Feature

PCIM Malaysia Luncurkan Visi 2026–2028, Sekolah Internasional dan Dakwah Jadi Prioritas

118
×

PCIM Malaysia Luncurkan Visi 2026–2028, Sekolah Internasional dan Dakwah Jadi Prioritas

Sebarkan artikel ini
PCIM Malaysia meluncurkan visi 2026–2028 dengan fokus penguatan pendidikan dan dakwah, termasuk rencana Sekolah Internasional Muhammadiyah bagi diaspora Indonesia di Malaysia.
Peserta Rapat Kerja PCIM Malaysia periode 2026–2028 berfoto bersama di Rumah Hamka, Gombak, Selangor, usai pembukaan kegiatan, 25–26 April 2026. (Tagar.co/Mundzirin Mukhtar)

PCIM Malaysia meluncurkan visi 2026–2028 dengan fokus penguatan pendidikan dan dakwah, termasuk rencana Sekolah Internasional Muhammadiyah bagi diaspora Indonesia di Malaysia.

Tagar.co — Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia meluncurkan visi strategis periode 2026–2028 dengan fokus pada penguatan pendidikan dan dakwah dalam Rapat Kerja yang digelar di Rumah Hamka, 25–26 April.

Rapat kerja ini menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penegasan arah gerak baru PCIM Malaysia. Mengusung tema “Mengukuhkan Sinergi Internal, Memperluas Kemanfaatan di Era Baru PCIM Malaysia”, forum tersebut menekankan pentingnya kerja kolektif dan penguatan peran organisasi di tengah masyarakat diaspora.

Baca juga: Raker PCIM Malaysia 2026–2028: Menguatkan Internal, Meluaskan Manfaat

Ketua PCIM Malaysia, H. Fauzi Fatkhur, menyampaikan bahwa organisasi perlu menghadirkan langkah yang lebih terukur dan berdampak. Salah satu program strategis yang menjadi perhatian utama adalah rencana pendirian Sekolah Internasional Muhammadiyah yang ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027.

“Kita tidak ingin hanya menjadi penonton. Muhammadiyah harus memiliki kontribusi nyata dan berkelanjutan, khususnya di bidang pendidikan,” ujarnya.

Baca Juga:  Korban Luka Bakar di Malaysia Dipulangkan, Kisah Siti Khotijah dan Gerak Cepat Lazismu PCIM

Sekolah ini diproyeksikan menjadi solusi bagi kebutuhan pendidikan anak-anak diaspora Indonesia di Malaysia, dengan mengintegrasikan nilai keislaman dan kualitas akademik.

Selain pendidikan, penguatan dakwah juga menjadi fokus utama. PCIM Malaysia merencanakan berbagai kegiatan tabligh, termasuk agenda tabligh akbar yang direncanakan menghadirkan Ustadz Adi Hidayat. Program ini diharapkan dapat memperluas jangkauan dakwah dan memperkuat pembinaan umat.

Di bidang pendidikan nonformal, Majelis Pendidikan akan memperluas jaringan Sanggar Belajar (SB) di berbagai wilayah sebagai upaya memastikan akses pendidikan bagi anak-anak diaspora.

Sementara itu, penguatan ekonomi organisasi dilakukan melalui pembenahan amal usaha Muhammadiyah (AUM) agar lebih transparan dan produktif. Langkah ini ditujukan untuk mendukung keberlanjutan program dakwah dan organisasi.

Dalam bidang media, Majelis Pustaka dan Informasi mendorong peningkatan kapasitas kader melalui pelatihan menulis dan jurnalistik. Upaya ini diarahkan untuk memperkuat peran media digital dalam menyebarluaskan nilai dan aktivitas Muhammadiyah.

PCIM Malaysia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas lembaga. Melalui Majelis Hubungan Antar Lembaga, organisasi akan memperluas kerja sama dengan berbagai organisasi di Indonesia maupun Malaysia guna meningkatkan dampak program.

Baca Juga:  Reuni Akbar PCIM–PCIA Malaysia: Merawat Ikatan yang Tak Pernah Putus

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Sekretaris PCIM Malaysia, Khalid Al Walid, menyampaikan bahwa PCIM Malaysia telah resmi terdaftar secara hukum di Malaysia dengan nama Persatuan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia. Status ini menjadi dasar legal bagi seluruh aktivitas organisasi, termasuk di tingkat ranting.

Menutup kegiatan, Fauzi Fatkhur menekankan pentingnya sinergi dalam menjalankan program organisasi.

“Program yang baik tidak akan berjalan optimal tanpa kerja bersama. Sinergi menjadi kunci untuk mewujudkan seluruh rencana ini,” ujarnya.

Melalui visi ini, PCIM Malaysia menegaskan komitmennya untuk memperkuat organisasi secara internal sekaligus memperluas kontribusi di bidang pendidikan dan dakwah bagi masyarakat diaspora Indonesia di Malaysia. (#)

Jurnalis Mundzirin Mukhtar Penyunting Mohammad Nurfatoni