Sejarah

Rahasia Sukses Dakwah: Inspirasi Natsir dan Hamka

381
×

Rahasia Sukses Dakwah: Inspirasi Natsir dan Hamka

Sebarkan artikel ini

Keberhasilan dakwah tidak hanya bergantung pada kata-kata, tetapi pada kelembutan hati. Natsir dan Hamka menunjukkan bahwa pendekatan penuh rasa lebih efektif daripada amarah.

Oleh M. Anwar Djaelani, peminat masalah dakwah

Tagar.co – Natsir dan Hamka sama-sama berasal dari Sumatera Barat. Keduanya bersahabat dan lahir pada tahun yang sama, yaitu 1908. Mereka, sebagai pendakwah, dinilai ideal oleh KH Isa Anshary. Hal ini karena kemampuan berdakwah dengan lisan dan tulisan dari keduanya sama-sama kuat.

Baca juga: Mohammad Natsir: Jabatan Mentereng, Gaya Hidup Bersahaja

Dari Natsir (yang wafat pada 1993), terbit banyak karya buku. Salah satunya berjudul Fiqh ad-Da’wah. Begitu juga dengan Hamka (yang wafat pada 1981), yang menghasilkan banyak karya tulis. Karyanya yang paling menonjol adalah Tafsir Al-Azhar. Tentu saja, sangat relevan jika pendapat atau langkah-langkah dakwah dari keduanya kita teladani.

Syarat Sukses

“Kata yang kosong dari rasa hanya bisa mencapai telinga dan paling tinggi otak. Rasa hanya dapat dipanggil dengan rasa,” kata Natsir. Nasihat ini dapat ditemukan dalam buku Fiqh ad-Da’wah (1983: 227).

Senada, ketika membahas Ali ‘Imran: 159, Hamka menulis dalam Tafsir Al-Azhar bahwa pada ayat tersebut terdapat pujian yang tinggi dari Allah terhadap Rasulullah saw. Pujian itu diberikan karena sikap Nabi saw. yang lemah lembut dan tidak lekas marah, serta karena beliau terus berusaha mendidik umatnya agar iman mereka lebih sempurna.

Baca Juga:  Gurindam Dua Belas: Warisan Hikmah Raja Ali Haji sebagai Gizi Rohani

Memang, siapa pun yang berdakwah pasti ingin berhasil. Untuk itu, prinsip dasar dalam berdakwah perlu dipahami dengan baik. Ungkapan Natsir dan Hamka di atas penting untuk dicermati: pendakwah harus berbicara dari hati. Saat berkata-kata, harus disertai rasa yang terbit dari jiwa, bukan sekadar berbicara tanpa makna. Berbicaralah dengan lembut.

Lebih Kenal

Mari membuka buku Fiqh ad-Da’wah karya Natsir. Di dalamnya terdapat kisah yang mengesankan berikut ini. Pada suatu hari, seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah saw. Ia hendak bertanya tentang ajaran Islam saat Nabi saw. sedang bersama banyak sahabat.

Arab Badui itu bertanya dengan cara yang tidak sopan menurut para sahabat yang ada di dekat Nabi saw. saat itu. Bagi mereka, kata-kata dan sikap orang tersebut amat kasar. Bahkan, ada di antara para sahabat yang tidak mampu menahan amarah hingga ingin membunuhnya.

Rasulullah saw. tetap tenang dan terus melayani orang itu dengan baik. Lambat laun, orang tersebut menjadi bersikap sopan. Setelah itu, Rasulullah saw. memberikan pelajaran kepada para sahabat melalui sebuah perumpamaan.

Beliau mengibaratkan dirinya dengan orang Badui itu seperti seseorang yang memiliki seekor unta yang melarikan diri. Orang-orang bermaksud membantu dengan mengejarnya secara beramai-ramai. Namun, semakin dikejar, unta itu justru semakin menjauh.

Pemilik unta berkata, “Biarkanlah. Ini urusanku dengan unta itu. Aku lebih mengenal sifatnya dan lebih menyayanginya dibandingkan kalian semua.”

Baca Juga:  Dua Kehati-hatian Menuju Akhirat: Cinta dan Kebiasaan

Kemudian ia mendekati unta tersebut dengan membawa rumput kering. Unta itu pun datang dengan sendirinya dan duduk bertekuk lutut seperti hewan jinak pada umumnya.

Rasulullah saw. kemudian menutup penjelasannya dengan menyampaikan bahwa seandainya beliau membiarkan para sahabat bertindak hanya berdasarkan kemarahan, orang Badui itu bisa terbunuh dan berujung pada kebinasaan (Fiqh ad-Da’wah, 1983: 227–228).

Kisah ini menunjukkan bahwa pendekatan yang penuh pemahaman dan kasih sayang lebih efektif daripada tindakan yang didorong oleh emosi semata.

Tetap Lembut

Selanjutnya, perhatikan Ali ‘Imran [3]: 159:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun bagi mereka …”

Hamka menjelaskan dalam Tafsir Al-Azhar bahwa ayat ini merupakan pujian Allah kepada Rasulullah saw. atas kelembutan sikapnya. Meskipun terjadi kesalahan dari sebagian sahabat, seperti dalam Perang Uhud, Nabi saw. tidak terus-menerus memarahi mereka. Sebaliknya, beliau tetap membimbing dengan penuh kebijaksanaan.

Rasa rahmat, belas kasih, dan cinta telah ditanamkan oleh Allah dalam diri Rasulullah saw. Hal ini memengaruhi cara beliau memimpin dan berdakwah. Bahkan ketika beliau disakiti, seperti saat dilempari batu hingga berdarah, beliau tetap mendoakan kebaikan bagi kaumnya.

Baca Juga:  Takwa yang Memaafkan, Surga yang Menanti

Menurut Hamka, masyarakat memiliki tingkat kematangan yang berbeda-beda. Tidak semua berada pada tingkat yang sama seperti Abu Bakar ra. atau Umar bin Khattab ra. Oleh karena itu, pendekatan dakwah harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Sikap lemah lembut ini menjadi kunci dalam kepemimpinan. Pemimpin yang keras dan kaku akan dijauhi, sedangkan pemimpin yang penuh empati akan lebih mudah diterima.

Dengan Hati

Pendekatan dakwah dengan sentuhan hati kemudian dilanjutkan oleh para sahabat. Salah satu contohnya adalah Abu Bakar ra. Setelah dilantik menjadi khalifah, beliau tetap menunjukkan kepedulian sosial yang tinggi.

Suatu hari, beliau bertemu dengan seorang anak perempuan yang khawatir tidak ada lagi yang akan membantu memerah susu ternak keluarganya.

Abu Bakar ra. menjawab, “Jangan khawatir. Demi Allah, aku akan tetap menolongmu memerah susu.” (Fiqh ad-Da’wah, 1983: 229).

Bersama Rasa

Rasulullah saw. telah menyampaikan risalah Islam dan memberikan teladan dalam berdakwah. Para sahabat melanjutkan perjuangan tersebut dengan penuh keikhlasan. Ulama seperti Natsir dan Hamka juga berhasil mengikuti jejak tersebut.

Kapan pun dan dalam kondisi apa pun, dakwah harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Nasihat Natsir dan Hamka tetap relevan: pendakwah harus berbicara dari hati dan menjaga kelembutan dalam bersikap.

Dengan demikian, dakwah yang disertai rasa akan lebih mudah diterima dan memberikan dampak yang lebih mendalam. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni