Opini

Nilai Spiritualitas dalam Pendidikan

208
×

Nilai Spiritualitas dalam Pendidikan

Sebarkan artikel ini
Nilai spiritualitas seperti beribadah, kejujuran, tanggung jawab, dan kemandirian yang diajarkan di sekolah membuat pelajar tetap kompetitif tanpa kehilangan identitas sebagi pelajar yang bermoral.
Pendidikan spiritual seperti salat berjemaah membentuk karakter unggul.

Nilai spiritualitas seperti beribadah, kejujuran, tanggung jawab, dan kemandirian yang diajarkan di sekolah membuat pelajar tetap kompetitif tanpa kehilangan identitas sebagai pelajar yang bermoral.

Oleh Bening Satria Prawita Diharja M.Pd, Guru PJOK SMP Muhammadiyah 1 Gresik

Tagar.co – Pendidikan merupakan tiang utama dalam membangun sebuah bangsa. Semakin bagus sistem pendidikan di negara tersebut, masa depan bangsa bisa terang.

Di balik pencapaian penting serta torehan prestasi akademik maupun non akademik yang diraih pelajar seperti di Indonesia, terdapat sejumlah problem yang memerlukan perhatian.

Jika menoleh ke belakang, beberapa tahun terakhir ini muncul fenomena yang menjadi problem dalam dunia pendidikan Indonesia. Perudungan, pergaulan bebas, kekerasan, judi, hingga Narkoba hampir mmewarnai problem sekolah. Mulai SD hingga perguruan tinggi.

Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat 601 kasus kekerasan yang diawali perundungan terjadi di sekolah hingga November 2025.

Di lain itu, kasus penyalahgunaan Narkotika yang diiringi praktik perjudian menunjukkan tren peningkatan hingga 57% di tahun 2025 dengan remaja sebagai pelaku utamanya.

Yang mencengangkan, seks bebas melonjak hingga 49% di tahun itu. Sungguh ironi bagi negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar versi Global Muslim Population (2025) dan The World’s 500 Most Influential (Muslims 2026). Posisinya di atas Pakistan dan India.

Pengaruh Teknologi Digital

Ini menjadi tantangan bagi pendidik untuk menyelesaikan problem tersebut. Perkembangan teknologi membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan termasuk pendidikan. Dengan hanya sekali klik, konten dari seluruh dunia tersedia tanpa batasan ruang dan waktu.

Baca Juga:  Healing Sejati

Sayangnya, keterbukaan ini mengandung risiko besar. Konten negatif masuk tanpa filter membombardir dari segala lini. Degradasi moral pun tak terelakkan. Kasus perudungan, pergaulan bebas, kekerasan, judi hingga narkoba seperti lumrah di kalangan pelajar.

Miris! Penelitian menempatkan pelajar sebagai kelompok paling terdampak dari degradasi moral di era digital. Masa pencarian jati diri dan keingintahuan tinggi yang tidak dibarengi dengan bimbingan nilai-nilai spiritual membuat mereka rentan terjerumus ke dalam perilaku menyimpang.

Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad Saw membawa misi dakwah Islam untuk meyempurnakan akhlak dan mengupayakan pembentukan akhlak yang baik (good character). Ribuan tahun setelah itu rumusan tujuan pendidikan Indonesia membentukan manusia cerdas beriman dan menguasai teknologi.

Pendidikan di sekolah merupakan proses pengembangan potensi kemampuan siswa secara menyeluruh yang pelaksanaannya dilakukan dengan cara mengajarkan ilmu pengetahuan dan kecakapan yang dibutuhkan oleh manusia untuk menuju terbentuknya kepribadian yang utama, termasuk pendidikan karakter berbasis spiritualitas.

Sekolah Muhammadiyah

Sekolah Muhammadiyah mengenalkan pendidikan karakter berbasis spiritualitas dilakukan secara holistik pada siswa. Konsep pendidikan ini tidak hanya mencakup pembentukan kepribadian yang baik, tetapi juga menerapkan integritas moral dan spiritual.

Beberapa contoh progam pengaplikasian pendidikan spiritualitas di sekolah Muhammadiyah yang pertama adalah salat berjemaah dan salat Duha.

Salat berjemaah yang rutin dilakukan oleh siswa adalah salat Zuhur dan Asar. Salat Duha bersama dilakukan pada jam istirahat dalam waktu sekitar10 menit.

Bagi sekolah Muhammadiyah, salat berjemaah dan salat Duha sebuah solusi pendidikan spiritualitas yang komprehensif. Tidak hanya sebagai bentuk kepatuhan kepada Tuhan, tetapi juga sebagai mekanisme pembentukan karakter, disiplin diri, dan ketenangan jiwa.

Baca Juga:  Ijazah Palsu Menurut KUHP Baru

Sebuah studi penelitian terdahulu menunjukkan, salat yang ditegakkan dengan benar memiliki efek yang signifikan terhadap pembinaan moral seseorang. Terutama dalam mengendalikan nafsu, meningkatkan kesadaran spiritual, dan membiasakan diri untuk taat.

Salat menciptakan pengalaman berulang yang mengikat hati kepada Allah melalui rangkaian zikir, bacaan, dan gerakan yang diatur, serta menanamkan rasa malu untuk yang melanggar aturanNya (Nurfadliyati, 2020).

Penyimpangan moral yang mencakup perudungan, pergaulan bebas, kekerasan, judi, hingga Narkoba dapat ditekan dengan kegiatan spiritualitas ini. Kebiasaan ini harus diteruskan di rumah dengan bimbingan orang tua.

Puasa

Aplikasi pendidikan spiritualitas kedua adalah pembiasaan berpuasa. Puasa Ramadan, puasa Syawal, puasa Senin Kamis menjadi sarana pembinaan ruhani yang berfungsi sebagai perisai (junnah) untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar. Puasa melatih pengendalian diri, disiplin, dan kejujuran.

Surat Yusuf ayat 53 menjelaskan Dan aku tidak (pula) membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Puasa bertujuan membentuk takwa yang membentengi diri dari hawa nafsu dan dosa. Terjadinya perudungan, pergaulan bebas, kekerasan, judi hingga Narkoba akibat siswa tak sanggup menahan hawa nafsu.

Pembiasaan puasa yang dilakukan bersama di sekolah mempunyai tujuan meningkatkan kesehatan mental, meningkatkan kepedulian sosial, hingga empati dalam diri siswa.

Membaca Quran

Baca Juga:  Umbulan Tempursari: Primadona Wisata Air Murah di Lumajang

Pendidikan spiritualitas ketiga adalah membaca dan memahami Al-Qur’an atau tadarus di sekolah setiap pagi hari sebelum memulai pelajaran.

Dalam Majalah Madrasatul Quran Times Edisi 1 ada artikel ditulis oleh HM Mujab, MTh, Ph.D, menjelaskan, kata tadarus berasal dari kata darasa (دَرَسَ) yang memiliki arti belajar. Disisipi huruf ta (ت) pada awal kata yang mengubah arti menjadi mempelajari bersama.

Perintah ini tercantum dalam surahMuhammad ayat 24. Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?

Pengaplikasian tadarus Al-Qur’an bersama di sekolah di pagi hari sebelum memulai pelajaran untuk menghafal surah Al-Quran dan memohon rahmat dan keberkahan Allah. Ilmu yang didapatkan dengan niat baik dan diawali dengan ibadah lebih mudah dipahami dan bermanfaat dalam kehidupan dunia akhirat. Keberkahan ini tidak hanya dirasakan oleh siswa dan guru, tetapi juga oleh seluruh proses pendidikan di sekolah tersebut.

Peran spiritualitas dalam pendidikan diperlukan dalam membangun individu yang tangguh, mandiri, dan bermoral di tengah tantangan ledakan era digital.

Sebuah survei menyebutkan, wali murid lebih memilih sekolah berbasis pendidikan spiritualitas sebagai untuk putra-putrinya mulai SD hingga sekolah menengah.

Integrasi nilai-nilai spiritualitas seperti beribadah, kejujuran, tanggung jawab, dan kemandirian memungkinkan pelajar tetap kompetitif secara global tanpa kehilangan identitas sebagai pelajar yang bermoral dan integritas.

Pendekatan holistik yang menggabungkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, pendidikan  mampu membentuk generasi yang unggul dalam penguasaan teknologi dan berkomitmen pada nilai-nilai moral. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto