
Pada hari terakhir Safari Ramadan, Ipmawati MBS Madinatul Ilmi Smamsatu mengajak siswi UPT SMP Negeri 1 Gresik memaknai Ramadan bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi momentum perubahan diri.
Tagar.co — Hari terakhir Safari Ramadan 2026 yang digelar Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) MBS Madinatul Ilmi SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik, Jawa Timur, berlangsung hangat di UPT SMP Negeri 1 Gresik (Spensagres), Senin (9/3/2026).
Baca juga: Safari Ramadan di Spensagres, Ipmawati MBS Madinatul Ilmi Smamsatu Tanamkan Kejujuran dan Empati
Pada pukul 10.30 WIB, empat Ipmawati—panggilan akrab aktivis IPM perempuan—berangkat menuju Spensagres menggunakan mobil bergambar robot biru khas Smamsatu. Semangat mereka terasa lebih membara di hari terakhir kegiatan ini.
Persiapan materi telah dimatangkan sejak malam sebelumnya melalui pendampingan intensif bersama Ustazah Nanda Nova Nur Hayati.

Setibanya di lokasi, pada pukul 11.00 WIB para Ipmawati langsung memasuki aula Spensagres untuk memulai kegiatan penutup Pondok Ramadan.
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Berbeda dengan hari sebelumnya, tadarus kali ini diwakilkan oleh siswi Spensagres Farisah Qurrota A’yun. Lantunan ayat yang dibacakannya dengan suara merdu menghadirkan suasana khidmat dan menyejukkan hati para peserta.

Rutinitas atau Perubahan?
Usai pembacaan Al-Qur’an, Ipmawati Rindang Farihah Idana menyampaikan materi bertajuk “Ramadan: Rutinitas atau Perubahan?” Ia membuka penyampaian materi dengan pertanyaan sederhana kepada para siswi kelas VII.
“Apa itu rutinitas?” tanyanya.
Para siswi serentak menjawab bahwa rutinitas adalah kegiatan yang dilakukan secara berulang.
Baca juga: Safari Ramadan Smamsatu di Spensagres: Tutor Sebaya Tebar Energi Ramadan
Rindang kemudian menjelaskan bahwa banyak kebiasaan di bulan Ramadan yang terkadang hanya dilakukan sekadar rutinitas tanpa makna, misalnya mengaji hanya ketika mendapat tugas dari guru.
“Seharusnya kita tetap mengaji meskipun tidak mendapat tugas. Bahkan satu halaman pun tidak masalah, yang penting istiqamah,” jelasnya.
Ia kemudian menegaskan bahwa esensi Ramadan bukan sekadar menjalankan ibadah rutin, tetapi menghadirkan perubahan dalam diri.
“Perubahan adalah ketika setelah Ramadan kita menjadi pribadi yang lebih baik. Meskipun tidak langsung sempurna, tetapi harus ada peningkatan,” ujarnya.

Botak, Batik, Batuk
Agar suasana tidak monoton, Ipmawati Adinda Dwi Martin menyelipkan permainan ice breaking bertajuk “Botak, Batik, Batuk”. Dalam permainan tersebut, peserta harus mengikuti instruksi cepat: saat disebut “botak” peserta memegang kepala, “batik” memegang pundak, dan “batuk” menutup mulut.
Suasana aula pun menjadi lebih hidup. Para siswi tampak antusias mengikuti permainan meskipun waktu sudah mendekati siang hari. Haajidah Putri Hernisyah, salah satu siswi di barisan depan bahkan, sempat salah mengikuti instruksi sehingga diminta maju ke depan sebagai konsekuensi permainan.
Namun, dengan percaya diri ia mampu menyebutkan kembali beberapa poin materi yang telah disampaikan pemateri. Atas keberaniannya, ia mendapatkan hadiah yang telah disiapkan oleh para Ipmawati.

Latihan Mengontrol Diri
Materi kemudian dilanjutkan oleh Ipmawati Zafirah Zahida Zara yang mengajak peserta memahami makna Ramadan sebagai latihan mengontrol diri.
Ia menjelaskan bahwa selama Ramadan seseorang belajar menahan lapar, haus, emosi, dan rasa malas. Namun, puasa akan kehilangan makna jika masih disertai perilaku tercela seperti berkata kasar, menghina orang lain, berbohong, atau menyakiti hati sesama.
“Ramadan adalah kesempatan untuk melakukan riset diri,” ujarnya.
Menurutnya, perbaikan diri dapat dimulai dari tiga hubungan penting: memperbaiki hubungan dengan Allah melalui salat dan doa, memperbaiki hubungan dengan orang tua melalui sikap hormat dan taat, serta memperbaiki hubungan dengan teman dengan menghindari ejekan dan perundungan.
Ia juga mengajak peserta mengganti kebiasaan buruk dengan kebiasaan baik melalui refleksi diri.
Pada sesi refleksi tersebut, seorang siswi bernama Khairina Qistina Sofia yang sejak awal didorong oleh teman-temannya akhirnya maju ke depan untuk menyampaikan refleksi. Keberaniannya pun mendapat apresiasi berupa hadiah dari panitia. Wajah Vivi tampak sumringah saat menerima hadiah tersebut.
Kegiatan Safari Ramadan hari ketiga ini ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta di aula Spensagres. Para ipmawati dan siswi Spensagres juga mengabadikan momen dengan video bersama sambil meneriakkan jargon kebanggaan masing-masing sekolah: “Smamsatu, Be The First!” dan “Spensagres, Mengakar Kuat, Menjulang Tinggi!”
Dengan demikian, rangkaian Safari Ramadan IPM MBS MI Smamsatu tahun 2026 resmi berakhir, meninggalkan pesan kuat bahwa Ramadan bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan momentum perubahan menuju pribadi yang lebih baik. (#)
Jurnalis Zada Kanza Makhfiya Mohammad | Penyunting Mohammad Nurfatoni












