Telaah

Ramadan Hampir Usai, Jangan Jadi Orang yang Pailit

35
×

Ramadan Hampir Usai, Jangan Jadi Orang yang Pailit

Sebarkan artikel ini
Sapto Suhendro di sebuah acara

Ramadan segera berlalu. Kini saatnya memacu amal ibadah seperti kuda pacu menjelang garis akhir. Jangan sampai berakhir pailit di akhirat meski amal tampak banyak.

Oleh Sapto Suhendro, S.Ag., M.Pd.; Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pemalang, Jawa Tengah.

Tagar.co – Ramadan tahun ini hampir mencapai penghujungnya. Inilah masa penuh ampunan, saat diwajibkannya puasa, waktu diturunkannya Al-Qur’an, dan momen yang menyimpan satu malam lebih baik daripada seribu bulan.

Beberapa hari lagi, ia akan meninggalkan kita. Waktu terasa berlalu begitu cepat. Kita patut bersyukur kepada Allah Swt. yang Maha Penyayang, karena telah memberi kita kesempatan untuk meraih ampunan di bulan suci ini.

Baca juga: Kesedihan para Alim di Pengujung Ramadan

Bagaimana kita memaksimalkan kesempatan berharga ini? Bagaimana kita mengisi detik-detik akhir Ramadan dengan amal terbaik, sekaligus mempersiapkan diri menyambut Syawal agar kesempurnaan Ramadan benar-benar kita raih?

Al-Imam Ibnu al-Jauzi rahimahullah pernah berkata, “Seekor kuda pacu, ketika mendekati garis akhir, akan mengerahkan seluruh tenaganya demi kemenangan. Maka, jangan sampai kuda lebih cerdas darimu. Sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya. Jika engkau tidak baik dalam penyambutan, semoga engkau bisa berbuat yang terbaik saat perpisahan.”

Ibarat kuda pacu, di penghujung Ramadan ini kita seharusnya semakin giat memperbanyak ibadah kepada Allah Swt. Apa yang telah berlalu, kita perbaiki. Apa yang tersisa, kita maksimalkan. Salat kita tingkatkan, tilawah Al-Qur’an kita perbanyak, infak dan sedekah kita keluarkan dengan sepenuh hati, serta kebaikan lainnya kita lakukan dengan sungguh-sungguh.

Baca Juga:  Arab Saudi Puasa Ramadan Bareng Muhammadiyah

Semua itu agar kita dapat mengakhiri Ramadan tanpa penyesalan. Karena belum tentu kita masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan Ramadan tahun depan.

Ibadah Ramadan kita tutup dengan zakat fitrah—sebagai sarana menyucikan jiwa dan menyempurnakan ibadah kita selama sebulan penuh. Jika kita amati, rangkaian ibadah Ramadan mulai dari puasa, salat tarawih, hingga zakat fitrah, semuanya mencerminkan hubungan vertikal antara hamba dan Tuhannya (hablunminallah). Dan ketika hubungan kita dengan Allah telah baik, maka saatnya memperkuat hubungan horizontal kita dengan sesama manusia (hablun minannas).

Karenanya, setelah Ramadan berakhir dan Syawal menyapa, sudah semestinya kita lebih giat menjaga hubungan baik dengan sesama. Memaafkan dan saling meminta maaf menjadi agenda penting. Baik melalui kunjungan silaturahmi, pertemuan keluarga, maupun dalam bentuk halal bihalal yang dikemas dengan akrab dan hangat.

Namun, jangan sampai kita termasuk golongan orang yang bangkrut di akhirat, sebagaimana digambarkan dalam hadis Rasulullah Saw. yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra.

Beliau bersabda: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”

Para sahabat menjawab, “Menurut kami, orang bangkrut adalah orang yang tidak punya dirham dan harta benda.”

Rasulullah Saw. lalu bersabda: “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi ia pernah mencaci si fulan, menuduh si fulan, memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, dan memukul si fulan. Maka, diberikanlah pahala-pahalanya kepada mereka yang pernah ia zalimi. Jika pahalanya habis sebelum selesai semua tuntutan, maka dosa-dosa mereka akan dipindahkan kepadanya, lalu ia dicampakkan ke dalam neraka.” (H.R. Muslim dan Tirmizi)

Baca Juga:  Gebyar Ramadan, Muhammadiyah Dukun Gelar Pawai

Hadis ini menjadi pengingat keras: sehebat apa pun ibadah seseorang, jika ia masih menyakiti sesamanya, maka ia tetap akan menghadapi tuntutan berat di akhirat. Bahkan bisa jadi seluruh pahalanya habis tak bersisa sebelum ia masuk surga.

Mari kita memohon kepada Allah Swt. agar diberi kesehatan dan kekuatan untuk terus memacu kuda amal kita di akhir Ramadan ini. Semoga ampunan dan keberkahan benar-benar kita raih, serta gelar insan bertakwa benar-benar layak kita sandang. Semoga kita juga mampu menjaga keseimbangan hubungan baik dengan Allah dan hubungan baik dengan sesama manusia. Allahualambisawab. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni