Telaah

Melatih BMB3 dalam Puasa

73
×

Melatih BMB3 dalam Puasa

Sebarkan artikel ini
Melatih cara berpikir, merasa, bersikap, bertindak, dan bertanggung jawab setiap perbuatan bisa dilakukan pada momentum bulan Ramadan ini.
Ilustrasi

Melatih cara berpikir, merasa, bersikap, bertindak, dan bertanggung jawab setiap perbuatan bisa dilakukan pada momentum bulan Ramadan ini. Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus tapi memperbaiki spiritual dan karakter.

Oleh Arif Efendi, aktivis Muhammadiyah

Tagar.co – Bulan Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi momentum untuk melatih kualitas diri secara menyeluruh.

Puasa mengajarkan manusia untuk memperbaiki cara berpikir, merasa, bersikap, bertindak, hingga bertanggung jawab setiap perbuatan.

Nilai-nilai ini dikenal dengan konsep BMB3: Berpikir, Merasa, Bersikap, Bertindak, dan Bertanggung Jawab.

Dalam suasana Ramadan yang penuh berkah, umat Islam diajak untuk lebih reflektif terhadap diri sendiri. Puasa bukan sekadar ibadah fisik, tetapi juga latihan spiritual yang membentuk karakter dan kedewasaan moral seseorang.

Melatih Cara Berpikir

Puasa melatih manusia untuk berpikir lebih jernih dan bijaksana. Saat menahan diri dari berbagai keinginan, seseorang diajak untuk merenungkan setiap tindakan dan keputusan yang diambil.

Allah SWT berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al-Baqarah: 183)

Baca Juga:  Sepuluh Hari Pertama Puasa: Teruji di Jalan Raya, Pasar, dan Linimasa

Ayat ini menunjukkan tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan, yang di dalamnya termasuk kemampuan berpikir secara benar dan penuh kesadaran akan konsekuensi dari setiap tindakan.

Mengasah Kepekaan Perasaan

Puasa juga melatih manusia untuk merasakan empati dan kepedulian sosial. Ketika menahan lapar dan haus, seseorang dapat lebih memahami kondisi orang-orang yang hidup dalam keterbatasan.

Rasulullah Saw bersabda: Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya. (HR. Bukhari)

Hadis ini menegaskan puasa harus diiringi dengan pengendalian emosi dan perasaan, sehingga seseorang mampu menjaga hati dari kebencian, iri, maupun amarah.

Membentuk Sikap

Ramadan juga menjadi sekolah kehidupan yang melatih sikap sabar, rendah hati, dan penuh pengendalian diri.

Dalam kondisi lapar dan lelah, seseorang diuji untuk tetap menjaga akhlak dan sikapnya terhadap orang lain.

Rasulullah Saw bersabda: Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan berbuat bodoh. Jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, maka katakanlah: Sesungguhnya aku sedang berpuasa. (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga:  Tiga Bekal Raih Kebahagiaan di Kajian Badan Eksekutif Lazismu Gresik

Sikap ini menunjukkan bahwa puasa bukan hanya ibadah individual, tetapi juga latihan untuk menjaga keharmonisan sosial.

Mengarahkan Tindakan

Puasa juga mendorong seseorang untuk bertindak lebih positif, memperbanyak amal kebaikan, seperti sedekah, membaca Al-Qur’an, dan membantu sesama.

Allah SWT berfirman:

Berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. (Al-Baqarah: 148)

Ramadan menjadi waktu terbaik untuk mengubah kebiasaan buruk menjadi tindakan yang lebih produktif dan bernilai ibadah.

Menumbuhkan Tanggung Jawab

Pada akhirnya, puasa melatih manusia untuk memiliki tanggung jawab spiritual dan moral. Seorang muslim sadar bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.

Allah SWT berfirman:

Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. (Az-Zalzalah: 7–8)

Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. (Al-Muddassir 74: 38)

Kesadaran inilah yang membentuk pribadi yang matang, tidak hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat.

Karena itu, kesadaran pada tanggung jawab tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga dengan sesama manusia dan lingkungan.

Baca Juga:  Ilmu sebagai Darah Daging Muhammadiyah

Ketika seseorang berpikir dengan baik, bersikap bijak, bertindak benar, dan berani bertanggung jawab, maka ia sedang mempersiapkan dirinya untuk mempertanggungjawabkan kehidupannya di hadapan Allah Swt.

Puasa sebagai Madrasah Kehidupan

Dengan demikian, Ramadan dapat dipahami sebagai madrasah kehidupan yang melatih konsep BMB3 dalam diri setiap muslim.

Melalui puasa, manusia belajar untuk berpikir lebih baik, merasakan dengan empati, bersikap dengan akhlak mulia, bertindak dengan kebaikan, dan bertanggung jawab atas setiap amanah yang dimiliki.

Jika nilai-nilai ini benar-benar terinternalisasi, maka puasa tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga menjadi proses pembentukan karakter yang membawa perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto