Opini

Gangguan Komunikasi Publik pada Anak, Begini Cara Mengatasinya

65
×

Gangguan Komunikasi Publik pada Anak, Begini Cara Mengatasinya

Sebarkan artikel ini
Gangguan komunikasi pada anak bisa muncul saat beragumentasi di depan publik karena tak mampu menghadapi tekanan situasi.
Melatih anak berargumentasi.

Gangguan komunikasi publik pada anak bisa muncul saat beragumentasi di depan publik karena tak mampu menghadapi tekanan situasi.

Oleh Bening Satria Prawita Diharja, Guru SMP Muhammadiyah 1 Gresik

Tagar.co – Kita sering mendapati murid kesulitan dalam berargumen atau mengutarakan pendapat ketika ditanya.

Atau kasus seperti ini. Ketika duduk di bangkunya siswa banyak sekali bicara. Namun ketika ditunjuk maju dan diberi pertanyaan malah diam seribu bahasa.

Anak-anak itu masih dalam fase remaja awal rentang usia 13 – 15 tahun. Terkadang mempunyai keterbatasan dalam mengutarakan pendapat kepada publik. Kondisi tersebut dinamakan selective mutism (SM) atau mutisme selektif.

Selective mutism merupakan gangguan berkomunikasi yang biasanya dijumpai pada anak yang memilih tidak berbicara pada situasi menghadapi tekanan atau orang tertentu di depan umum meskipun ia mampu.

Pada kongres tahunan tahun 2000, pakar dari American Psychiatric Association (APA) mengemukakan selective mutism digolongkan sebagai gangguan kecemasan yang dialami anak-anak dengan ciri tidak berbicara atau merespon komunikasi verbal ketika berada dalam situasi sosial seperti di sekolah atau lingkungan baru.

Siswa dengan ciri tersebut mampu berkomunikasi di lingkungan yang aman seperti di rumah, tetapi mengalami hambatan dalam situasi sosial lainnya.

Baca Juga:  Nakhoda Baru PSTI Gresik dan Misi Besar Podium Juara Sepak Takraw

Gangguan ini dapat berdampak pada prestasi pendidikan dan relasi sosial anak lainnya.

Karakteristik anak yang mengalami selective mutism berdasarkan disorder and statistical manual of mental disorder yaitu:

  1. Kegagalan berbicara pada situasi sosial spesifik misalnya di sekolah atau berbicara di situasi lainnya.
  2. Gangguan pencapaian pendidikan atau pekerjaan atau komunikasi sosial.
  3. Kegagalan untuk berbicara tidak disebabkan oleh tidak adanya pengetahuan, atau nyaman dengan bahasa yang digunakan dalam berbicara pada situasi sosial.
  4. Gangguan komunikasi (misalnya gagap), gangguan perkembangan pervasif, skizofrenia, serta gangguan psikotik lainnya.

Beberapa faktor penyebab selective mutism yaitu meliputi faktor biologis (genetik), psikologis (psikoanalisis, proses belajar, cara individu menaksirkan pengalaman) dan sosial (mobilitas geografi maupun pola asuh).

Lalu bagaimana peran kita sebagai guru atau pengajar di kelas dalam menghadapi problematika siswa karena selective mutism.

Seperti yang kita ketahui, menurut Howard Gardner seorang profesor dan psikolog Universitas Harvard  mengatakan, manusia mempunyai sembilan kecerdasan majemuk atau multiple intelegence yang meliputi kecerdasan linguistik, kecerdasan logis-matematik, kecerdasan spesial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalistic, dan kecerdasan ekstensial.

Baca Juga:  Umbulan Tempursari: Primadona Wisata Air Murah di Lumajang

Gangguan selective mutism yang dialami oleh murid pasti akan menghambat kecerdasan linguistik yang berisikan tentang kemampuan individu untuk menggunakan bahasa dengan efektif, baik dalam berbicara, menulis, membaca, maupun mendengarkan.

Seseorang dengan kecerdasan ini cenderung memiliki kemampuan yang kuat dalam memahami, menganalisis, dan menggunakan bahasa untuk menyampaikan pesan dengan jelas dan efektif.

Di era masa kini dengan berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan yang semakin kompleks murid di kelas mendapatkan tekanan untuk menguasi empat kompentensi abad 21 yang meliputi Creativity, Colaborasi, Critical Thingking, dan Communication.

Sehingga pendekatan dalam setiap permasalahan yang dimiliki oleh siswa dikelas mempunyai teknik, strategi serta solusi sebuah permasalahan terutama menyangkut selective mutism.

Berikut beberapa kiat yang dirangkum oleh penulis dalam menghadapi siswa yang memiliki selective mutuism:

  1. Guru berkolaborasi dengan orang tua untuk melakukan cognitive behavior theraphy (CBT).

CBT merupakan sebuah terapi bicara yang digunakan untuk membantu siswa mengelola masalah dengan mengubah cara berpikir (Mindset) dan berperilaku (attitude).

Diharapkan dengan CBT peserta didik dapat lancar dalam mengutarakan sepatah demi kata ketika berkomunikasi.

  1. Guru dan orang tua secara proaktif memberikan pendampingan kepada siswa yang mengalami selective mutuism.
Baca Juga:  Nilai Spiritualitas dalam Pendidikan

Bisa jadi siswa yang mengalami kondisi tersebut hanya ingin mempunyai teman untuk mengutarakan isi hati tanpa takut dibully oleh oranglain.

  1. Mengurai problem besar yang dimiliki oleh peserta didik menjadi tujuan kecil yang dapat dicapai sesuai kemampuan peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran yang mengajak peserta didik proaktif di dalamnya seperti PJBL (pembelajaran project based learning), PBL (Problem Based learning), Blended learning serta TPACK (technological, paedogogical and Content Knowledge).

Guru memiliki peran penting dalam menangani selective mutuism karena gejala dari gangguan ini terdeteksi di sekolah.

Kesediaan guru untuk berkolaborasi dengan orang tua memengaruhi hasil dari inovasi yang dilakukan.

Guru dapat memberikan penguatan positif ketika anak mampu berbicara di sekolah atau berpartisipasi dalam strategi yang akan digunakan.

Memang dalam perjalanan proses pembelajaran disekolah pasti akan ada hambatan dalam menyelesaikan selective mutuism yang dialami murid namun meski begitu masih dapat dilalui apabila dilakukan dengan tekun dan konsisten. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto