peringatan Imam Al-Ghazali: Sifat-Sifat yang Merusak Keharmonisan Keluarga

149
×

Peringatan Imam Al-Ghazali: Sifat-Sifat yang Merusak Keharmonisan Keluarga

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Imam Al-Ghazali mengingatkan: ada sifat-sifat halus yang tampak biasa, namun mampu menghancurkan rumah tangga dari dalam.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tagar.co – Rumah tangga yang tenang tidak hanya dibangun oleh nafkah dan cinta, tetapi juga oleh akhlak yang menjaga hati dari dosa dan lisan dari luka.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan adanya beberapa sifat berbahaya yang dapat merusak keharmonisan suami istri. Jika dibiarkan, sifat-sifat ini akan menumbuhkan api pertengkaran, membuka pintu maksiat, dan menghapus keberkahan hidup.

Baca juga: Energi Baik Itu Menular

Dalam Islam, perempuan adalah amanah mulia. Ia bukan sekadar pelengkap rumah, melainkan pilar yang menentukan kuat atau rapuhnya keluarga. Rasulullah memuliakan wanita, bahkan menjadikan kebaikan seorang istri sebagai salah satu sebab terbesar kebahagiaan dunia.

Namun, kemuliaan itu juga dibarengi ujian. Sebab, semakin tinggi derajat seseorang, semakin besar pula godaan yang berusaha menjatuhkannya.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menyinggung enam sifat buruk yang sering menjadi sumber kehancuran rumah tangga. Enam sifat ini bukan untuk merendahkan wanita, melainkan sebagai peringatan agar seorang istri mampu menjaga diri, kehormatan suami, serta keutuhan rumah tangganya dalam naungan rahmat Allah.

1. An-Nannānah: Banyak Mengeluh dan Mengadu

Sifat pertama adalah an-nannānah, yaitu wanita yang banyak mengeluh, gemar mengadu, dan tidak pernah merasa cukup. Sifat ini membuat rumah tangga terasa sempit, padahal rezeki mungkin luas. Ia mematikan rasa syukur, menumbuhkan kebencian, dan menanamkan kelelahan batin pada suami.

Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)

Baca Juga:  Ketika Azan dan Langit Tidak Sepakat

Keluhan yang tidak terkendali sering berawal dari lemahnya syukur. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa banyak wanita menjadi penghuni neraka karena kekufuran terhadap kebaikan suami, yakni tidak menyukuri perlakuan baiknya.

Dalam hadis sahih disebutkan:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ

“Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian, karena aku melihat kalian adalah penghuni neraka yang paling banyak.” (Bukhari No. 978)

Obat bagi sifat ini adalah sedekah dan syukur. Sedekah melembutkan hati, sementara syukur melapangkan jiwa.

2. Al-Mannānah: Suka Mengungkit Kebaikan

Sifat kedua adalah al-mannānah, yakni wanita yang suka mengungkit jasa, menagih penghargaan, dan mengingatkan suami tentang pengorbanannya dengan nada menyakitkan. Padahal, kebaikan yang diungkit dapat menghapus pahala.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghapus (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).” (Al-Baqarah: 264)

Jika sedekah kepada orang lain saja bisa hilang karena diungkit, maka kebaikan kepada suami pun bisa kehilangan keberkahannya jika disertai ungkitan. Rumah tangga bukan tempat perhitungan pahala dengan ego, tetapi tempat saling menutupi kekurangan dan saling menguatkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَا يَشْكُرِ النَّاسَ لَا يَشْكُرِ اللَّهَ

“Barangsiapa tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.” (Tirmizi)

Seorang istri yang baik bukan berarti tidak pernah lelah, tetapi ia mampu menahan lisan dari menyakiti. Ia berbuat baik karena Allah, bukan karena ingin dipuji.

3. Al-Hannānah: Merindukan Lelaki Lain

Sifat ketiga adalah al-hannānah, yakni wanita yang hatinya masih tertarik kepada lelaki lain, membandingkan suami, atau berangan-angan seandainya pasangan hidupnya adalah orang lain. Ini adalah penyakit hati yang sangat berbahaya.

Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa zina tidak hanya terjadi pada tubuh, tetapi juga pada hati dan pandangan. Dalam hadis sahih disebutkan:

Baca Juga:  Mengetuk Langit pada Sepertiga Malam: Dari Rutinitas Menuju Perjumpaan

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا …

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagian zina bagi anak Adam…” (Bukhari dan Muslim)

Berangan-angan kepada lelaki lain adalah bentuk zina hati. Ia merusak kesetiaan dan menanamkan benih pengkhianatan. Obatnya adalah memperbanyak istigfar, menjaga pandangan, serta membangun kembali cinta kepada suami melalui rasa syukur atas nikmat yang ada.

4. Al-Haddāqah: Lapar Mata dan Boros

Sifat keempat adalah al-haddāqah, yaitu wanita yang tidak pernah puas melihat milik orang lain, selalu ingin membeli, mengikuti gaya hidup orang lain, dan tidak mampu mengendalikan hawa nafsu konsumtif.

Sifat ini sering menjadi akar pertengkaran. Suami bekerja keras, tetapi istri menuntut lebih dari kemampuan. Padahal, rumah tangga yang berkah adalah rumah yang sederhana namun penuh rida.

Allah berfirman dalam Al-Isra: 26–27

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا ۝ إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

Dan Allah juga berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah.” (Al-Furqan: 67)

Wanita yang cerdas adalah yang mampu menjaga keuangan rumah tangga, bukan yang mengurasnya demi gengsi. Sebab, rezeki bukan hanya banyaknya harta, tetapi cukupnya hati.

5. Al-Barrāqah: Bersolek untuk Selain Suami

Sifat kelima adalah al-barrāqah, yaitu wanita yang gemar bersolek, tetapi bukan untuk suaminya. Ia tampil menarik untuk orang lain, sementara di rumah tampil seadanya. Ini membalikkan tujuan berhias dalam rumah tangga.

Islam tidak melarang wanita berhias. Bahkan berhias untuk suami adalah ibadah. Namun, berhias untuk menarik perhatian nonmahram adalah fitnah dan pintu dosa.

Allah berfirman dalam Al-Ahzab: 33

Baca Juga:  Surat Keterangan Miskin yang Terlambat

وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ تَطَيَّبَتْ ثُمَّ خَرَجَتْ …

Bersoleklah untuk suami, karena itulah yang menjaga cinta tetap hidup. (Al-Ahzab: 33)

6. As-Syaddāqah: Cerewet dan Banyak Bicara

Sifat keenam adalah as-syaddāqah, yakni wanita yang terlalu banyak bicara tanpa manfaat, gemar menyindir, memperbesar masalah kecil, dan tidak mampu menahan lisan.

Lisan adalah sumber kehancuran paling cepat. Banyak rumah tangga hancur bukan karena kurangnya rezeki, tetapi karena kata-kata yang tidak dijaga.

Allah berfirman dalam Qaf: 18

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Rasulullah ﷺ bersabda:

فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Lisan yang lembut dapat menjadi sedekah yang menenangkan jiwa suami. (Bukhari dan Muslim)

Penutup

Menjadi wanita salehah bukan tanpa ujian. Enam sifat di atas bukan hanya ujian bagi wanita, tetapi peringatan bagi siapa pun agar tidak merusak rumah tangga dengan hawa nafsu. Namun, wanita memiliki peran besar dalam menentukan suasana rumah.

Jika seorang istri menjaga akhlaknya, rumah menjadi surga. Jika ia membiarkan nafsunya memimpin, rumah dapat berubah menjadi medan konflik.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis riwayat Muslim

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

Wanita salehah bukan yang sempurna, melainkan yang terus memperbaiki diri, bertaubat, menjaga kehormatan, dan menjauhi hal-hal yang merusak keberkahan.

Jika seseorang menemukan sifat-sifat ini dalam dirinya, jangan berputus asa. Allah membuka pintu taubat selebar-lebarnya, seperti riwayat Muslim

إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

Maka, kunci utama adalah ilmu, muhasabah, dan taubat. Jadikan rumah tangga sebagai ladang ibadah, bukan medan pertarungan.

Semoga Allah menjadikan para istri sebagai penyejuk mata bagi suami, dan para suami sebagai pemimpin yang lembut serta bertakwa. Amin. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni