Rileks

Tanpa Gawai, Petak Umpet Menghidupkan Liburan Anak-Anak

84
×

Tanpa Gawai, Petak Umpet Menghidupkan Liburan Anak-Anak

Sebarkan artikel ini
Edsel Faesha Yudha Rampalino (kanan) bersama Sultan Ahmad Ateem, dan Fafa Fausta Dzullail sedang bermain petak umpet di Perumahan Ambarawa Residence, Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 25 Desember 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah)

Di tengah liburan sekolah, anak-anak Ambarawa menemukan kembali kegembiraan sederhana lewat petak umpet—permainan tradisional yang menjauhkan mereka dari layar dan mendekatkan pada tawa, gerak, serta persahabatan.

Tagar.co — Liburan sekolah tahun ini terasa berbeda bagi keluarga di Perumahan Ambarawa Residence, Jawa Tengah.  Jika biasanya gawai menjadi teman setia anak-anak sepanjang hari, kali ini suasana berubah.

Orang tua sepakat membatasi penggunaan gadget dan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih hidup: permainan tradisional.

Kamis siang (25/12/2025), cuaca mendung justru menjadi panggilan bermain bagi tiga sahabat kecil: Edsel Faesha Yudha Rampalino (9), Sultan Ahmad Ateem (7), dan Fafa Fausta Dzullail (8).

Baca juga: Wedang Ronde Ambarawa: Semangkuk Kehangatan di setiap Liburan

Di halaman perumahan, tawa mereka pecah saat permainan petak umpet dimulai—permainan sederhana yang kini terasa istimewa karena mulai jarang ditemui di era digital.

“Satu… dua… tiga… empat… lima…,” suara Edsel menggema di balik tembok sambil menutup mata. Fafa dan Sultan berlarian mencari tempat persembunyian terbaik, menyelinap di balik pagar, pohon, dan sudut rumah, berusaha mengalahkan kecerdikan si “kacang”.

Baca Juga:  Ardan dan Cerita yang Tidak Selalu Utuh

Petak umpet dimainkan oleh beberapa anak. Satu orang bertugas sebagai pencari, sementara lainnya bersembunyi. Siapa pun yang pertama ditemukan akan menjadi pencari berikutnya. Aturannya sederhana, tetapi kegembiraannya nyaris tak terbendung.

Manfaat Permainan

Di balik keseruannya, permainan ini menyimpan banyak manfaat. Anak-anak belajar bergerak aktif, mengatur strategi, bekerja sama, membaca situasi, hingga memahami makna sportivitas. Mereka juga belajar menunggu giliran, menghormati teman, dan menikmati kebersamaan tanpa layar.

Di tengah dominasi gawai, petak umpet menjadi oase kecil yang menyegarkan masa kanak-kanak. Bagi Edsel, Sultan, dan Fafa, permainan ini bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan menciptakan kenangan liburan yang akan tinggal lama dalam ingatan.

Fenomena kecil di Ambarawa ini seolah memberi pesan sederhana bagi para orang tua: tidak selalu perlu teknologi canggih untuk membuat anak-anak bahagia. Indonesia memiliki ratusan permainan tradisional yang kaya nilai, murah, dan mudah dimainkan—petak umpet hanyalah salah satunya.

Liburan pun terasa lebih bermakna ketika anak-anak berlari, tertawa, dan berkeringat di luar rumah, merajut persahabatan dalam dunia nyata. (#)

Baca Juga:  Jejak Manis di Balik Es Krim

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni