
Polarisasi dunia mulai merembet mengikuti perang Iran-Israel. Negara-negara menyatakan pembelaan dengan dukungan diplomasi dan senjata di antara dua negara itu.
Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran
Tagar.co – Konflik antara Iran dan koalisi Amerika Serikat–Israel yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 telah menjadi pertarungan geopolitik global yang melibatkan aliansi besar, teknologi militer canggih, kalkulasi biaya perang, serta taktik militer tradisional dan modern.
Perang Iran-Israel bukan hanya soal siapa yang memiliki senjata terbaik. Ia adalah ujian strategi, produksi senjata, serta daya tahan ekonomi dan politik masing-masing negara.
Di tengah situasi ini, pertanyaannya bukan hanya apakah Iran memiliki persenjataan yang memadai, tetapi apakah negara ini mampu menghadapi dominasi militer teknologi tinggi yang dimiliki Amerika Serikat dan Israel secara bersamaan, dengan tekanan geopolitik dan diplomasi internasional yang kompleks.
Iran sejak lama sadar akan kelemahannya dalam dominasi udara modern dibandingkan Amerika Serikat dan Israel, membangun kekuatan militernya berdasarkan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone dalam jumlah besar.
Iran kini memiliki salah satu arsenal rudal terbesar dan paling beragam di Timur Tengah, mencakup rudal balistik jarak menengah seperti Shahab‑3, Ghadr, Emad, Khorramshahr, dan Sijjil, yang mampu menjangkau wilayah Israel dan pangkalan AS di Teluk.
Rudal‑rudal ini disimpan di lokasi tersembunyi dan dilindungi jaringan fasilitas bawah tanah serta kompleks peluncuran tersembunyi, sehingga sulit dilumpuhkan sekalipun serangan udara terjadi.
Strategi Iran mengandalkan perang asimetris, menggunakan tekanan jangka panjang melalui rudal dan drone untuk memaksa lawan mengeluarkan biaya besar, memperpanjang konflik, dan menciptakan perang kelelahan yang menguji kesabaran politik dan logistik lawan.
Iran juga memanfaatkan drone serangan (Unmanned Aerial Vehicles/UAV) secara masif sebagai inti strategi tekanan dan gangguan terhadap lawan.
Seri drone seperti Shahed‑136 dan varian lain dilaporkan berjumlah sangat besar. Perkiraan menyebut puluhan ribu unit dalam stok Iran, mampu diluncurkan secara bersamaan atau dalam gelombang besar ke target strategis.
Drone ini memiliki biaya produksi rendah sekitar USD20.000‑50.000 per unit. Tetapi memaksa koalisi AS dan Israel mengeluarkan ribuan dolar per interceptor untuk menanggulanginya, menciptakan imbangan biaya yang tidak menguntungkan bagi pihak lawan.
Dampak Konflik
Dampak strategi drone Iran terlihat jelas dalam studi kasus serangan terhadap negara-negara Teluk. Di Uni Emirat Arab (UAE), sistem pertahanan udara mencatat peluncuran 812 drone dan 186 rudal balistik Iran, yang sebagian besar berhasil dicegat, tetapi tetap menimbulkan kerusakan infrastruktur dan gangguan operasional.
Serangan ini mengganggu kegiatan sipil dan ekonomi, menunjukkan bahwa meskipun pertahanan modern mampu menahan sebagian besar serangan, tekanan psikologis dan ekonomi dari gelombang serangan terus berlangsung.
Serangan Iran tidak hanya ditujukan ke Israel, tetapi juga ke negara-negara yang memiliki hubungan militer atau logistik dengan AS, termasuk Qatar, Kuwait, Bahrain, dan insiden yang menewaskan personel militer AS di Kuwait akibat drone Iran.
Banyak drone berhasil menembus pertahanan dan menimbulkan korban sipil, menunjukkan bahwa strategi kuantitas Iran tetap menimbulkan risiko nyata di medan perang.
Respons koalisi AS–Israel terhadap ancaman ini cukup besar dan intensif. Dalam 100 jam pertama operasi gabungan yang dikenal sebagai Operation Epic Fury, angkatan bersenjata AS mengklaim menyerang hampir 2.000 target di Iran, termasuk ratusan peluncur rudal, fasilitas radar, gudang amunisi, dan infrastruktur pertahanan udara.
Komando militer AS menyatakan bahwa operasi ini sama atau lebih luas daripada serangan selama Perang Irak pada 2003.
Polarisasi Global dan Posisi Indonesia
Dunia kini terbagi jelas dalam polarisasi konflik ini. Sekutu Barat dan NATO, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, serta beberapa sekutu Asia seperti Jepang dan Korea Selatan, mendukung AS–Israel secara diplomatik dan keamanan.
Sementara negara-negara Teluk yang sebelumnya netral kini mendekat karena ancaman langsung terhadap infrastruktur mereka.
Di sisi lain, kekuatan besar seperti Rusia, Cina, dan Korea Utara menolak intervensi langsung. Rusia mengecam agresi, Cina mendorong solusi hukum internasional, dan Korea Utara menunjukkan solidaritas retoris terhadap Iran.Ketiga negara ini mewakili poros penentang intervensi Barat.
Sementara sejumlah negara mengambil jalur netral atau diplomatis untuk mencegah eskalasi, termasuk Indonesia, yang secara konsisten menekankan prinsip non-intervensi, gencatan senjata, dan diplomasi multilateral.
Indonesia menegaskan pentingnya dialog, penghormatan kedaulatan negara, dan solusi damai di PBB serta forum regional, menjaga posisi netral dan mendorong stabilitas kawasan serta global.
Negara-negara lain di Asia, Afrika, dan Amerika Latin juga mendorong penyelesaian diplomatis karena potensi dampak ekonomi dan sosial yang luas dari konflik yang berkepanjangan. Sekretaris Jenderal PBB juga menekankan penghentian permusuhan dan risiko eskalasi yang bisa memicu krisis kemanusiaan.
Pada akhirnya, kemampuan Iran melancarkan serangan rudal dan drone menimbulkan tekanan signifikan terhadap lawan yang lebih maju teknologi.
Namun dominasi udara dan presisi serangan AS–Israel tetap memberi mereka kemampuan menghancurkan target strategis lawan.
Konflik ini bukan sekadar soal kualitas senjata, tetapi juga soal ketersediaan amunisi, strategi produksi, biaya jangka panjang, dan manajemen eskalasi geopolitik.
Perang modern saat ini menjadi arena di mana strategi industri senjata, biaya ekonomi, dan daya tahan politik memainkan peran sama pentingnya.
Hasil akhirnya akan menentukan nasib Timur Tengah dan arah perilaku kekuatan global dalam tatanan dunia multipolar ke depan. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












