Gema Literasi dan Langit Jingga di Pesantren Ramadan UPT SDN 94 Gresik
Sebarkan artikel ini
Gema Literasi dan Langit Jingga di Pesantren Ramadan UPT SDN 94 Gresik, Kamis (12/3/2026) (Tagar.co/Istimewa)
Wangi aroma masakan khas buka puasa mulai menyeruak, namun fokus siswa tetap pada untaian doa yang dipanjatkan. Santunan ini bukan sekadar penyerahan amplop atau bingkisan, melainkan simbol adalah keluarga besar yang saling menopang.
Tagar.co – Mentari sore di ufuk barat Gresik seakan enggan beranjak, membiarkan bias jingganya menyelinap di antara celah jendela UPT SD Negeri 94 Gresik.
Di dalam ruangan yang riuh namun khidmat, ratusan pasang mata menatap penuh binar. Sore itu, Kamis (12/3/2026) bukan sekadar ritual berbuka puasa biasa; itu adalah puncak dari perjalanan spiritual pendek bertajuk Pesantren Ramadan.
Setelah menjalani rangkaian kegiatan selama beberapa hari, siswa tidak hanya membawa pulang ilmu fiqih Ramadan atau hafalan doa. Acara penutupan ini menjadi panggung pembuktian bagi ketahanan mental dan kelembutan hati para pelajar.
Kepala UPT SDN 94 Gresik Hartik M.Pd. menegaskan bahwa esensi dari kegiatan ini adalah memindahkan nilai-nilai luhur dari buku teks ke dalam tindakan nyata.
“Ramadan di sekolah kami bukan tentang menahan lapar dari fajar ke maghrib, tapi tentang bagaimana menumbuhkan radar kepedulian terhadap sesama,” ujarnya di sela-sela acara.
Suasana berubah haru saat sesi santunan anak yatim dimulai. Di tengah tren gaya hidup modern, momen ini menjadi pengingat tajam tentang solidaritas sosial. Satu per satu siswa bersalaman dengan rekan-rekan mereka yang kurang beruntung, sebuah gestur sederhana yang menghancurkan sekat-sekat perbedaan status sosial.
Wangi aroma masakan khas buka puasa mulai menyeruak, namun fokus para siswa tetap pada untaian doa yang dipanjatkan. Santunan ini bukan sekadar penyerahan amplop atau bingkisan, melainkan simbol bahwa UPT SDN 94 Gresik adalah keluarga besar yang saling menopang.
Ketika azan maghrib akhirnya berkumandang, suasana pecah dalam kegembiraan yang santun. Duduk bersila di atas karpet yang membentang, guru, staf, dan siswa melebur dalam satu nampan dan satu rasa. Tidak ada jarak antara pendidik dan murid; semuanya menikmati tegukan air pertama dengan rasa syukur yang sama.
Acara ini menutup lembaran Pesantren Ramadan tahun ini dengan catatan yang manis. Siswa pulang tidak hanya dengan perut yang kenyang, tetapi dengan jiwa yang sedikit lebih “berisi” dibandingkan saat mereka datang di pagi hari. (#)