Cerbung

Kisah si Santri Mbeling: Kumohonkan Hidayah

68
×

Kisah si Santri Mbeling: Kumohonkan Hidayah

Sebarkan artikel ini
Kisah si Santri Mbeling
Ilustrasi Cerita Kisah si Santri Mbeling

Jangan coba-coba mimpi hanya jualan martabak dan pisang goreng bisa langsung melantai di bursa saham. Kita ini bukan anak bekas presidennya kawan.

Kisah si Santri Mbeling: Kumohonkan Hidayah (Seri 10); Cerbung oleh Qosdus Sabil

Tagar.co – Dalam setiap sujud di sepertiga malam, mari kita memohonkan hidayah turun buat mereka. Kita teladani sepenuh hati untuk selalu ittiba’ dengan keridaan hati terhadap Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Sesaat setelah dikuyo-kuyo di Thaif, datang Jibril berkata, “Wahai kekasih Allah… Jika Engkau mau, akan aku timpakan gunung ini untuk mereka yang mendurhakaimu?”

“Jangan, yaa Jibril!!! Mereka seperti itu karena mereka belum tahu. Aku masih berharap kelak dari antara anak keturunannya akan lahir generasi yang tangguh memperjuangkan agama ini.

“Allahummahdii qaumi fainnahum laa ya’lamuun” (Allahumma Yaa Allah, berikanlah hidayah kepada mereka. Mereka bersikap demikian karena mereka belum mengetahui dan memiliki pengetahuan tentang agama yang benar).

Kita doakan semuanya tanpa kecuali. Bahkan terhadap kartel-kartel matasipit aneka komoditas penting bagi kelangsungan hidup ummat manusia, untuk dapat hidayah.

Bahkan terhadap Opung, Jenderal-jenderal perwira tinggi TNI, Mas Dodo atau Dik Wapres, agar semuanya dapat hidayah.

Siapa yang bakal menyangka jika suatu hari nanti Tommy Winata, atau James Riady, atau Syamsul Nursalim dan nogo-nogo lainnya juga dapat hidayah.

Baca Juga:  Iuran Anggota Berbasis Ranting

Dan mari kita semua biasakan tirakat untuk kemaslahatan di negeri. Yaa muqallibal qulub tsabbit qalbi alaa diinik. Wahai Dzat Yang Membolakbalikkan hati, kokohkan keimanan kami di jalan agama-Mu . Alhamdulillah

‘Salah satu sunnah yang sering diabaikan adalah berdagang’. Di sektor perdaganganlah mengalir begitu banyak pintu-pintu rezeki. Juallah hanya produk komoditas atau jasa pelayanan terbaik dan berkualitas.

Mahal untuk sebuah kualitas adalah hal yang wajar. Mari kita edukasi warga agar membiasakan menghargai kualitas dengan benar.

Tidak sekadar mencari produk yang sekadarnya, apalagi yang murahan. Jangan coba-coba mimpi hanya jualan martabak dan pisang goreng bisa langsung melantai di bursa saham. Kita ini bukan anak bekas presidennya kawan.

Ada dua catatan saya terkait hobby dagang saya ini. Pertama, setidaknya dalam enam tahun terakhir ini, saat musim mangga, saya jualan mangga terbaik dari Lamongan.

Bukan Lamongan Kabupaten kampung asal saya. Namun, ini memang namanya sama, desa Lamongan di Kabupaten Situbondo Jawa Timur. Mangga yang biasa dicari para pejabat. Mangga yang quality control kebun dan agro processingnya  terjaga dengan disiplin tinggi demi menjaga kualitas produksi.

Baca Juga:  Sekolah Muhammadiyah, Kelas Menengah, dan Krisis Keberpihakan

Mangga dari jenis Arumanis dengan kode persilangan 143 memang sangat istimewa. Kelasnya masih diatas mangga klonal dari Bangil Pasuruan. Bedanya, produksi mangga klonal Pasuruan dilakukan secara lebih massal, sehingga mampu memenuhi mayoritas etalase mall dan toko buah.

Kualitas mangga seri 143 ini standar export. Sudah mendapat sertifikat Prima dari Kementan sejak 2014.

Dan telah terdaftar sebagai Good Agricultural Practice (GAP).

Siapa coba yang bisa menahan godaan melihat ranumnya buah mangga yang menggiurkan. Baru lihat fotonya saja langsung ngiler…

Saya mengenal dan tahu mangga ini dari Mbak Alifah. Dia juga adalah kontraktor, juga pedagang aneka bahan kebutuhan logistik di Jember dan sekitarnya

Kemudian, saya terhubung dengan Budi el-Risas adik kelas saya saat kuliah dulu. Setiap musim mangga, Budi yang seorang guru Muhammadiyah, biasa berdagang mangga Situbondo ke berbagai kota di Indonesia, khususnya masuk pasar Jakarta.

Bisnis perputaran tataniaga mangga ini begitu mencengangkan. Termasuk yang memanfaatkan pemasaran online melalui marketplace.

Dari niat hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, ternyata banyak yang suka. Keterusan dagang deh… hehehee

Kedua, Alhamdulillah saya bisa nimbrung meramaikan dan menggembirakan pemasaran SKMu. Memasuki usia kedua, SKMu alias Susu kambingMu ini lebih dari 90%-nya adalah pelanggan yang loyal. 5-7% pelanggan baru. Sisanya yang 3 % mungkin cuma coba-coba  saja.

Baca Juga:  Komandan Mirdasy dan Kebangkitan Kokam di Pusaran Reformasi

Itupun terkadang hanya karena kurangnya edukasi tentang keutamaan sunnah minum susu kambing. Ternyata ada juga yang takut minum susu kambing karena khawatir tensinya naik. Padahal beda sekali antara makan sate gule berlemak dengan susunya.

Namun, ada juga yang lapor sementara tidak minum SKMu karena sedang tinggi gulanya. Rupanya dia tidak paham bahwa rasa sedikit manis pada SKMu adalah dari gula jagung. Bukan gula tebu atau rafinasi.

Adalagi sahabat yang sementara stop minum SKMu karena sedang LDR dengan keluarganya di Kalimantan. Minum rutin SKMu pagi dan sore hari.

Badan segar bugar.

Stamina terjaga.

Apalagi jelang tahun politik yang penuh intrik.

“Mau ketemu Pak Carik kok ketemunya ama Pak Lurah.”

“Kalau mau barang yang terbaik. Jangan maksa cari yang murah.”

Salam hangat dari Ciputat

Sembari menikmati sepiring garangasem khas Kudus yang cetar membahana pedes asemnya. Monggo dipesan Mangga atau SKM-nya. Mohon maaf, belum buka PO untuk menu spesial garangasemnya.

 

Penyunting Ichwan Arif.