
MC dan qari Kajian Ahad Pagi Ulin Nuha PCM Puncu diborong siswa MTsMuhammadiyah 1 Pare. Natasya, siswi kelas VII mengendalikan acara sebagai MC. Dan Ahmad Khaizuran Aska Setiawan, siswa kelas VIII menjadi qori
Tagar.co – Matahari bersinar cerah menerangi kawasan Perguruan Muhammadiyah Puncu yang berlokasi di Desa Asmorobangun, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, Ahad (10/8/2025). Sejak pukul 06.30 WIB warga dan simpatisan Muhammadiyah mulai memadati kawasan ini.
Mereka hendak mengikuti Kajian Ahad Pagi Ulin Nuha yang pematerinya ada anggota Majelis Ekonomi PCM Pare Ustad Fikri Zakia M.Pd. Kurang lebih 100 warga Desa Asmorobangun dan warga Kecamatan Pare berbondong-bondong hadir untuk mengikuti kajian.
Kajian ini dinamakan Ulin Nuha, mengambil nama panti asuhan yang ada di kompleks Perguruan Muhamamdiyah Puncu. Di kawasan ini terdiri dari 3 Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Yaitu Panti Pasuhan Ulin Nuha, SD Aisyiah 1 Puncu dan TK Aisyiyah 1 Puncu. Tema Kajian Ahad Pagi adalah Rasa Syukur atas Kemerdekaan.
Ada yang berbeda dengan kajian kali ini. Dua siswa MTs Muhammadiyah 1 Pare mendapat kepercayaan untuk memimpin jalannya Kajian Ahad Pagi yang dilaksanakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri.
Berani Eksplorasi Potensi
Natasya, siswi kelas VII MTs Muhammadiyah 1 Pare dengan percaya diri mengekspresikan public speakingnya dihadapan para jama’ah dengan menjadi pembawa acara atau MC di kajian tersebut.
Guru Bahasa Indonesia dan pengampu pengembangan bahasa Rafika Istiqfarina F menyampaikan rasa bangganya atas penampilan siswa-siswinya kepada tagar.co.
“Untuk pengalaman pertama ananda Natasya sudah mampu menjalankan tugasnya dengan baik dalam memimpin acara di kajian ini. Dia saat ini masih kelas VII, tapi sudah menunjukkan keberaniannya untuk mengeksplorasi potensinya,” terangnya
Menurutnya, sekolah melihat perlunya mengeksplorasi potensi siswa-siswi. Dengan adanya program di Kajian Ahad Pagi Ulin Nuha sangat membantu untuk mewujudkan tujuan madrasah.
“Program ini sudah berjalan selama satu tahun. Tujuannya adalah mencetak generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan keterampilan hidup yang unggul,” terangnya.

Sementara itu, Ahmad Khaizuran Aska Setiawan, siswa kelas VIII yang memiliki potensi dibidang Al-Qur’an menampilkan bacaan Al-Qur’an Surat At-Takwir. Dari makharijul huruf, tajwid, serta iramanya sangat diperhatikan untuk menghindari kesalahan karena akan mengubah maknanya.
Dia memilih Surat At-Takwir karena di dalamnya menjelaskan tentang hari kiamat dan perubahan dahsyat yang terjadi pada saat itu. Surat ini juga membahas tentang balasan surga dan neraka, serta pentingnya keimanan dan amal shaleh.
Pengampu tahfidh sekaligus guru Bahasa Arab Silvy Hartiana mengungkapkan rasa bangganya atas penampilan siswanya. Memang perlu peningkatan yang lebih terhadap tajwid dan iramanya.
“Perlu peningkatan kepercayaan diri ananda Aska. Ini karena saat tampil terlihat kurang pede yang membuat beberapa tajwidnya perlu perbaikan,” jelasnya.
Dua Kajian Sehari
Setelah mengikuti Kajian Ahad Pagi Ulin Nuha, Kepala MTsM 1 Pare Radhiesty Megha Putri, S.Pd., mengajak siswa-siswi beserta para guru untuk lanjut mengikuti Kajian & Konsolidasi. Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Kediri menjadi pelaksana kegiatan ini.
Pemateri kajian ini adalah Dr. Nurul Humaidi, M.Ag. Jabatannya Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) PWM Jawa Timur. Lokasi kajian di Panti Asuhan Muhammadiyah-PCM Kepung Desa Damarwulan, Kecamatan Kepung.
Dengan semangat mengikuti dua kajian, MTsM Nurul Jaelani memberikan pelajaran terhadap siswa siswinya. Mengasah potensi tidak hanya sekali dua kali, melainkan perlunya latihan dan terus latihan untuk bisa menjadi mahir. (#)
Penulis M. Faisol Teguh Fahmi. Penyunting Sugiran.












