
Haedar Nashir mengingatkan pemimpin agar tidak terjebak menjadi “pemimpin panggung”, tampil menonjol di depan publik tetapi minim kerja nyata. Dia menekankan pentingnya kepemimpinan yang bekerja, melayani, dan memberi solusi.
Tagar.co – Pesan reflektif disampaikan Haedar Nashir dalam Halalbihalal 1447 Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur di Aula Mas Mansur, Gedung Muhammadiyah Jawa Timur, Jalan Kertomenanggal IV/1 Surabaya, Sabtu (18/4/2026).
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu mengingatkan para pimpinan agar tidak terjebak menjadi “pemimpin panggung” — tampil menonjol di depan publik, tetapi minim kerja nyata.
“Terlalu semangat dalam pidato itu juga tidak baik,” candanya. “Di mimbar kita berapi-api tapi setelah pulang, keretanya tertinggal.”
Baca berita terkait: Haedar Nashir Ingatkan Bahaya Ego dan Polarisasi, Dorong Persatuan Substantif Berbasis Gagasan dan Amal
Di balik candaan itu, tersimpan kritik yang relevan dengan dinamika kepemimpinan saat ini. Haidar mengingatkan agar para pemimpin tidak lebih sibuk tampil di depan, tetapi abai terhadap kerja-kerja substantif yang justru menjadi esensi kepemimpinan.
“Pemimpin-pemimpin kita harus yang transformator,” harapnya.
Menurut Haedar, kepemimpinan tidak diukur dari seberapa sering seseorang berbicara di depan publik atau hadir dalam seremoni, melainkan dari konsistensi dalam bekerja, melayani, dan menghadirkan solusi nyata bagi umat.
Ia menekankan pentingnya integritas, kesederhanaan, serta keberpihakan pada kepentingan masyarakat luas.
Selain itu, ia juga menyinggung tradisi kuat Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern yang sejak awal dikenal reformis dan berkemajuan.
“Sejak awal berdiri Muhammadiyah sudah dikenal sebagai organisasi islam yang modern, reformis, tajdid, memiliki sekolah dan pendidikan yang maju,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa tradisi tersebut tidak akan bertahan tanpa jiwa kepeloporan dari para kader. Mengutip Surah Ar-Ra’d 11, ia menegaskan bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri.
“Modal utama kita adalah SDM kita. Kalau mau merebut Indonesia emas maka kita mempunyai tanggungjawab untuk mendidik generasi selanjutnya dengan baik,” pesannya, khususnya kepada majelis dikdasmen.
Kepemimpinan Transformati
Dalam bidang pendidikan, Haedar juga mendorong lahirnya kepemimpinan yang transformatif di tingkat sekolah. Ia menyoroti pentingnya memberi ruang bagi kepala sekolah yang kreatif dan inovatif.
“Jangan sampai jika ada kepala sekolah yang kreatif dan inovatif malah merasa terganggu, akhirnya diberhentikan dan pindah ke tempat yang lain,” tuturnya.
Ia menambahkan, karakter inovatif kerap dianggap “berbeda”, sehingga membutuhkan pembinaan, bukan justru disingkirkan.
“Biasanya kepala sekolah yang suka dengan perubahan itu suka aneh-aneh. Supaya aneh-anehnya tidak banyak, maka perlu untuk di bina, di bimbing, di arahkan. Kan itu tugas pemimpin,” tegasnya.
Pesan itu menegaskan kembali bahwa kepemimpinan bukan soal sorotan, melainkan tanggung jawab untuk bekerja dan membawa perubahan nyata. (#)
Jurnalsi Nadhirotul Mawaddah Penyunitng Mohammad Nurfatoni












