Telaah

Ihsan kepada Orang Kafir

78
×

Ihsan kepada Orang Kafir

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Ihsan kepada orang kafir yang tidak memerangi merupakan ajaran Islam yang menonjolkan keadilan dan kasih sayang, sekaligus menjadi jalan dakwah yang bijak dan menyentuh hati.

Oleh: Muhammad Damanhurialias Ustaz Dayak, Ketua Yayasan Kejayaan Mualaf Indonesia; Ketua Umum Lembaga Majelis Taklim Mualaf Kalimantan Barat; dan Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Pontianak. Bersama Muallaf Kita Mampu!.

Tagar.co – Tidak terasa sepuluh hari pertama Ramadan telah berlalu. Senin (2/3/26), kita memasuki fase kedua, yakni sepuluh hari pertengahan yang dikenal sebagai masa turunnya ampunan (magfirah).

Pada fase ini, Allah Swt. membukakan pintu ampunan seluas-luasnya bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh memohon ampun. Kata magfirah sendiri berasal dari akar kata ghaara yang bermakna menutup, mengampuni, dan memaafkan.

Baca juga: Ihsan kepada Tawanan dan Kaum Lemah

Untuk menambah keilmuan, mari kita melanjutkan kajian Kitab Syajaratul Ma’arif, Bab 11 tentang Ihsan dengan Akhlak dan Perbuatan. Pada hari ke-12 Ramadan ini, pembahasan difokuskan pada tema ihsan kepada orang kafir.

Baca Juga:  Ihsan dalam Menjawab Permintaan: Meneladani Akhlak Rasulullah

Allah Swt. berfirman: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu.” (Al-Mumtahanah: 8)

Dalam ayat lain disebutkan: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Lukman: 15)

Serta firman-Nya: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (Al-Insan: 8)

Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap perbuatan baik adalah sedekah.” Dalam hadis lain beliau bersabda, “Dalam setiap hati yang basah terdapat sedekah.” (Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244, dari Abu Hurairah secara marfuk).

Diriwayatkan pula bahwa Asma’ bertanya, “Wahai Rasulullah, ibuku datang kepadaku. Apakah saya boleh bersilaturahim dengannya?” Rasulullah menjawab, “Bersilaturahimlah dengan ibumu.” (Bukhari No. 2620 dan Muslim No. 1003).

Dalil-dalil tersebut menegaskan bahwa berbuat kebajikan kepada orang kafir yang tidak memerangi merupakan bagian dari ihsan. Sikap ini bukan hanya wujud akhlak mulia, tetapi juga dapat menjadi jalan yang melunakkan hati dan membuka pintu hidayah.

Baca Juga:  Kepemimpinan Ihsan: Berpihak pada Kemaslahatan

Semoga pelajaran Ramadan pada fase kedua ini memberi manfaat dan mendorong kita untuk semakin bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah puasa dan salat malam. (#)

Penyuting Mohammad Nurfatoni