
Takbir tetap berkumandang di negeri-negeri yang dilanda konflik. Perayaan hari raya Idulfitri mewarnai rumah-rumah, tapi bayangan bom meledak menahan tawa bebas.
Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran
Tagar.co – Di dunia yang semakin tegang ini, bahkan sebelum gema takbir Idulfitri terdengar, bayang-bayang konflik telah lebih dulu turun seperti kabut tipis yang mencekam.
Amerika Serikat bersama sekutunya meningkatkan tekanan terhadap Iran. Mengajak banyak negara untuk berdiri dalam satu barisan yang tak sepenuhnya tenang.
Kapal-kapal perang bergerak pelan di laut yang luas, keputusan-keputusan besar diambil di ruang-ruang gelap. Dunia seolah ditarik ke satu garis yang kian menegang.
Di tengah semua itu, takbir Lebaran tetap datang, pelan, hening, namun sarat beban yang tak terlihat.
Lebaran selalu membawa janji kemenangan.
Namun di Iran, hari itu terasa lebih dalam dari sekadar perayaan. Di negeri dengan lebih dari 93 juta jiwa, hampir 99 persen beragama Islam, gema takbir Idulfitri bangkit dari puluhan juta hati sekaligus.
Tetapi hal yang besar itu tidak selalu menghadirkan ketenangan. Ada keluarga yang tetap berkumpul dengan hangat, namun di dalamnya tersimpan kehati-hatian yang tak terucap.
Ada senyum yang mengembang, tetapi tidak sepenuhnya lepas dari bayang-bayang kekhawatiran yang diam-diam menetap.
Terbayangkan di sebuah rumah sederhana, seorang ibu menata hidangan dengan tangan yang tetap terampil. Tetapi matanya menyimpan kegelisahan yang lembut.
Ia berhenti sejenak, seolah menghitung sesuatu yang tak kasatmata. Bukan jumlah makanan, melainkan kemungkinan masa depan.
Di sudut ruangan, seorang ayah duduk lebih lama setelah salat. Tatapannya tidak kosong, melainkan penuh. Penuh oleh pertanyaan yang tak pernah menemukan kata. Apakah kebersamaan ini akan tetap utuh tahun depan, ataukah waktu akan mengikisnya perlahan?
Tawa yang Dijaga
Anak-anak tetap berlari, tetap tertawa. Tetap mengenakan pakaian terbaik yang mampu diberikan. Justru di situlah letak pedih yang paling halus, karena mereka belum tahu bahwa tawa mereka dijaga oleh kegelisahan yang tak terlihat.
Mereka belum mengerti bahwa di balik setiap kebahagiaan kecil, ada perjuangan besar yang sengaja disembunyikan agar hari itu tetap terasa utuh, meski dunia di luar tidak selalu ramah.
Jika kita menoleh ke Syria, gambaran itu menemukan bayangannya yang lebih dalam.
Negara yang dilanda konflik lebih dari 10 tahun ini telah membuat lebih dari 6 juta orang mengungsi ke luar negeri dan sekitar 7 juta lainnya terusir di dalam negerinya sendiri.
Tentu Lebaran di sana tidak hanya tentang rindu, tetapi juga tentang kehilangan.
Di Yaman luka itu berulang dalam bentuk yang berbeda. Krisis berkepanjangan membuat lebih dari 20 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Di sana, Lebaran sering datang bukan dengan kelimpahan, tetapi dengan doa yang lebih panjang dan harapan yang lebih rapuh.
Jika di Iran Lebaran terasa berat oleh ketidakpastian, maka di Suriah dan Yaman sering kali dipenuhi oleh kehilangan.
Tiga negeri, satu benang merah. Manusia yang bertahan di tengah keadaan yang tidak mereka pilih.
Secara analitik, hari raya seharusnya menjadi ruang istirahat bagi manusia. Sebuah jeda dari tekanan hidup.
Namun dalam realitas Iran, Suriah, dan Yaman, Lebaran justru menjadi cermin yang jujur. Ia memantulkan jurang antara harapan dan kenyataan.
Ketika hidup tidak memberi kelapangan, maka hari raya tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga pengingat bahwa tidak semua orang sampai pada titik yang sama.
Pulang yang Sederhana
Dalam benak penulis: di Teheran, seorang pemuda pulang tanpa membawa banyak, hanya dirinya yang lelah, tetapi utuh.
Di Aleppo, mungkin ada pemuda lain yang bahkan tidak tahu ke mana harus pulang.
Dan di kota-kota Yaman, ada yang pulang hanya dengan doa karena rumah telah lama hilang. Ketika mereka mengangkat tangan dalam doa, tidak ada perbedaan dalam harapan mereka.
Mereka sama-sama meminta satu hal yang sederhana, agar hari esok tidak lebih berat dari hari ini. Di situlah kekuatan yang paling dahsyat lahir.
Di Iran, jutaan orang tetap bertakbir dengan keyakinan yang tidak berkurang.
Di Suriah, takbir tetap menggema di antara bangunan yang tak lagi utuh.
Di Yaman, ia naik dari hati yang lapar namun tidak kehilangan iman. Seolah ada sesuatu yang tidak bisa dihancurkan oleh keadaan. Sebuah keyakinan bahwa harapan tetap layak diperjuangkan, bahkan ketika dunia tak memberi cukup alasan.
Doa yang Tertinggal
Dan ketika malam kembali sunyi, setelah semua kunjungan usai dan rumah kembali sepi, kejujuran hadir tanpa hiasan.
Seseorang mungkin duduk sendiri, menatap langit yang sama, dan berdoa dengan suara yang nyaris tak terdengar.
”Ya Tuhan… jika hari ini belum lapang, jangan sempitkan hati kami.”
Lebaran di sana bukan hanya tentang kebahagiaan. Adalah tentang manusia yang tetap berdiri di tengah tekanan, tetap percaya di tengah ketidakpastian, dan tetap berharap meski tidak selalu dimudahkan.
Dan mungkin, justru di situlah kemenangan yang paling dalam, ketika seseorang masih mampu berharap, meski dunia terasa semakin sempit. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












