
Di usia 66 tahun, Yuli Trisnowati harus bertahan di rumah yang nyaris roboh bersama suami yang sakit-sakitan. Uluran tangan dibutuhkan agar mereka kembali hidup dengan aman.
Tagar.co — Sebuah rumah tua di kawasan Jetis, Sidoarjo, kini berdiri dalam kondisi memprihatinkan. Atapnya ambruk dimakan usia, menyisakan rangka kayu rapuh yang terbuka ke langit. Setiap hujan turun, air masuk tanpa penghalang, menggenangi lantai. Dinding pun mengelupas, perlahan seperti ikut menyerah.
Baca juga: Kolaborasi Lazismu–Baznas Sidoarjo Bedah Rumah Warga Terdampak Atap Ambruk
Rumah itu dihuni Yuli Trisnowati (66), pensiunan guru sekaligus anggota Aisyiyah Jetis. Di usia senja, ia tinggal bersama suaminya yang telah berusia 69 tahun, yang sudah tidak bekerja dan kerap sakit-sakitan. Tak ada penghasilan yang bisa diandalkan. Tenaga pun tak lagi kuat untuk menahan rumah yang runtuh sedikit demi sedikit.
Sejak awal Agustus, kerusakan merambat ke kamar-kamar. Genteng jatuh bergantian hampir setiap hari. Reng penopang telah rapuh seluruhnya. Di bagian belakang, hanya tersisa satu ruang kecil untuk berteduh—itu pun bocor di sana-sini.
Setiap mendung datang, kecemasan ikut turun bersama rintiknya. Bagi Yuli, hujan bukan sekadar membuat basah, tetapi menghadirkan rasa waswas yang sulit ditepis.
“Kalau hujan, airnya masuk. Kami cuma bisa pasrah,” ungkap Yuli lirih.
Padahal, dari rumah sederhana itulah puluhan tahun pengabdian pernah dirajut. Ia menghabiskan masa baktinya sebagai guru, mendidik dan membentuk masa depan anak-anak bangsa. Kini, di penghujung usia, harapannya sangat sederhana.
“Saya hanya ingin rumah ini tidak bocor lagi. Bisa dipakai istirahat dengan tenang,” tuturnya pelan.
Impian itu tidak besar. Ia hanya ingin hidup tenang di rumah sendiri—tanpa cemas setiap kali langit berubah gelap.
Mari Wujudkan Harapan Ibu Yuli
Uluran tangan kita dapat menjadi harapan bagi Ibu Yuli untuk kembali memiliki rumah yang layak huni. Donasi dapat disalurkan melalui: BSI 7025835713 Kode unik: 007. Konfirmasi transfer: 0821-4004-1912. (#)
Jurnalis Yekti Pitoyo | Penyunting Mohammad Nurfatoni












