Feature

Ujian Kejujuran di Alun-Alun Rempah

64
×

Ujian Kejujuran di Alun-Alun Rempah

Sebarkan artikel ini

Gerimis sore membawa godaan besar bagi dua bocah penjual telur puyuh—sebuah tas berisi uang yang nyaris merusak kepercayaan di antara mereka.

Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB

Tagar.co – Gerimis turun lirih di Alun-Alun Rempah sore itu. Butirannya halus, seperti ragu menyentuh tanah. Payung-payung berwarna cerah bermekaran di antara bangku taman, sementara lampu-lampu mulai menyala satu demi satu, memantulkan cahaya kekuningan di genangan air.

Di sudut dekat toilet umum, dua bocah penjual telur puyuh masih berdiri dengan termos plastik mereka.

Baa cerpen lainnya: Suara dari Gang Pandan

“Telur puyuh hangat… lima ribu dapat sepuluh!” seru Jojo, bocah sebelas tahun berambut ikal yang selalu tampak ceria.

Tak jauh darinya, Kerry yang lebih tinggi menimpali dengan suara lebih tenang, “Silakan, Bu. Masih anget. Lumayan buat nunggu hujan reda.”

Sejak sore hingga malam, alun-alun menjadi ruang belajar kehidupan bagi mereka. Telur puyuh itu mereka ambil dari Bu Wati di Gang Semangka. Setiap malam keuntungan dihitung rapi, lalu sebagian diserahkan kepada orang tua masing-masing.

Hidup mereka sederhana, tapi tertib.

Namun sore itu, gerimis membawa ujian yang tak sederhana.

Kerry masuk ke toilet umum untuk berteduh. Di dekat wastafel, sebuah tas kulit hitam tergeletak. Logo kecil di sudutnya bertuliskan Chanel.

Ia mengangkatnya pelan.

Resleting dibuka sedikit.

Di dalamnya, uang pecahan seratus ribu tersusun rapi.

Banyak. Terlalu banyak.

“Ya Allah…” gumamnya.

Tangannya mendadak dingin. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Tak ada siapa-siapa.

Di kepalanya terlintas bayangan teman-temannya di sekolah yang memamerkan gadget baru. Ia ingat ponselnya yang sudah retak dan sering mati sendiri. Ia juga ingat ibunya yang selalu berkata, “Sabar ya, Ker. Nanti kalau ada rezeki.”

Baca Juga:  Jalan Pulang

Tujuh juta rupiah.

Uang sebanyak itu terasa seperti pintu keluar dari segala keinginannya.

Hujan mulai deras. Air menetes dari atap seng toilet.

Dalam beberapa detik yang terasa panjang, Kerry memasukkan tas itu ke dalam kresek hitam dagangannya. Ia keluar lewat pintu samping.

Dari kejauhan, Jojo melihat gerak-geriknya.

“Kerry? Ngapain di belakang toilet?” tanya Jojo mendekat.

“Ah… nggak apa-apa. Ada kucing tadi,” jawab Kerry cepat.

Jojo sempat melihat kilatan uang ketika resleting tas terbuka sedikit.

“Itu uang ya, Ker?”

“Udah, jangan banyak tanya. Kita pulang aja. Hujannya makin gede.”

Nada suara Kerry terdengar biasa, tapi matanya menghindar.

Sejak saat itu, sesuatu berubah di antara mereka. Ada jarak tipis yang tak terlihat.

Hujan benar-benar mengguyur menjelang petang.

Jojo memegang payung biru berlogo bank negara, sementara Kerry mengenakan jas hujan transparan yang mulai kusam.

Sampai di depan Gang Semangka, Kerry berhenti.

“Jo, kamu beli dua bungkus snack kentang di Semangka Mart ya. Nanti kita makan bareng di rumahku.”

“Oke! Tunggu ya!”

Jojo berlari kecil ke arah toko tanpa curiga.

Begitu Jojo menghilang di tikungan, Kerry justru berbalik arah menuju rumah Jojo. Ia tahu rumah itu jarang dikunci. Ibu Jojo sedang menjenguk saudara di RSUD Rempah.

Pukul 17.14, ia masuk.

Napasnya memburu.

Tangannya gemetar saat menyelipkan tas Chanel itu di bawah kasur Jojo. Sebelumnya, ia sudah mengambil dua juta rupiah dari dalamnya.

“Maaf, Jo…” bisiknya lirih.

Tiga menit kemudian, pukul 17.17, ia keluar dan kembali ke rumahnya dua rumah di selatan. Uang dua juta itu ia sembunyikan di atas plafon kamar tidurnya.

Skenario telah ia susun.

Ia ingin selamat sendiri.

Baca Juga:  Bukan karena Aku

Tak lama setelah itu, Bu Selly Margaret panik kehilangan tasnya.

“Isinya uang tujuh juta, KTP, kartu ATM, surat-surat penting!” katanya dengan wajah pucat di Polsek Kota Rempah.

Petugas mencatat kronologi dan memeriksa rekaman CCTV alun-alun.

“Siapa saja yang berada di sekitar toilet waktu itu, Bu?” tanya petugas.

“Dua anak penjual telur puyuh… sama petugas kebersihan,” jawabnya ragu.

Investigasi pun dimulai.

Malam selepas tarawih, Kerry dan Jojo duduk di lantai rumah Kerry, membuka bungkus snack kentang.

Tiba-tiba terdengar ketukan keras di pintu.

“Assalamu’alaikum. Polisi.”

Jojo terlonjak kaget.

“Lho… ada apa ya?”

Petugas bersama Pak RT melakukan penggeledahan di rumah Kerry terlebih dahulu. Tidak ditemukan apa-apa.

Mereka kemudian menuju rumah Jojo, tepat saat ibu Maya baru pulang.

“Ada apa, Pak?” suaranya gemetar.

Setelah dijelaskan maksudnya, penggeledahan dilakukan.

Seorang petugas mengangkat kasur Jojo.

“Pak, ini tasnya.”

Semua orang terdiam.

Wajah Jojo memucat.

“Itu bukan punyaku! Aku nggak tahu, Pak!”

Tas dibuka. Uangnya tinggal lima juta.

“Dua juta ke mana?” tanya petugas.

Jojo menangis.

“Aku nggak ambil apa-apa. Demi Allah, Pak.”

Ibu Maya ikut terisak.

Mereka dibawa ke polsek dengan didampingi Pak RT.

Di ruang Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA), seorang petugas perempuan duduk sejajar dengan Jojo.

“Jojo, kita ngobrol pelan-pelan saja, ya.”

Jojo mengangguk sambil menghapus air mata.

“Kamu menemukan tas itu di mana?”

“Aku nggak pernah nemuin, Bu. Tiba-tiba ada di kamar.”

“Waktu pulang dari alun-alun, kamu melihat sesuatu?”

Jojo terdiam cukup lama.

Lalu ia berkata pelan.

“Aku lihat Kerry buka tas hitam di belakang toilet…”

Petugas saling berpandangan.

Di ruang tunggu, Pak RT Husodo membuka rekaman CCTV rumahnya melalui ponsel.

“Saya ingin membantu. Kamera rumah saya mengarah ke halaman rumah Jojo.”

Baca Juga:  Didukung Wakil Bupati, Foto Siswa Spemdalas Jadi Sarana Belajar Sejarah

Video diputar.

Terlihat jelas Kerry masuk ke rumah Jojo pukul 17.14 dan keluar pukul 17.17.

“Ini buktinya,” kata Pak RT mantap.

Kerry kembali dijemput bersama orang tuanya.

Di ruang PPA, ia duduk tertunduk.

“Kerry,” kata petugas dengan suara lembut namun tegas, “apakah kamu masuk ke rumah Jojo sore itu?”

Ia diam.

“Kami punya rekaman CCTV.”

Air mata mulai menetes.

“Iya, Bu…” suaranya gemetar.
“Saya yang nemu tas itu. Saya ambil dua juta. Saya taruh di kamar Jojo… biar dia yang dituduh.”

“Kenapa kamu melakukan itu?”

“Saya pengin beli gadget… saya iri sama teman-teman.”

Ibunya menutup wajahnya. Ayahnya menghela napas panjang, kecewa dan sedih bercampur jadi satu.

Atas pertimbangan usia dan permintaan maaf yang tulus, kasus itu akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan. Bu Selly memaafkan. Orang tua Kerry dikenakan wajib lapor sebagai bentuk tanggung jawab.

Beberapa hari kemudian, di balai RT, Kerry berdiri di depan Jojo.

“Jo… maafkan aku.”

Jojo menatapnya lama.

“Aku sakit hati, Ker. Tapi aku maafin.”

Tangis Kerry pecah.

Mereka berpelukan.

Bu Wati yang sejak tadi menyimak berkata pelan,
“Rezeki itu nggak pernah salah alamat. Tapi kalau dicari dengan cara salah, hidup bisa ikut gelap.”

Jojo mengangguk pelan.

“Pak ustaz di surau pernah bilang,” katanya pelan, “bohong itu pasti kebongkar, cepat atau lambat.”

Gerimis telah reda.

Lampu-lampu di Alun-Alun Rempah kembali berkilau di genangan air.

Di bawah cahaya kuning taman, dua bocah penjual telur puyuh berdiri seperti biasa.

Gerimis boleh saja datang dan pergi.

Tetapi sore itu telah mengajarkan mereka sesuatu yang tak mudah dilupakan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni