Opini

Pelemahan Rupiah dan Forum Davos

88
×

Pelemahan Rupiah dan Forum Davos

Sebarkan artikel ini
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi tema utama di kalangan pelaku ekonomi dan sasaran kritik atas kebijakan pemerintah. Forum Davos memunculkan optimisme.
Presiden Prabowo Subianto di World Economic Forum, Davos, Swiss.

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS menjadi tema utama di kalangan pelaku ekonomi dan sasaran kritik atas kebijakan pemerintah. Forum Davos memunculkan optimisme.

​Oleh Dr. Eko Wahyuanto, Pengamat Kebijakan Publik.

Tagar.co – Di tengah cuaca buruk ekonomi dunia, Indonesia membangun fondasi ekonomi di atas fluktuasi angka-angka trader valas dan tren global yang sulit dibaca.

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS menjadi tema utama di kalangan pelaku ekonomi, akademisi, hingga ruang sidang DPR RI. Ada yang cemas, skeptis, namun banyak pula yang optimis.

Bertolak dari anatomi ekonomi dan politik hari ini menyembul optimisme di antara wajah-wajah pesimistis dan kritis.

Pertama, nilai tukar rupiah sama sekali tidak ada hubungan dengan dinamika internal di Bank Indonesia. Munculnya nama Thomas Djiwandono sebagai calon Deputi Gubernur tidak ada urusan dengan koreksi nilai tukar.

​Anggota DPR dari Partai Golkar Eric Heryawan menyatakan, pelemahan rupiah didorong fenomena external-driven. Ketika The Fed di Amerika Serikat memainkan ritme suku bunga tak menentu, seluruh mata uang negara berkembang tertekan. Bukan cuma rupiah.

​ Analis kebijakan melihat, pelemahan rupiah seperti pisau bermata dua. Jika pemerintah mampu membaca fenomena ini, maka posisi itu justru membawa berkah ekonomi.

Baca Juga:  Kedaulatan Negara dan Dana Asing Soros

Dari kacamata produsen misalnya, posisi rupiah yang kompetitif  bisa jadi stimulus alami sektor ekspor dan hilirisasi.

​Presiden Prabowo Subianto beberapa kali menekankan sinyal itu dalam konsep kemandirian ekonomi nasional.

Dengan rupiah di posisi saat ini, barang-barang hasil hilirisasi mulai dari nikel hingga produk olahan manufaktur menjadi lebih menarik dan kompetitif di pasar global. Ini momentum bagi eksportir lokal untuk meraup devisa lebih besar.

Di sisi lain, harga barang impor yang menjadi lebih mahal secara otomatis akan memaksa pasar domestik untuk melirik produk dalam negeri.

Inilah esensi dari penguatan struktur ekonomi nasional: mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat konsumsi produk lokal.

Pelemahan rupiah jangan melulu sebagai kekalahan. Bisa dibaca sebagai insentif paksa untuk mencintai produk bangsa sendiri.

 Panggung Davos

Kunjungan Presiden Prabowo Subianto di World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026) waktu setempat, memaparkan grand strategi konsep ekonomi Indonesia dalam tajuk Prabowonomics di depan lebih dari 65 kepala negara dan 1.000 CEO global.

Baca Juga:  Finansial Negara Rusak di Tengah Perang

Konsep itu kristalisasi pemikiran ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan tinggi, ketahanan pangan, energi hijau, dan keberpihakan pada rakyat melalui hilirisasi industri.

​Indonesia bukan sekadar penonton di rantai pasok global. Melalui konsep ini Indonesia memosisikan diri sebagai episentrum energi hijau dunia.

Di tengah dunia haus solusi iklim, Indonesia menawarkan opsi investasi hijau. Melalui langkah berani menarik modal asing (Foreign Direct Investment) ke dalam negeri.

​Jika Prabowonomics sukses meyakinkan raksasa global di Davos, aliran modal masuk (inflow) akan masif. Inilah jurus menguatkan rupiah secara fundamental, bukan melalui senapan intervensi pasar sporadis.

Prabowonomics bicara tentang membangun kepercayaan dunia, bahwa Indonesia adalah tempat aman dan stabil bagi investasi, progresif, dan memiliki visi jangka panjang.

​Sinergi dan Optimisme

Tema WEF adalah a Spirit of Dialogue. Sangat sinkron dengan gaya diplomasi merangkul semua pihak. Di Davos, Indonesia menawarkan sinergi dan  berkolaborasi tentang ekonomi hijau.

Indonesia Pavilion dan Indonesia Night di Swiss menjadi etalase betapa seriusnya pemerintah dalam menjemput bola investasi.

​Kembali ke rupiah. Stabilitas ekonomi tidak hanya dibangun dari kebijakan moneter Jakarta, tetapi juga kepercayaan global di di forum internasional seperti Davos.

Baca Juga:  Sikap Tahu Diri Pejabat

Investor global harus diyakinkan bahwa  transisi kepemimpinan di Bank Indonesia berjalan kompeten, ditopang konsep ekonomi solid yang dibawa langsung oleh presidennya.

Maka sentimen negatif terhadap posisi rupiah diyakini luruh.

​Pemerintah sedang memainkan papan catur strategi ekonomi global. Dalam persepsi kebijakan publik, kontroversi pelemahan rupiah hanyalah riak kecil di tengah arus besar transformasi ekonomi.

Fokus pada hilirisasi, kemandirian pangan, dan hilirisasi digital adalah inti dari Prabowonomics. Dari konsep itu Indonesia bakal melompat dari jebakan pendapatan menengah.

Tanpa Narasi Ketakutan

Pelemahan rupiah merupakan  dinamika global yang bisa dikelola. Tidak ada kaitannya dengan suksesi di BI yang bersifat profesional dan teknokratis.

Konsep ekonomi yang ditawarkan di Davos merupakan manifesto keberanian Indonesia berdikari secara ekonomi, seperti yang pernah didengungkan Presiden Sukarno.

​Biarkan rupiah mencari titik keseimbangan baru, bersamaan dengan ekonomi Indonesia yang lepas landas ke pasar global. Itulah perspektif positif yang harus kita rawat. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto