Feature

Lukisan dari Bubur Kertas Daur Ulang, Inovasi Ramah Lingkungan SDMM

20
×

Lukisan dari Bubur Kertas Daur Ulang, Inovasi Ramah Lingkungan SDMM

Sebarkan artikel ini
Tong Penampungan Sampah Plastik. Masha Zafira Ahnafi Rizqi, Kader Tiwisada SDMM, menunjukkan tong penampungan sampah plastik dari rangkaian botol bekas. Menurut Kepala SDMM, Athiq Amiliyah, hasil penjualannya disedekahkan melalui Bank Sampah Induk Gemes Sekardadu. (Tagar.co/Achmad Nazaruddin)

Dalam penjurian LLSMS 2025, SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik memukau juri lewat beragam inovasi ramah lingkungan—dari pengelolaan sampah plastik dan organik, kebun toga, hingga lukisan unik berbahan bubur kertas daur ulang.

Tagar.co — Usai mencicipi kuliner sehat dalam penjurian Lomba Lingkungan Sekolah Muhammadiyah Sehat (LLSMS) di SD Muhammadiyah Manyar (SDMM), Jumat, 8 Agustus 2025, saya dan rekan juri, Ernawati, diajak beberapa anggota Kader Tiwisada berkeliling sekolah untuk melihat langsung program pengelolaan sampah.

Baca juga: Dari Es Krim Pakcoi hingga Nuget Daun Kelor, SDMM Tampilkan Inovasi Kuliner Sehat

Langkah kami terhenti di salah satu sudut halaman. Di sana berdiri penampungan sampah plastik yang tak biasa. Wadahnya bukan tong dari besi atau plastik pabrikan, melainkan susunan botol-botol plastik bekas yang dirangkai rapi hingga membentuk keranjang besar berbentuk silinder.

Dengan senyum ramah, Masha Zafira Ahnafi Rizqi, salah satu Kader Tiwisada, menjelaskan bahwa wadah ini dibuat oleh siswa sendiri. Botol-botol bekas minuman diikat kuat membentuk rangka, menjadi tempat menampung sampah anorganik sebelum diolah lebih lanjut.

Kepala SDMM, Athiq Amiliyah, yang setia mendampingi juri, menambahkan bahwa botol-botol yang terkumpul akan dibawa ke Bank Sampah Induk Gemes Sekardadu. Uang hasil penjualannya kemudian akan disedekahkan untuk kegiatan sosial.

Atas penjelasan itu, Ernawati yang akrab disapa Bu Erna mengatakan inovasi sederhana ini punya makna besar: mengajarkan anak-anak bahwa limbah tidak hanya bisa dimanfaatkan kembali, tetapi juga dapat menjadi sumber kebaikan yang nyata bagi orang lain.

Namun, ia menegaskan, lebih baik lagi bila sampah plastik ini diminimalisasi, bahkan nol alias zero sampah plastik. “Lebih baik bila semua siswa membawa tumbler dan mengisi ulang minum dari galon sehingga tak banyak penggunaan botol plastik,” sarannya.

Ustazah Athiq, sapaan akrab kepala SDMM, sigap menjawab bahwa sebenarnya para siswa sudah punya kebiasaan membawa tumbler. Namun, jika ada yang lupa, mereka terpaksa membeli air kemasan botol.

Baca Juga:  Hexagon Hack: Cara Cerdas Belajar Geometri dengan Logika Komputasi dari Kelas Jepang

“Di kelas-kelas sudah kita sediakan air minum dalam galon,” jelasnya.

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Ranting Muhammadiyah PPI Hon Jaelani, yang juga selalu mendampingi kami, menambahkan bahwa adanya botol-botol plastik itu juga merupakan “sumbangan” dari rapat-rapat yang berlangsung di ruang Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah Manyar, yang berada di lantai dua gedung SDMM.

“Kalau begitu, rapat selanjutnya jangan disediakan minuman dalam botol,” kata saya setengah bercanda sambil menoleh ke arah Mardliyatul Faizun, Sekretaris Eksekutif Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Gresik, yang sering mengadakan rapat majelis di ruang tersebut.

Kebun Toga. Kader Tiwisada SDMM Fathia Aliyah Ramadhani (tengah) sedang menjelaskan soal kebun toga di hadapan juri (Tagar.co/Mardliyatul Faizun)

Perlu Katalog Tanaman Toga

Usai melihat inovasi tong penampungan plastik dari botol bekas, saya dan Bu Erna diajak beberapa Kader Tiwisada berjalan ke sisi barat gedung sekolah. Jalur ini dipenuhi berbagai jenis tanaman toga yang tertata rapi di rak-rak kayu dan pot gantung.

Di sepanjang pagar kawat, deretan pot berisi tanaman herbal berlabel nama tersusun rapi—mulai dari lavender, sirih, jahe, lidah buaya, daun kelor, serai, sambiloto, hingga temulawak. Masing-masing diberi papan nama kecil, memudahkan siapa pun untuk mengenalinya.

Baca jugaPanen Pakcoi di SDMM: Hadiah Segar untuk Juri LLSMS

Koordinator Kesiswaan Niswatul Mujtahidah alias Ustazah Hanim, dibantu beberapa Kader Tiwisada termasuk Khayla Quanika Marlene, tampak antusias menunjuk beberapa tanaman sambil menjelaskan manfaatnya bagi kesehatan. Penjelasan itu membuat Bu Erna, juri dari Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Gresik, memberi apresiasi.

Tapi ia punya catatan, “Sebaiknya tanaman toga ini dibuatkan katalog.”

Yang menarik, di tengah peninjauan yang diselingi perbincangan ringan, seorang Kader Tiwisada menunjuk dua bekas galon air mineral yang berisi cairan putih keruh. “Itu air leri, berasal dari dapur katering,” jelas Khayla.

Baca Juga:  Inovasi Pendidikan Indonesia di Panggung Dunia: "Teachers’ Lab SDMM" Dipresentasikan dalam Simposium di Jepang

Air leri—air bekas cucian beras—dikumpulkan di galon-galon ini bukan untuk dibuang, melainkan dimanfaatkan kembali. Di SDMM, air leri digunakan sebagai penyubur tanaman karena kaya akan nutrisi alami seperti vitamin B1, pati, dan mineral yang membantu pertumbuhan akar.

Komposter Sampah Organik. Kader Tiwisada Khayla Quanika Marlene membuka komposter hibah Dinas Lingkungan Hidup Gresik yang digunakan untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk, disaksikan. (Tagar.co/Mardliyatul Faizun)

Pengolahan Sampah Organik

Dari deretan tanaman toga, langkah kami bergeser ke sebuah titik yang tak kalah menarik. Di sana ada sebuah tong biru besar bertuliskan Komposter – Pengolahan Sampah Organik, hibah dari Dinas Lingkungan Hidup Gresik.

Kader Tiwisada Khayla Quanika Marlene menjelaskan bahwa tong ini digunakan untuk mengolah sampah organik, seperti sisa sayuran dan daun kering, menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi kebun sekolah.

Desainnya sederhana namun fungsional: sampah organik dimasukkan melalui pintu di sisi tong, lalu tong diputar secara berkala agar proses penguraian berjalan merata.

Saya yang penasaran mencoba memutarnya sendiri. “Berat juga ya,” ucap saya sambil tersenyum, merasakan beban material di dalamnya. Suasana pun mencair, disambut tawa kecil dari siswa dan guru yang mendampingi.

Menurut Ustazah Athiq, komposter ini menjadi bagian penting dari siklus pengelolaan lingkungan di SDMM—melengkapi pengelolaan sampah plastik yang hasilnya disedekahkan dan kebun toga yang menjadi sarana belajar.

Di sela peninjauan, mata saya tertuju pada pagar kawat yang di beberapa ruasnya diberi penutup dari fiber. Saya pun menyampaikan kepada Ustazah Athiq, alangkah baiknya jika penutup itu diganti dengan tanaman rambat seperti Lee Kuan Yew (Vernonia elliptica), yang selain memperindah tampilan juga dapat menjadi peneduh alami. Ia pun mengangguk-angguk, seraya berjanji akan mengeksekusi usul tersebut.

Lukisan dari Bubur Kertas Daur Ulang

Setelah itu, kami dikejutkan oleh sebuah lukisan kaktus berwarna hijau dengan bunga merah yang ternyata memiliki kisah unik. Karya ini lahir dari proses kreatif yang panjang dan ramah lingkungan.

Baca Juga:  Membongkar Kaitan Erat Komposisi Bilangan dan Kemampuan Membaca Waktu di Kelas Jepang

Khayla Quanika Marlene menerangkan, di SDMM, kertas bekas yang sudah tidak terpakai dikumpulkan, lalu dimasukkan ke mesin penghancur hingga menjadi potongan kecil. “Potongan-potongan kertas itu kemudian direndam dan diremas bersama air hingga menjadi bubur kertas,” jelasnya.

Bubur ini lalu diberi aneka warna sesuai desain yang direncanakan, kemudian langsung diaplikasikan di atas kanvas berukuran 30 x 30 sentimeter untuk membentuk lukisan bertekstur.

Tekstur asli bubur kertas memberi dimensi berbeda pada lukisan, membuat gambar kaktus hijau dengan bunga merah itu tampak hidup. Ustazah Athiq menambahkan, lukisan anak-anak ini dipajang di berbagai ruang SDMM, termasuk UKS.

Lukisan Bubur Kertas Daur Ulang. Kader Tiwisada Khayla Quanika Marlene (kiri) menunjukkan lukisan kaktus bertekstur karya siswa SDMM dari bubur kertas daur ulang (Tagar.co/Mardliyatul Faizun)

Kami sebagai juri sangat mengapresiasi karya ini karena memadukan seni dan prinsip ramah lingkungan. Namun, seperti disampaikan rekan juri, Bu Erna, yang menjabat Kepala Bagian Pusat Studi Eksakta dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Gresik, hasilnya akan lebih sempurna jika pewarna yang digunakan berasal dari bahan alami, seperti merah buah naga, hijau daun pandan, atau kuning kunyit.

Kunjungan kami di SDMM berakhir dengan kesan mendalam. Bukan hanya karena inovasi-inovasi yang ditampilkan, tetapi karena semangat sekolah ini dalam membangun budaya lingkungan yang nyata.

Di sini, edukasi tentang keberlanjutan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hidup dalam setiap sudut sekolah—dari pengelolaan sampah, kebun toga, komposter, pemanfaatan air leri, hingga karya seni daur ulang. 

Sebagai juri dai unsur Majelis Dikdasmen PNF PDM Gresik, saya menyarankan agar kegiatan-kegiatan ini tidak berhenti hanya untuk dipamerkan saat lomba, tetapi terus berkelanjutan dan menjadi ciri khas sekaligus budaya sekolah.

Dengan begitu, pesan lingkungan yang diusung SDMM dapat benar-benar mengakar dan memberi inspirasi bagi sekolah-sekolah lainnya. (#)

Jurnalis Mohammad Nurfatoni