Telaah

Ramadan di Ujung Waktu: Belajar Menahan, Belajar Bertahan

126
×

Ramadan di Ujung Waktu: Belajar Menahan, Belajar Bertahan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi freepik.com premium

Ramadan melatih kita menahan diri selama sebulan. Namun ujian sesungguhnya adalah: mampukah kita bertahan dalam kebaikan setelah bulan suci itu pergi?

Oleh Sadidatul Azka, Daiah Pengabdian Akademi Dakwah Indonesia Jawa Timur

Tagar.co – Ramadan telah memasuki hari-hari terakhirnya. Tanpa terasa, lebih dari dua puluh hari telah berlalu—hari-hari yang dipenuhi puasa, doa, dan berbagai upaya mendekatkan diri kepada Allah.

Di titik ini, Ramadan seakan mengingatkan kita pada satu pelajaran penting: bukan hanya tentang belajar menahan, tetapi juga belajar bertahan dalam kebaikan.

Ba juga: Anak Muda di Ambang Ramadan: Antara Tren Digital dan Panggilan Spiritual

Setelah memasukai sepuluh hari terakhir, kita dapat merasakan bagaimana Ramadan perlahan mengubah ritme kehidupan. Masjid menjadi lebih ramai, doa-doa terasa lebih panjang, dan hati sering kali terasa lebih lembut dari biasanya.

Puasa yang kita jalani sejak fajar hingga matahari terbenam bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan menundukkan diri di hadapan Allah.

Karena itu, Ramadan tidak hanya mengajarkan menahan perut dari makanan dan minuman. Ia juga melatih kita menahan amarah, menjaga lisan, menundukkan hawa nafsu, serta mengendalikan berbagai keinginan yang sering kali sulit dibendung.

Baca Juga:  Board of Peace: Ketika Kekecewaan Tak Harus Berujung Menyalahkan

Namun ada satu pertanyaan penting yang sering luput kita renungkan: bagaimana ketika Ramadan telah selesai?

Ramadan amat singkat waktunya. Ia datang tanpa bisa kita tambah waktunya, dan ia pergi tanpa bisa kita tahan kepergiannya. Bagi sebagian orang, kedatangannya disambut dengan penuh suka cita.

Ada yang menghias hari-harinya dengan ibadah, memperbanyak tilawah, dan memperindah malam dengan doa-doa. Namun ada pula yang menyambutnya biasa saja. Bahkan, ada yang tidak merasakan apa-apa ketika bulan suci itu datang.

Padahal Rasulullah Saw. telah mengabarkan keistimewaan bulan ini dalam sebuah hadis:

“Telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; di dalamnya pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan.”
(HR. Ahmad).

Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan. Di dalamnya, banyak hal terasa lebih mudah dilakukan. Hati terasa lebih ringan untuk bersedekah, langkah terasa lebih cepat menuju masjid, dan waktu terasa lebih berharga untuk diisi dengan kebaikan.

Baca Juga:  Menata Ulang Etika Berdiskusi

Suasana yang dipenuhi semangat ibadah—ditambah lingkungan dan teman-teman yang sama-sama terdorong dalam kebaikan—sering kali menjadi dorongan besar bagi seseorang untuk berubah menjadi lebih baik.

Ramadan seolah mengajarkan satu pelajaran penting: bahwa waktu itu terbatas. Hanya satu bulan dalam satu tahun. Karena itu, setiap detiknya terasa begitu berharga.

Maka, ketika Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk berubah, janganlah menundanya. Bersegeralah menuju kebaikan sebelum kesempatan itu berlalu. Sebagaimana firman Allah Swt.:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
(Ali Imran: 133).

Ramadan bukan sekadar bulan untuk memperbanyak ibadah sementara, lalu kembali seperti semula setelah ia berlalu. Ramadan sejatinya adalah madrasah—tempat kita dilatih untuk memperbaiki diri, menata niat, dan membiasakan diri dengan kebaikan.

Almarhum Ustaz Jefri Al-Bukhori pernah berkata:

“Jika semua ibadah hanya karena Ramadan, sungguh ia telah pergi berlalu. Tetapi jika semua karena Allah, maka tidak ada yang berubah meskipun Ramadan itu pergi.”

Kata-kata ini mengingatkan kita pada satu hal yang sangat mendasar: tentang niat. Apakah kita beribadah karena suasana Ramadan, atau benar-benar karena Allah semata?

Baca Juga:  Kita Tidak Lemah, Hanya Butuh Ruang untuk Pulih

Karena itu, renungkanlah sejenak. Sudah benarkah niat kita dalam setiap amal yang dilakukan di bulan suci ini?

Semoga Allah senantiasa menjaga langkah kita dalam kebaikan. Semoga setiap amal yang kita lakukan di bulan Ramadan tidak berhenti ketika bulan itu pergi. Dan mudah-mudahan Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali bertemu dengan Ramadan pada tahun yang akan datang—dalam keadaan yang lebih baik, dengan iman yang lebih kuat, dan dengan kedekatan kepada-Nya yang lebih dalam daripada Ramadan tahun ini. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni