
Liburan berarti punya lebih banyak waktu luang. Di Sabtuan Al-Fattah, Ustaz Ainun Rofik berpesan agar waktu itu dijaga, diisi dengan hal positif, dan mendatangkan berkah.
Tagar.co — Suasana Pondok Pesantren Al-Fattah, Sabtu pagi (21/6/2025), tampak berbeda dari biasanya. Usai salat Duha, para santri berkumpul rapi di halaman utama pondok, mengikuti kegiatan rutin Sabtuan yang diisi dengan tausiah motivasi.
Sabtuan memang menjadi tradisi pekanan yang digelar sebelum pembelajaran dimulai. Tujuannya sederhana tetapi penting: memompa semangat belajar dan mengingatkan santri agar selalu bijak memanfaatkan waktu, terutama menjelang liburan panjang.
Baca juga: Al-Fattah Sidoarjo: Pelepasan Santri Sarat Pesan untuk Masa Depan
Pada kesempatan kali ini, Drs. K.H. Ainun Rofik, M.Pd., Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fattah, hadir langsung menyampaikan pesan-pesan inspiratif. Dengan tutur lembut tetapi tegas, Ustaz Ainun mengingatkan pentingnya menjaga waktu luang agar tak terbuang sia-sia.
“Jangan sia-siakan liburanmu dengan hal yang tak bermanfaat,” ujarnya. “Gunakan untuk hal positif: olahraga, membaca buku, atau ikut kegiatan sosial yang mendatangkan manfaat.”
Dia mencontohkan jika ingin menyalurkan hobi balapan motor, hendaknya memilih jalur resmi, bukan balapan liar di jalan umum.
“Boleh saja balapan, asal resmi dan terorganisasi. Itu jauh lebih bermanfaat. Jangan balapan liar. Tak ada asuransi yang menanggung risiko, malah membahayakan diri sendiri dan orang lain,” pesannya, yang langsung disambut anggukan para santri.
Di hadapan ratusan santri, Ustaz Ainun menekankan bahwa hidup manusia dibatasi waktu. Setiap kegiatan, sekecil apa pun, sebaiknya dilandasi niat yang benar: meraih ridla Allah Swt.
“Segala aktivitas harus ada tujuannya, harus bermanfaat, dan diniatkan untuk mencari ridla Allah. Dengan begitu, insyaallah semua bernilai ibadah,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tanggung jawab santri selama masa liburan. Tugas-tugas yang diberikan pesantren harus dilaksanakan sebaik mungkin sebagai bentuk tanggung jawab pada diri, orang tua, dan Sang Pencipta.
Dia mengingatkan agar amalan-amalan khas santri tetap dijaga, meski sedang di rumah. Shalat berjemaah, puasa Senin-Kamis, tahajud, menjaga kebersihan, dan menghormati orang tua harus tetap menjadi bagian dari keseharian.
“Teruslah semangat menjalankan kebiasaan baik, karena di situlah letak kekuatan seorang santri. Dan jangan lupa berbakti kepada orang tua. Itu kewajiban anak saleh,” tuturnya.
Rangkaian Sabtuan pagi itu pun diakhiri dengan doa bersama. Para santri tampak antusias, pulang dengan segenggam motivasi baru untuk meraih prestasi — di sekolah, di rumah, dan di mana pun mereka berada. (*)
Jurnalis Nur Djamilah Penyunting Mohammad Nurfatoni












