
Sebanyak 350 siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 2 Surabaya mengikuti Darul Arqam di PPIC eLKISI Pungging, Kabupaten Mojokerto. Melalui penguatan tauhid, mereka diajak menemukan ketenangan jiwa sekaligus membangun karakter dakwah yang santun di era digital.
Tagar.co — Sekitar 350 siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) mengikuti kegiatan Darul Arqam yang digelar di Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) eLKISI Pungging, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, pada 9–11 Maret 2026.
Kegiatan yang mengusung tema “Santun dalam Kata, Sejukkan Jiwa” ini, sebagai upaya menumbuhkan generasi muda yang kuat secara spiritual sekaligus santun dalam komunikasi sosial.
Baca juga: eLKISI Bahas Minimnya Dai di Kawasan Minoritas Muslim
Selama tiga hari, para siswa akan mengikuti berbagai sesi pembinaan yang berfokus pada penguatan akidah, pembentukan akhlak, retorika dakwah, hingga strategi berdakwah di ruang digital. Seluruh materi disampaikan oleh para pemateri dari lingkungan PPIC eLKISI.
Tauhid sebagai Sumber Ketenangan
Kegiatan diawali dengan materi bertajuk “Spiritual Power (Akidah): Sejukkan Jiwa dengan Tauhid, Menemukan Ketenangan di Hadapan Khaliq.”
Materi tersebut disampaikan oleh Muhammad Hidayatulloh, yang akrab disapa Cak Muhid, Kepala Pesantren Kader Ulama dan Markaz Al-Qur’an PPIC eLKISI sekaligus Founder Omah Ngopi (Olah Makna, Akal, dan Hati). Ia juga dikenal sebagai penulis Geprek Series (empat jilid) serta Seri Epistemologi Qur’ani (enam jilid) yang diterbitkan eLKISI.
Dalam paparannya, Cak Muhid mengajak para siswa memahami bahwa kegelisahan yang sering dirasakan generasi muda bukan semata-mata karena banyaknya persoalan hidup, melainkan karena hilangnya orientasi spiritual.
“Bukan masalah yang membuat manusia galau. Kehilangan arah hiduplah yang membuat manusia gelisah. Ketika tauhid menjadi pusat kehidupan, hati manusia akan menemukan ketenangan,” ujarnya di hadapan para peserta.
Terbebas dari Perbudakan Sosial
Dalam sesi yang berlangsung sekitar 90 menit itu, para siswa diajak merefleksikan realitas kehidupan remaja modern yang kerap berada dalam tekanan sosial: ingin dipuji, takut dibully, dan sangat bergantung pada penilaian orang lain.
Menurut Cak Muhid, kondisi tersebut merupakan bentuk “perbudakan sosial modern” yang membuat manusia kehilangan kemerdekaan batin.
“Jika Allah sudah cukup bagi kita, maka dunia tidak akan pernah membuat kita gelisah,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa tauhid tidak hanya menjadi konsep teologis, tetapi juga kekuatan spiritual yang membebaskan manusia dari ketergantungan kepada makhluk.

Fondasi Kehidupan Islam
Dalam penjelasannya, Cak Muhid juga memaparkan rumusan sederhana tentang bangunan kehidupan dalam Islam.
Akidah menjadi fondasi, syariah menjadi jalan hidup, dan akhlak menjadi buah dari keduanya. Ketika akidah tertanam kuat dan syariah dijalankan dengan benar, maka akan lahir kepribadian yang matang, tangguh, sekaligus berkarakter.
Ia juga menekankan empat nilai utama dalam spiritualitas Islam: sabar, syukur, tawakal, dan ikhlas. Keempat nilai ini, menurutnya, bermuara pada satu konsep besar dalam Islam, yaitu takwa.
Menemukan Ketenangan di Tengah Tekanan Sosial
Sesi tersebut dipandu oleh Maurice Anantatoer Akbar sebagai moderator. Dalam pengantarnya, ia menjelaskan bahwa penguatan akidah menjadi fondasi penting dalam membangun karakter pelajar.
Menurutnya, Darul Arqam dirancang agar siswa mampu menemukan ketenangan batin di tengah berbagai tekanan sosial yang sering dihadapi generasi muda saat ini.
“Remaja hari ini sering hidup dalam tekanan eksistensi: ingin dipuji, takut dibully, dan sangat bergantung pada penilaian manusia. Karena itu, Darul Arqam ini dirancang untuk menanamkan tauhid sebagai sumber ketenangan jiwa,” ujarnya.
Ia menambahkan, jiwa tidak akan pernah benar-benar sejuk jika masih menggantungkan harapan kepada makhluk. Ketenangan sejati hanya lahir ketika hati bersandar sepenuhnya kepada Allah.
Menyiapkan Generasi Dakwah yang Santun
Selain materi penguatan akidah, kegiatan Darul Arqam juga menghadirkan sejumlah sesi lain, seperti retorika dakwah dan public speaking, adab sebagai manifestasi iman, serta dakwah media sosial dan digital manners.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, para siswa diharapkan tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki kekuatan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












