Opini

Jeda MBG untuk Nglaras Niat

72
×

Jeda MBG untuk Nglaras Niat

Sebarkan artikel ini
Jeda MBG di masa libur sekolah dipakai untuk konsolidasi memperbaiki tata laksana penyelenggaraan mulai perbaikan sistem produksi, penyempurnaan logistik, penguatan SDM, dan standar keamanan pangan.
Pengantaran MBG dengan motor di Pegunungan Menoreh Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta.

Jeda MBG di masa libur sekolah dipakai untuk konsolidasi memperbaiki tata laksana penyelenggaraan mulai perbaikan sistem produksi, penyempurnaan logistik, penguatan SDM, dan standar keamanan pangan.

Oleh Dr. Eko Wahyuanto, dosen Politeknik Negeri Media Jakarta dan Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta.

Tagar.co – Di tengah maraknya saran program Makan Bergizi Gratis (MBG) di masa liburan sekolah, Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya mengambil keputusan jeda sementara distribusi makanan pada 2-7 Januari 2026. Buka kembali serentak pada 8 Januari 2026.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengatakan, masa jeda ini untuk konsolidasi yang dimanfaatkan untuk memperbaiki tata laksana penyelenggaraan MBG mulai dari perbaikan sistem produksi (dapur), penyempurnaan logistik, penguatan sumber daya manusia, serta peningkatan standar keamanan pangan.

Dalam bahasa Jawa masa jeda ini disebut nglaras. Sebelum melangkah lebih jauh, menyelaraskan niat baik dengan daya dukung realitas.

Sepanjang 2025, MBG telah melayani kebutuhan gizi dan ibu hamil. Anak-anak sekolah memperoleh asupan protein dan zat besi yang baik diharapkan meningkatkan konsentrasi belajar dan pertumbuhan fisik.

Baca Juga:  Wacana Dana Zakat untuk MBG dalam Sorotan Syariah

Prof. Dr. Frieda Mangunsong, psikolog pendidikan dari Universitas Indonesia, kerap menekankan bahwa gizi yang konsisten bukan sekadar memenuhi perut, melainkan membangun fondasi kognitif dan motivasi belajar anak.

John Dewey, filsuf pendidikan Amerika abad ke-20, dalam bukunya Democracy and Education, menegaskan, pendidikan sejati harus berpijak pada pengalaman holistik anak, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar seperti gizi yang memadai. Tanpa tubuh yang sehat, pikiran tak mampu berkembang secara optimal.

Sebuah prinsip yang kini menjadi pijakan pemerintah dalam program prioritas MBG.

Perut Kenyang, Pikiran Berkembang

Begitu pula Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed, menyatakan, kelaparan adalah bentuk penindasan struktural yang menghambat kesadaran kritis.

Program MBG diharapkan membebaskan anak dari kelaparan selama belajar di sekolah. Perut kenyang membuka ruang kesadaran berpikir yang berkembang.

Dari sisi ilmu gizi modern, Dr. Walter Willett, profesor epidemiologi dan nutrisi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, dalam berbagai publikasinya menekankan, intervensi gizi berbasis sekolah yang berkelanjutan dapat meningkatkan fungsi kognitif hingga 10-15 persen pada anak usia sekolah.

Baca Juga:  MBG dari Allah bagi Orang yang Berpuasa

Ia juga menggarisbawahi pentingnya variasi menu berbasis bukti ilmiah untuk mencegah defisiensi mikronutrien.

Masa jeda distribusi MBG memberi peluang untuk menyempurnakan menu agar selaras dengan rekomendasi global seperti yang dikeluarkan WHO dan UNICEF, sehingga manfaatnya bisa membentuk generasi yang lebih tangguh.

Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Arie Sujito, menegaskan, MBG berfungsi sebagai perekat sosial bangsa.

Program ini meredam jurang gizi antarkelompok, mencegah stigmatisasi anak dari keluarga kurang mampu, dan menumbuhkan rasa solidaritas nasional yang hangat.

Paling membanggakan, prioritas tanpa jeda bagi kelompok rentan—ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (kelompok 3B).

Ini menunjukkan sensitivitas negara terhadap 1.000 Hari Pertama Kehidupan, masa emas yang tak boleh terganggu oleh kalender sekolah semata.

Dari perspektif tata kelola publik, langkah BGN ini selaras dengan semangat good governance yang antisipatif dan adaptif.

Program sebesar MBG yang menjangkau puluhan juta jiwa, memang memerlukan fondasi operasional yang kokoh.

Masa jeda memberi ruang bernapas untuk sertifikasi ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pelatihan lanjutan, dan digitalisasi pengawasan—semua itu akan memperkuat akuntabilitas sekaligus efisiensi anggaran.

Baca Juga:  Penataan Ulang PBI, BPJS Jadi Gaduh

Pada akhirnya, MBG tidak hanya bertahan, melainkan berkembang menjadi instrumen investasi sumber daya manusia yang berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.

Jalan Tengah

Dalam dimensi psikososial, jeda ini juga membangun rasa aman kolektif yang amat dibutuhkan di tengah kecemasan zaman.

Dengan mempertegas standar keamanan pangan, BGN meredam potensi kegelisahan orang tua dan anak terhadap kualitas hidangan.

Ini bukan sekadar urusan teknis, melainkan membangun kepercayaan publik bahwa negara menjaga kesehatan generasi mendatang.

Di saat banyak suara menyarankan penghentian MBG selama libur sekolah, BGN memilih jalan tengah yang fleksibel bagi anak, sekaligus komitmen tanpa putus bagi warga rentan.

MBG bukan sekadar program makan gratis tapi ikhtiar membangun peradaban: generasi yang sehat jasmani, cerdas rohani, dan produktif bagi bangsanya.

Pelaksanaan tahun 2026 melibatkan pakar lokal, UMKM, dan transparansi data, program diharapkan berjalan lebih baik dan semua keluhan tidak ada lagi. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto