
Di tengah hiruk pikuk distraksi zaman, Konpida IPM Surabaya 2025 hadir merajut cita dan asa 14 cabang pelajar Muhammadiyah. Bukan sekadar forum konsolidasi, tapi jalan pulang ke diri sendiri.
Tagar.co – Suasana aula SMA Muhammadiyah 3 Surabaya, Sabtu (21/6/2025), penuh energi muda. Sebanyak 14 Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dari berbagai penjuru Surabaya—Kenjeran, Tambaksari, Karang Pilang, hingga Wiyung—berkumpul dalam satu irama di Konferensi Pimpinan Daerah (Konpida) IPM Surabaya 2025.
Mengusung tema “Elaborasi Digdaya: Manunggal Cita dan Asa, Memayu Hayuning Bawana,” forum ini menjadi ruang refleksi kolektif dan upaya merajut kembali benang merah cita-cita gerakan pelajar Muhammadiyah Surabaya yang sempat terpecah oleh dinamika organisasi.
IPM: Bukan Sekadar Organisasi
Dalam sambutan pembuka, Liset Ayuni, Sekretaris Umum Pimpinan Wilayah IPM Jawa Timur, menegaskan makna bertahan di IPM sebagai jalan pulang ke diri sendiri.
“IPM bukan sekadar organisasi. Ia adalah kendaraan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita. Di sini kita belajar memikul tanggung jawab, melatih kepemimpinan, belajar ikhlas, dan bertumbuh meski dalam keterbatasan,” ungkap Liset.
Ia menambahkan, meski IPM tak menggaji secara materi, justru di situlah nilai berharga muncul.
“Soft skill, jejaring, ruang bertumbuh—semua itu gaji nonmateri yang menyiapkan kita menghadapi masa depan. Rasa sibuk sering kali hanya alasan. Ketika amanah datang, artinya Allah sedang mengundang kita naik kelas,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.
Liset menutup pesannya dengan pengingat spiritual, “Allah sudah menjanjikan dalam Surah Muhammad ayat 7: siapa menolong agama-Nya, akan ditolong dan diteguhkan kedudukannya. Jadi, jangan ragu. Janji Allah pasti nyata.”
Membumikan Semangat Bung Tomo di Jalan IPM
Semangat menautkan langkah juga disampaikan Agung Wahyu, Ketua Umum PD IPM Surabaya. Baginya, tema Konpida tahun ini lahir dari kerinduan untuk memulihkan rasa kebersamaan dan arah gerakan.
“Kita ingin menjawab apa yang hilang: rasa kebersamaan dan ruh gerakan. Lewat tema ini, kita satukan kembali semangat, mewarisi keberanian Bung Tomo, tapi dengan cara dakwah pelajar,” jelasnya.
Agung menegaskan, dalam IPM tidak ada cabang yang lebih tinggi dari yang lain. Semua pimpinan cabang adalah saudara seperjuangan yang berjalan bersama dalam dakwah dan penguatan literasi di lingkungan masing-masing.
Diskusi lintas cabang yang digelar sepanjang Konpida pun membuktikan hal itu. Praktik baik dalam dakwah pelajar, literasi digital, hingga kontribusi sosial di komunitas lokal saling dibagikan untuk menjadi inspirasi bersama.
Digdaya, Manunggal, dan Memayu Hayuning Bawana
M. Jemadi, S.Ag., M.A., Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya, menutup rangkaian sambutan dengan penegasan makna tema besar Konpida.
“Digdaya bukan sekadar kuat, tetapi kuat lahir dan batin. Manunggal cita dan asa berarti mimpi dan harapan harus sejalan. Sedangkan memayu hayuning bawana adalah tekad kita memperbaiki dunia melalui ilmu dan akhlak,” tuturnya.
Beliau pun berpesan agar kader IPM tak lupa pada teladan para pendahulu Muhammadiyah.
“Presiden pertama kita kader Muhammadiyah. Presiden kedua sekolah di Muhammadiyah. Artinya, kalian pun bisa hebat, asal tidak dikendalikan teknologi. Gunakan gawai untuk menebar kebaikan,” pesan Jemadi.
Konpida IPM Surabaya 2025 menjadi pengingat bahwa bertahan di IPM bukan hanya bertahan pada struktur, tetapi bertahan pada cita-cita: pulang ke diri sendiri sebagai insan pembelajar, pelopor, dan pelayan umat. (#)
Jurnalis Erminah Dwi Penyunting Mohammad Nurfatoni












